Ragam Kritik Program Makan Bergizi Gratis dari Berbagai Pihak

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Maraknya keracunan siswa karena Makan Bergizi Gratis menuai ragam kritik. Mulai dari politisi hingga anggota DPR. Ada pula yang meminta agar MBG diganti menjadi uang tunai, lalu orang tua diminta agar menyiapkan makan siang sendiri untuk anaknya.

Usulan mengubah skema pemberian Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi dalam bentuk uang tunai muncul sebagai alternatif. Pemerintah dinilai sebaiknya memberikan uang tunai langsung kepada orang tua murid di sekolah agar mereka dapat menyediakan makan siang bagi anaknya.

Menurut Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, ide tersebut boleh saja disampaikan oleh siapa pun. Namun, dia menegaskan bahwa konsep pemberian makan siang langsung kepada siswa di sekolah merupakan skema terbaik yang saat ini dijalankan.

BACA JUGA: Dokter Berikan Cara Menjaga Jantung Meski Punya Riwayat dari Keluarga

Ragam Kritik ke MBG Direspon Istana

“Ide kan banyak, bukan berarti ide tidak baik, tapi konsep yang sekarang dijalankan dianggap oleh pemerintah dan BGN yang terbaik untuk dikerjakan,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (19/9/2025).

Usulan pemberian uang tunai kepada orang tua siswa muncul di tengah maraknya kasus keracunan yang dialami oleh siswa penerima MBG di sekolah. Mengenai hal ini, Prasetyo menyatakan bahwa apabila terdapat catatan masalah pada program Makan Bergizi Gratis, hal tersebut akan diterima oleh pemerintah untuk diperbaiki.

“Kalau nanti ada catatan ya kita akui dan kita perbaiki,” tambah Prasetyo.

MBG Akan Diganti Uang Tunai?

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IX DPR dari Fraksi PDIP, Charles Honoris, mengusulkan agar MBG diberikan dalam bentuk tunai kepada orang tua siswa. Ia menyoroti kurang baiknya standard operating procedure (SOP) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menurutnya menyebabkan banyak kasus keracunan.

Charles mencurigai bahwa kasus keracunan di beberapa daerah terjadi karena SOP dari BGN tidak dijalankan dengan baik oleh SPPG. Dia menjelaskan bahwa persiapan bahan baku menu MBG biasanya dilakukan sekitar pukul 23.00, dimasak pukul 04.00, dan dibungkus pukul 07.00, sementara makanan baru dihidangkan sekitar pukul 11.00-12.00 WIB. Hal ini meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.

Charles Dorong BGN Pakai Metode Lain

Charles juga mendorong BGN untuk mencoba pola lain dalam penyediaan makan bergizi gratis, salah satunya dengan memberikan uang tunai kepada orang tua siswa agar dapat menyiapkan makan bergizi sendiri untuk anaknya.

“Bahkan opsi memberikan uang kepada orang tua murid misalnya. Sehingga orang tua murid bisa menyediakan makanan sendiri untuk anak-anaknya,” ujarnya kepada wartawan, Jumat (19/9/2025).

Program Makan Bergizi Gratis Gunakan Anggaran 28 Triliun

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diklaim telah memberikan dampak ekonomi hingga Rp 28 triliun di seluruh wilayah Indonesia, menurut Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.

Dadan menjelaskan bahwa sejauh ini sudah terdapat 5.130 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia, tersebar di 38 provinsi, 502 kabupaten, dan 4.770 kecamatan. Ribuan dapur MBG ini melayani makan gratis untuk 15 juta penerima manfaat.

Dia menambahkan bahwa pembangunan SPPG dilakukan oleh mitra BGN tanpa menggunakan dana APBN yang ada pada anggaran tahunan BGN. Mitra ini berasal dari pengusaha, organisasi masyarakat, hingga beberapa instansi pemerintah.

Masing-masing SPPG Butuh Dana Sekitar 2 Miliar

Dengan dibangunnya ribuan SPPG tersebut, Dadan memperkirakan terdapat sekitar Rp 28 triliun uang yang beredar di masyarakat. Setiap SPPG membutuhkan dana sekitar Rp 1,5-2 miliar.

“Semuanya membangun sendiri dan kalau dihitung yang mereka sudah lakukan itu satu Satuan Pelayanan itu membutuhkan kurang lebih antara Rp 1,5-2 miliar. Ya jadi uang yang sudah beredar di masyarakat ini sudah triliun ya, sudah hampir Rp 28 triliun dan itu adalah bukan uang APBN tetapi uang mitra,” jelas Dadan di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (12/8/2025) lalu.

Dadan memberi contoh bahwa uang yang beredar tersebut termasuk pembelian material bangunan bagi pembangunan SPPG di toko bangunan. Ia kembali menegaskan bahwa uang tersebut benar-benar berasal dari para mitra.

“Jadi kalau di daerah-daerah toko bangunan itu kebanjiran pembelian untuk bahan-bahan baku membangun SPPG itu murni uang dari para mitra,” lanjut Dadan.

Hingga saat ini, APBN yang dikucurkan melalui BGN baru sekitar Rp 8,2 triliun, yang difokuskan untuk modal pemenuhan makan bergizi bagi penerima manfaat.

BACA JUGA: Prabowo Tetapkan 1.700-4.100 ASN Pindah ke IKN Mulai 2028

“Jadi MBG sendiri sampai sekarang baru menyerap Rp 8,2 triliun yang difokuskan hanya untuk memberi intervensi gizi, sementara satuan pelayanannya merupakan bangunan yang dibangun oleh para mitra,” pungkas Dadan.

Ragam Kritik Terus Menyerang Program MBG

Program makan bergizi gratis menjadi salah satu program prioritas Presiden Prabowo. Bahkan, ini digadang-gadang sejak beliau debat presiden beberapa waktu lalu, sebelum memenangkan pilpres. Namun, dalam pelaksanaannya, siswa-siswi yang menerima justru alami keracunan.

Lantas, apakah program Makan Bergizi Gratis akan diteruskan dengan berbagai ragam kritik dari banyak pihak. Apakah presiden akan mengganti metode pemberian MBG, atau justru menggantinya dengan alternatif lain, patut untuk ditunggu bersama.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like