Purbaya Tantang BEI: Rapikan Dulu Saham Gorengan

750 x 100 AD PLACEMENT

Narayapost — Purbaya Tantang BEI untuk Rapikan Dulu Saham Gorengan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan sinyal tegas saat bertemu jajaran otoritas pasar modal bahwa insentif untuk Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak akan diberikan sembarangan. Ia menolak permintaan insentif yang diajukan pihak BEI sebelum perilaku investor bermasalah, terutama terkait “saham gorengan,” diperbaiki secara serius.

Dalam dialog dengan pejabat pasar modal beberapa waktu lalu, Purbaya menegaskan bahwa BEI sudah lama meminta insentif. Namun sebelum itu terjadi, tanggung jawab besar justru ada pada otoritas bursa untuk menertibkan pasar yang dipenuhi praktik tak sehat.

BACA JUGA : AS Salurkan Bantuan Militer Bernilai Miliaran ke Israel

“Tadi Direktur Bursa juga minta insentif terus, yang belum tentu saya kasih,” ujarnya saat berbicara di hadapan wartawan usai pertemuan di gedung BEI.

Purbaya Tantang BEI. Ia menambahkan bahwa insentif hanya akan diberikan jika pasar modal sudah bersih dari manipulasi saham.

Permintaan insentif, menurut Purbaya, tidak bisa menjadi tiket instan tanpa disertai perbaikan fundamental. Dia menyebut bahwa selama ini masih banyak ditemukan saham-saham yang dipertanyakan keasliannya: likuiditas rendah, volume tinggi secara mencurigakan, atau gerak harga yang tidak wajar.

“Artinya, yang goreng-gorengan dikendalikan sama dialah,” kata Purbaya untuk menggarisbawahi bahwa pengawasan internal bursa menjadi kunci.

Purbaya kemudian menegaskan bahwa selama kondisi pasar belum dibersihkan dari praktik merugikan investor ritel, dia tidak akan buru-buru memberikan insentif.

“Dia minta insentif, saya bilang belum saya kasih sebelum dia rapikan kondisi pasar modal kita di mana banyak yang goreng-goreng tapi santai aja masih lenggang karena investor kecil jadi dirugikan,” ujarnya sambil menekankan perlindungan terhadap investor skala kecil.

Ia juga menyebut bahwa diskusi jajaran pasar modal hari itu tidak hanya terkait insentif, tapi juga tentang arah kebijakan ekonomi pemerintah ke depan. Purbaya berharap kebijakan tersebut tidak bersifat instan atau “one shot” melainkan berjalan berkelanjutan. Dalam konteks ini, insentif untuk bursa haruslah bagian dari paket kebijakan yang sehat, bukan sekadar dorongan sementara.

Tanggapan keras dari Menkeu ini muncul justru ketika BEI tengah menyorot kebutuhan insentif agar mekanisme pasar modal lebih kompetitif. Permintaan insentif sering muncul sebagai topik dalam rapat internal bursa, termasuk dari direktur dan pengurus BEI. Namun, bagi Purbaya, insentif tanpa disertai konsolidasi dan reformasi pasar modal tidaklah adil.

Sejumlah pengamat pasar modal menilai pernyataan Purbaya memberi efek psikologis kuat ke pelaku pasar. Direktur Riset sebuah perusahaan sekuritas, Rizal Harman, mengatakan bahwa sikap Menkeu ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap tata kelola bursa makin tinggi. Menurut Rizal, selama ini BEI dan otoritas terkait “terkadang dianggap lambat” merespons praktik manipulatif.

“Kalau memang insentif dikaitkan dengan kinerja dan integritas pasar, maka itu bisa memaksa pelaku pasar lebih disiplin. Tapi BEI sendiri harus punya roadmap yang jelas agar pasar makin sehat,” kata Rizal.

Analisis Rizal menyoroti bahwa investor institusi besar bisa mengabaikan manipulasi di saham-saham berkapitalisasi kecil, sementara investor ritel menjadi korban. Efeknya, kepercayaan publik terhadap pasar modal bisa terganggu jika praktik tidak sehat dibiarkan berkepanjangan.

