Narayapost — Lima Wilayah Indonesia Waspada Tsunami Imbas Gempa Filipina. Gempa besar berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah lepas pantai Filipina pada pagi hari ini, memicu peringatan dini tsunami di sejumlah kawasan di Indonesia. Berbagai skenario pemodelan menunjukkan bahwa gelombang laut berpotensi memukul wilayah pesisir di bagian timur Indonesia, sehingga masyarakat di lima wilayah diminta agar tetap waspada.
Menurut laporan BMKG, lima wilayah di Indonesia yang diperingatkan memiliki potensi terkena gelombang tsunami pasca gempa Filipina adalah Kepulauan Talaud, Kota Bitung, Minahasa Utara bagian selatan, Minahasa bagian selatan, serta Kabupaten Supiori (Papua). Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa data pemodelan menunjukkan adanya ancaman dengan status Waspada.
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa ini berpotensi tsunami, dengan tingkat ancaman Waspada di Kepulauan Talaud, Kota Bitung, Minahasa Utara bagian selatan, Minahasa bagian selatan, dan Supiori,” terang Daryono.
Gelombang tsunami, jika benar terjadi, bisa datang dalam hitungan menit hingga puluhan menit setelah gempa. Karena itu, BMKG meminta supaya masyarakat di kawasan pesisir segera menjauh ke daerah tinggi atau aman, terutama bagi mereka yang tinggal di garis pantai terpencil dan rawan.
BACA JUGA : Serangan Israel Berlanjut Setelah Gencatan Senjata
Kepulauan Talaud dan bitung berada di Sulawesi Utara, kawasan yang secara geografis dekat dengan wilayah Filipina. Minahasa dan Minahasa Utara adalah bagian dari Sulawesi Utara yang memiliki garis pantai panjang, sedangkan Supiori adalah pulau di Papua yang lekat dengan zona laut terbuka yang dapat menerima gelombang dari Samudera Pasifik. Wilayah Indonesia Waspada Tsunami Imbas Gempa Filipina
Walau statusnya hanya Waspada, bukan Siaga, dampak gelombang masih harus diperhitungkan terutama jika kedalaman laut atau topografi pantai mendukung penguatan gelombang. Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diminta tidak lengah dan memantau informasi resmi melalui saluran BMKG.
Di sisi lain, warga pesisir yang tinggal jauh dari titik gempa misalnya di wilayah barat Sumatra, Jawa, Kalimantan, atau Sulawesi barat dipandang memiliki risiko minimal terhadap gelombang tsunami dari kejadian ini, karena arah gelombang utama kemungkinan besar bergerak ke timur. Meski demikian, kewaspadaan tetap disarankan di seluruh daerah pesisir sebagai tindakan antisipasi umum.
Sejarah mencatat bahwa wilayah timur Indonesia beberapa kali pernah menerima gelombang tsunami dari gempa di kawasan Pasifik dan Filipina. Oleh sebab itu, kesiapsiagaan menjadi kunci. Dalam konteks ini, sistem peringatan dini tsunami, sirine, dan jaringan komunikasi lokal harus aktif dan dapat diandalkan.
Beberapa warga pesisir Talaud, saat menerima info peringatan, sudah mulai mengevakuasi diri. Seorang tokoh masyarakat Talaud, Sari M. Lumban, menyampaikan bahwa panik sempat muncul, tetapi warga segera diarahkan ke tempat aman.
“Kami segera mengimbau agar warga menjauhi garis pantai. Ada petugas lokal yang mengingatkan melalui pengeras suara agar naik ke tanah tinggi,” ujar Sari.
Sari berpesan agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing rumor atau berita tak berdasar yang dapat menyebabkan kepanikan massal. Akses komunikasi yang terkadang sulit di pulau-pulau terpencil menjadi tantangan, sehingga koordinasi dengan BMKG pusat dan BNPB lokal sangat krusial.
Kekhawatiran lain adalah keterbatasan infrastruktur evakuasi serta kesiapan jalur penyelamatan. Karena sebagian pulau memiliki kontur bukit atau dataran tinggi yang tidak terlalu jauh dari pantai, waktu reaksi menjadi penting. Jika gelombang besar tiba secara tiba-tiba, jarak tempuh evakuasi bisa sangat berpengaruh pada keselamatan warga pesisir.
Para ahli menekankan bahwa keberhasilan mitigasi tsunami bukan hanya soal peringatan, tetapi juga soal ketahanan, kesiapan, dan respons cepat masyarakat lokal. Pembangunan jalur evakuasi, edukasi tsunami ke sekolah dan masyarakat pesisir, serta latihan rutin menjadi kebutuhan mendesak.
Dalam konteks mitigasi bencana, Indonesia memiliki pengalaman pahit di masa lalu. Salah satu bencana terdahsyat terjadi di Palu pada 2018, ketika gempa dan tsunami melanda kawasan Sulawesi tengah dengan korban yang sangat besar. Kejadian itu menjadi pengingat bahwa tsunami lokal bisa menghantam dalam hitungan menit dan memerlukan respon cepat.
Dengan munculnya peringatan ini, BMKG terus memperbarui data gempa susulan, posisi episentrum, kedalaman, dan kecepatan gelombang laut yang diperkirakan. Publik diimbau agar mengikuti info terakhir dan tidak menyebarkan spekulasi yang belum terkonfirmasi.
Sementara itu, BNPB dan dinas kebencanaan daerah sudah dikerahkan untuk memantau kondisi di wilayah yang terancam. Jika gelombang terjadi, pihak terkait siap melaksanakan evakuasi, pusat evakuasi, dan bantuan awal.
Publik di lima wilayah waspada diimbau agar menjaga akses ke berita resmi melalui kanal BMKG, media nasional, atau BPBD setempat. Jangan mudah terpancing pada video atau informasi dari media sosial yang tidak jelas rujukannya.
BACA JUGA : DPR Rapat Bersama Menkeu, OJK hingga PPATK, Apa yang Dibahas?
Bagi masyarakat pesisir Indonesia secara umum, kejadian ini mengingatkan kembali bahwa Indonesia berada dalam “cincin api” (Ring of Fire) dunia dan sangat rentan terhadap gempa dan tsunami dari kawasan Pasifik. Upaya mitigasi, kesiapan warga, serta keberlangsungan sistem peringatan harus terus diperkuat agar bencana tidak menjadi bencana kemanusiaan.
Semoga peringatan ini hanya antisipasi semata dan tidak berubah jadi gelombang nyata. Namun jika gelombang tsunami datang, semoga kesiapan dan respons cepat mampu melindungi masyarakat dari kerugian jiwa dan harta.