NarayaPost – Sebanyak 109 tiang monorel rampung dibongkar dan dirapikan oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta, sejak dimulai pada 14 Januari 2026.
“Rampung dibongkar.”
“Saya juga bersyukur, mengucapkan terima kasih kepada Bina Marga, tiang monorel yang berjumlah 109, sekarang ini per Hari Sabtu kemarin semuanya sudah terpotong dan dirapikan,” ungkap Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, usai rapat terbatas di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Pembongkaran tiang monorel ini merupakan bagian dari proyek penataan pedestrian di Jalan HR Rasuna Said.
Selanjutnya, Pemprov DKI mulai membangun pedestrian, selokan, dan taman di kawasan tersebut.
Pramono menargetkan pekerjaan penataan pedestrian ini rampung pada Juni 2026.
BACA JUGA: Tiang Monorel Bakal Dibongkar Tiap Malam, September Rampung
“Kita akan memulai untuk pembangunan tadi, mulai untuk pedestrian, selokan, taman, dan sebagainya.”
“Mudah-mudahan Bulan Juni, saya sudah memberikan target, untuk (tiang) monorel ini bisa diselesaikan,” tuturnya.
Seiring penataan pedestrian, Pramono juga menginstruksikan Satpol PP menertibkan pedagang kaki lima (PKL), baik liar maupun binaan, serta pengemudi ojek online yang memarkirkan kendaraan sembarangan di area pedestrian.
Penertiban ini juga salah satunya akan dilakukan di Jalan HR Rasuna Said.
“Kami meminta kepada jajaran Satpol PP untuk melakukan penertiban kepada PKL-PKL, apakah itu PKL liar maupun binaan, termasuk ojol.”
“Untuk tidak sembarangan memarkir kendaraan ataupun dagangannya di tempat-tempat yang akan ditata oleh Pemerintah DKI Jakarta,” imbuhnya.
Dipercepat
Sebelumnya, Pramono menginstruksikan jajaran terkait untuk mempercepat proses pembongkaran tiang monorel yang terbengkalai di Jalan HR Rasuna Said.
Awalnya ia menargetkan proses pembongkaran rampung pada September mendatang, dengan ritme pengerjaan satu tiang per hari.
“Saya minta dipercepat.”
“Jadi untuk tiang monorel, saya mencanangkan kan diselesaikan di Bulan September.”
“Tetapi setelah melihat kerjaan di lapangan, saya minta dipercepat,” cetus Pramono, di Hotel Aryaduta Menteng, Jumat (6/2/2026).
Setelah meninjau kondisi riil di lapangan, Pramono meminta proses pembongkaran dipercepat dengan pengerjaan empat hingga lima tiang dalam sehari.
BACA JUGA: Anggaran Rp100 Miliar Bukan Cuma untuk Bongkar Tiang Monorel
“Kalau dulu hanya satu tiang satu hari, saya minta enggak, kalau perlu 4-5 tiang sehari dan sekarang sudah dilakukan,” ucapnya.
Menurut Pramono, hampir seluruh tiang baja yang berdiri telah dibongkar.
Sehingga, proses pengerjaan saat ini dilakukan di struktur beton, yang diperkirakan membutuhkan waktu lebih lama.
Pramono kembali menegaskan, anggaran yang disiapkan sebesar Rp100 miliar merupakan total alokasi untuk penataan kawasan, termasuk pembongkaran tiang monorel, pembuatan jalan, pedestrian, taman, dan lain sebagainya.
“Rp100 miliar itu secara keseluruhan buat selokan, buat jalan, taman, pedestrian, dan sebagainya,” terangnya.
Dibangun Sutiyoso, Dibongkar Pramono
Tiang monorel dibangun pada 2004, pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, diresmikan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri.
Tiang monorel berdiri sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan hingga Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat.
Konsorsium PT Jakarta Monorail dan Omnico Singapura ditunjuk sebagai pelaksana proyek monorel.
Jalur awalnya dirancang sepanjang lima kilometer dari Casablanca hingga Karet dengan 14 titik pemberhentian.
Pada 2005, uji beban fondasi di jalur Asia Afrika terhenti karena kendala pendanaan.
Jakarta Monorail gagal memperoleh modal tambahan, karena pemerintah tidak turut serta dalam investasi.
Dari total nilai investasi sekitar US$ 670 juta, sebagian besar (sekitar US$ 470 juta) berasal dari pinjaman luar negeri.
Pada 2007, proyek mandek.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menghentikan proyek itu karena tidak ada kejelasan.
Adhi Karya sudah mengerjakan pembangunan 90 tiang beton sejak 2007. (*)