Sementara itu, anggota Dewan Komisioner OJK bidang pengawasan pasar modal, Dr. Silvia Maulana, menyambut peringatan dari Purbaya sebagai momentum introspeksi.

“Insentif boleh, tetapi yang lebih penting adalah struktur pasar likuiditas yang sehat, kepatuhan pelaku pasar, dan sistem pengawasan yang responsif. Tanpa itu, insentif akan bom waktu,” tutur Silvia saat dihubungi secara terpisah.

Silvia menekankan bahwa OJK nantinya akan memperkuat kerjasama pengawasan dengan BEI dan lembaga sekuritas agar proses identifikasi aksi manipulatif menjadi lebih cepat. Ia juga mendorong pembentukan sistem pelaporan dini oleh investor terhadap saham-saham yang diduga “digoreng”.

Di kalangan praktisi pasar modal, pengamat kebijakan ekonomi dan dosen universitas, Dr. Amanda Fajar, menilai bahwa pernyataan Menkeu punya muatan politis.

“Pernyataan ini bisa menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin memperkuat basis regulasi pasar modal, sambil menyaring permintaan insentif agar tidak disalahgunakan,” jelas Amanda.

Menurutnya, kalau BEI dan pelaku pasar merespons positif, suasana pasar modal bisa lebih stabil dan kredibel. Sebaliknya, jika hanya saling melempar tanggung jawab, insentif tak akan berdampak signifikan.

Dampak langsung pernyataan Purbaya pun mulai terasa di pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi siang tampak bergerak waspada, meskipun belum ada kepanikan besar. Saham-saham kecil (small caps) yang selama ini menjadi sumber kongsi manipulasi mendapat pengawasan lebih keras oleh analis dan investor institusi.

Investor ritel ramai memperbincangkan status saham “gorengan”apakah aman dipegang atau sebaiknya dilepas sementara. Beberapa forum diskusi pasar modal menyebut bahwa momentum ini bisa menjadi titik balik agar investor kecil lebih selektif memilih saham unggulan, bukan hanya mengejar potensi keuntungan cepat di saham-saham spekulatif.

Dalam catatan ceruk bisnis, insentif untuk bursa umumnya berkaitan pengurangan biaya transaksi, keringanan pajak atas dividen, atau dukungan likuiditas. Namun semua itu akan sia-sia jika infrastruktur pasar penuh manipulasi. Pernyataan Purbaya menegaskan bahwa “insentif dahulu, baru bersih-bersih” bukanlah pendekatan yang bisa diterima.

BACA JUGA : Banjir di Thailand Sebabkan 22 Orang Tewas

Purbaya Tantang BEI. Ke depannya, publik pantas menunggu bagaimana BEI menanggapi tantangan tersebut. Apakah mereka akan meluncurkan reformasi internal memperketat ketentuan free float, meningkatkan sanksi terhadap pelaku manipulatif, memperbaiki mekanisme pelaporan dan kemudian meminta insentif? Atau tetap meminta prioritas insentif tanpa menyingkirkan akar masalah di pasar modal?

Bagi investor skala kecil, langkah BEI menjadi kunci. Apabila bursa menunjukkan keseriusan dalam merapikan pasar dan melindungi kepentingan ritel, kepercayaan bisa pulih. Jika tidak, investor kecil akan menjadi korban lagi dalam pasar yang timpang.

Maka pada akhirnya, insentif bukanlah hadiah gratis bagi bursa. Ia harus menjadi penghargaan atas reformasi nyata dan performa pasar yang lebih sehat. Presiden, Menteri Keuangan, otoritas pasar modal, dan BEI masing-masing punya tanggung jawab agar pasar modal Indonesia bisa lebih kredibel dan berkelanjutan  bukan sekadar gerak indeks sesaat, tetapi fondasi jangka panjang yang kuat.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like