Angin Topan Ragasa Guncang Taiwan Timur

Topan Ragasa di Taiwan
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Angin Topan Ragasa mengamuk di pantai timur Taiwan pada Rabu (24/9), menyebabkan sebuah danau penghalang (barrier lake) di Kabupaten Hualien pecah akibat hujan deras yang terus mengguyur. Terdapat 14 orang meninggal dunia, puluhan orang terluka dan 124 dilaporkan hilang akibat bencana tersebut.

Sejak Senin malam, Topan Ragasa mengguncang bagian timur Taiwan dengan hujan deras dan angin kencang. Namun puncaknya terjadi Selasa sore, ketika sebuah barrier lake danau alami yang terbentuk oleh longsor di kawasan pegunungan di Kabupaten Hualien, pecah dan melepaskan banjir bandang yang membawa kehancuran.

Kronologi Bencana

Barrier lake tersebut berada di hulu Matai’an Creek, di atas kota kecil Guangfu, Hualien. Danau ini terbentuk sejak Juli 2025 setelah hujan dari topan-topan sebelumnya (termasuk Topan Wipha) menyebabkan longsor yang menyumbat jalur aliran sungai. Struktur dinding alami (dam) sekitar 120 meter tingginya, membendung air di area sekitar 500 meter panjang dan 1.650 meter lebar sebelum ledakan terjadi.

Pada Selasa sore, hujan ekstrem akibat angin topan ragasa meningkatkan tekanan air di danau secara drastis hingga dinding alam itu tidak mampu menahan. Akibatnya, sekitar 60 juta ton air dari total estimasi sekitar 91 juta ton terlepas. Air itu mengalir deras, menuruni lembah dan meninggalkan jejak lumpur, batu, dan reruntuhan.

BACA JUGA : Ratusan Pelajar di Bandung Keracunan Massal Program MBG

Kerusakan dan Korban Jiwa

Jumlah korban tewas mencapai 14 hingga 17 orang, sebagian besar lansia, yang tinggal di bagian bawah rumah atau di situs yang sulit diakses ketika banjir datang. Puluhan hingga lebih dari seratus orang dinyatakan hilang (jumlah berbeda menurut laporan), karena arus sangat cepat, komunikasi terputus, dan medan yang sangat rusak.

Ratusan warga terjebak tetapi sebagian besar berhasil berlindung ke lantai atas rumahnya dan berada di pengungsian darurat.Kerusakan infrastruktur lokal cukup parah. Sejumlah jalan utama terputus, menyebabkan gangguan mobilitas warga. Aliran listrik juga terhenti di beberapa wilayah akibat gangguan jaringan. Selain itu, sebagian besar rumah penduduk dan fasilitas umum, seperti sekolah dan pusat layanan kesehatan, ikut terendam banjir yang dapat menghambat aktivitas harian dan upaya evakuasi warga terdampak.

Respons dan Kritik untuk Pemerintah

Pemerintah Taiwan menanggapi situasi darurat dengan mengerahkan ratusan personel tim penyelamat dan militer untuk membantu korban terdampak bencana. Sekitar 340 tentara dikirim secara khusus ke wilayah Hualien, salah satu area paling parah, dengan dilengkapi kendaraan lapis baja guna menembus lumpur tebal dan menjangkau kawasan yang terisolasi. Operasi penyelamatan berlangsung intensif di tengah kondisi medan yang sulit dan cuaca yang belum sepenuhnya stabil.

Sebagai bagian dari upaya tanggap darurat, pemerintah juga membuka sejumlah tempat penampungan sementara di sekolah-sekolah dasar dan fasilitas umum lainnya. Hingga saat ini, lebih dari 8.000 warga di berbagai wilayah Taiwan telah berhasil dievakuasi dari zona berbahaya. Meskipun demikian, muncul kritik dari sejumlah pihak mengenai kurangnya kesiapan dalam peringatan dini dan arahan evakuasi.

Warga di daerah Guangfu, misalnya, menyampaikan keluhan bahwa mereka tidak menerima instruksi yang cukup jelas atau peringatan yang memadai sebelum banjir tiba. Evakuasi vertikal dengan naik ke lantai atas bangunan, yang sempat direkomendasikan oleh otoritas setempat, ternyata tidak efektif karena derasnya arus air dan volume banjir yang meningkat dengan cepat. Kritik ini memicu evaluasi terhadap sistem peringatan dini dan mekanisme respon bencana nasional di Taiwan.

Lokasi dan kondisi geografis di sekitar barrier lake membuat proses penanganan bencana menjadi sangat menantang. Terletak di wilayah terpencil dengan akses yang terbatas, daerah ini dikelilingi medan curam dan rawan longsor. Kondisi semakin diperburuk oleh dampak gempa besar bermagnitudo sekitar 7,2 yang mengguncang kawasan tersebut tahun lalu, meninggalkan tanah pegunungan dalam keadaan tidak stabil hingga sekarang. Akibatnya, upaya mitigasi sebelumnya tidak berjalan optimal, karena akses yang sulit dan risiko lanjutan dari pergerakan tanah yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

BACA JUGA : Cak Imin Pastikan MBG Tak Disetop, Dorong Perbaikan Sistem

Bencana yang menghantam wilayah ini, merupakan salah satu badai paling dahsyat sepanjang tahun. Dengan kecepatan angin maksimum yang mencapai ratusan kilometer per jam dan curah hujan ekstrem yang tercatat lebih dari 70 cm hanya dalam waktu singkat, badai ini memicu banjir besar dan mempersulit upaya evakuasi. Banyak wilayah terdampak tidak hanya kebanjiran, tapi juga terancam oleh potensi longsor baru akibat tanah jenuh air dan struktur geologi yang rapuh pasca gempa.

Angin Topan Ragasa yang ada di Taiwan tersebut menegaskan pentingnya sistem peringatan dini yang lebih canggih, evakuasi wajib di daerah rawan, serta kesiapan masyarakat lokal dalam menghadapi bencana. Evakuasi vertikal dengan menaiki lantai atas bangunan yang terbukti tidak selalu efektif, terutama jika arus air datang mendadak dan dalam volume besar. Perlu pendekatan yang lebih menyeluruh dalam perencanaan kebencanaan di wilayah rawan seperti ini.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like