Jakarta – Pembinaan sepak bola usia dini menjadi fondasi penting dalam membangun prestasi olahraga nasional. Melalui kolaborasi antara TNI, pemerintah, sekolah sepak bola (SSB), akademi, dunia usaha, dan masyarakat, upaya melahirkan generasi emas sepak bola Indonesia dinilai semakin memiliki arah yang jelas.
Semangat tersebut tergambar dalam penyelenggaraan Piala Komandan Denzipur 3/ATD 2026 yang berlangsung pada 11–12 Juli 2026. Turnamen yang diikuti ratusan pesepak bola usia 7 hingga 12 tahun dari berbagai SSB dan akademi sepak bola di Indonesia itu menjadi wadah pembinaan atlet sejak usia dini sekaligus ruang kompetisi yang sehat untuk mengasah kemampuan teknis, mental bertanding, dan karakter para pemain muda.
Komandan Denzipur 3/ATD, Mayor Czi Wisnu Sanjaya, S.T.Han., mengatakan pembinaan olahraga usia dini merupakan investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga pada sektor nonakademik, termasuk olahraga prestasi.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menempatkan pengembangan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas. Di bidang olahraga, cita-cita besar Indonesia untuk tampil lebih kompetitif di tingkat internasional harus dimulai dari pembinaan yang terstruktur dan berkesinambungan sejak usia dini.
“Kami berharap anak-anak dan adik-adik yang telah bermain dengan penuh semangat pada turnamen ini suatu hari nanti ada yang mengenakan seragam Tim Nasional Indonesia dan membawa Merah Putih tampil di Piala Dunia. Mimpi besar itu harus dimulai dari latihan yang disiplin, kompetisi yang berkualitas, serta dukungan seluruh elemen bangsa,” ujar Mayor Czi Wisnu Sanjaya saat membuka turnamen.

Ia menegaskan bahwa TNI tidak hanya memiliki peran dalam menjaga kedaulatan negara, tetapi juga terus berkontribusi dalam membangun kualitas generasi muda melalui berbagai kegiatan positif, termasuk pembinaan olahraga.
Salah satu daya tarik turnamen tahun ini adalah kehadiran STY Academy, akademi sepak bola yang didirikan oleh mantan pelatih Tim Nasional Indonesia, Shin Tae-yong. Partisipasi akademi tersebut menjadi penyemangat tersendiri bagi para peserta karena memberikan kesempatan bagi pemain-pemain muda untuk mengukur kemampuan mereka menghadapi salah satu akademi yang dikenal memiliki sistem pembinaan modern.
Kehadiran STY Academy juga menunjukkan bahwa pembangunan sepak bola nasional memerlukan kolaborasi berbagai pihak. Sinergi antara institusi negara, akademi profesional, sekolah sepak bola, pelatih, orang tua, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pembinaan yang mampu melahirkan talenta-talenta terbaik Indonesia.
Pada hari pertama pelaksanaan, Sabtu (11/7), pertandingan mempertandingkan kelompok usia 7 tahun, 10 tahun, dan 11 tahun.
Di kategori Usia 7 Tahun, SSB Maesa Pararider berhasil keluar sebagai juara pertama, sedangkan SSB Rinja menempati posisi kedua. Dominasi Maesa Pararider juga terlihat pada penghargaan individu. Beryl Hamidan Barina dinobatkan sebagai top skor, M. Marino Atharauf sebagai pemain terbaik, Rafardhan Prawira sebagai penjaga gawang terbaik, sementara penghargaan pelatih terbaik juga diraih pelatih Maesa Pararider.
Pada kategori Usia 10 Tahun, Putra Nusantara tampil sebagai juara setelah mengalahkan STY Academy di partai final. Penghargaan top skor diraih Akmal Farhan M., sedangkan I Gede Rafa dinobatkan sebagai pemain terbaik. Keduanya berasal dari Putra Nusantara. Adapun penghargaan penjaga gawang terbaik diberikan kepada Hwanhee dari STY Academy, sementara penghargaan pelatih terbaik diraih pelatih Putra Nusantara.
Persaingan tidak kalah menarik tersaji pada kategori Usia 11 Tahun. STY Academy berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Diklat Paku Jaya pada laga final. Akademi tersebut sekaligus memborong seluruh penghargaan individu, yakni Alby Lutfi sebagai top skor, M. Nafis Kurtubi sebagai pemain terbaik, M. Rahsya Tajwid sebagai penjaga gawang terbaik, serta penghargaan pelatih terbaik.
Mayor Wisnu menilai turnamen usia dini seperti Denzipur 3/ATD Cup tidak cukup dipandang sebagai ajang mencari juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses panjang membangun karakter generasi muda melalui nilai disiplin, kerja sama, sportivitas, kepemimpinan, dan semangat pantang menyerah.
Menurutnya, semakin banyak kompetisi yang diselenggarakan secara berjenjang, semakin besar peluang Indonesia menemukan talenta-talenta terbaik yang kelak mampu memperkuat Tim Nasional Indonesia.
Ia berharap penyelenggaraan turnamen maupun festival sepak bola usia dini terus diperluas melalui kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, TNI, PSSI, akademi sepak bola, sekolah, dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga komunitas olahraga diharapkan dapat mengambil peran dalam memperkuat ekosistem pembinaan sepak bola nasional.
“Prestasi sepak bola tidak lahir secara instan. Dibutuhkan komitmen jangka panjang, kompetisi yang berkesinambungan, pembinaan pelatih, dukungan orang tua, dan kolaborasi semua pihak. Jika ekosistem ini terus kita bangun bersama, saya optimistis Indonesia akan memiliki semakin banyak pemain berkualitas yang mampu bersaing di level dunia,” kata Mayor Wisnu.
Piala Komandan Denzipur 3/ATD 2026 menjadi bukti bahwa pembinaan olahraga merupakan tanggung jawab bersama. Dari lapangan-lapangan pembinaan usia dini inilah harapan menuju Generasi Emas Indonesia dibangun. Ketika kolaborasi antara TNI, pemerintah, dunia olahraga, dan masyarakat terus diperkuat, mimpi melihat Merah Putih berlaga dan berprestasi di panggung Piala Dunia bukan lagi sekadar harapan, melainkan tujuan yang diperjuangkan bersama.