NarayaPost – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi kabar mengenai peluang dirinya maju sebagai calon wakil presiden (cawapres). Namanya memang tengah naik daun setelah resmi menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menkeu. Meski begitu, Purbaya menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memikirkan soal pencalonan tersebut.
“Nggak, nggak mikir sama sekali. Kerja juga belum. Ini kan baru cuma di permukaan saja, yang di bawahnya belum kita sisir betulan. Jadi nggak kepikiran sama sekali. Gue nggak peduli juga,” ujarnya kepada wartawan di JICC Senayan, Jakarta, Kamis malam (9/10/2025).
Ia menambahkan, dirinya baru sebulan menjabat dan belum sepantasnya menanggapi isu politik. “Baru juga sebulan kerja, gila lo. Itu kan bisa berubah. Kalau ekonomi bagus, begitu turun, turun lagi. Ekonomi kan naik-turun, naik-turun. Jadi jangan cepat-cepat. Dan gue enggak mikirin juga,” imbuhnya.
BACA JUGA: Toyota Sumbang Pajak ke Negara Sampai Rp 23 Triliun per Tahun
Diketahui, Purbaya dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 8 September 2025. Sejak itu, popularitasnya meningkat pesat. Ia bahkan sempat berseloroh bahwa dirinya “seperti artis” karena selalu disambut masyarakat ketika menghadiri acara publik, termasuk saat Investor Daily Summit 2025 di JICC Senayan.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengaku heran dengan meningkatnya popularitasnya, seraya menyebut adanya peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sebulan pertama menjabat. “Tadi sebetulnya saya malu ke sini, orang-orang menyambut saya kayak artis. Padahal baru kerja satu bulan, hasilnya belum ada. Jangan sampai teman-teman kecewa, ya. Tapi sudah ada hasilnya deh, tuh IHSG sudah naik kencang,” ujarnya sambil tertawa.
Sejak dilantik sebagai Menteri Keuangan pada September 2025, Purbaya Yudhi Sadewa langsung memperkenalkan sejumlah kebijakan baru yang berfokus pada penguatan likuiditas dan percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu langkah utamanya adalah memindahkan dana pemerintah senilai sekitar Rp 200 triliun dari Bank Indonesia ke bank-bank milik negara (Himbara) guna mendorong penyaluran kredit ke sektor riil.
Ia menegaskan bahwa dana tersebut hanya boleh digunakan untuk pemberian pinjaman, bukan untuk pembelian obligasi, agar manfaatnya benar-benar dirasakan dunia usaha dan masyarakat luas. Selain itu, Purbaya juga merencanakan penempatan sebagian dana pemerintah di bank-bank daerah (BPD) untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi regional, dengan alokasi mencapai Rp 10 triliun per bank daerah
Dalam upaya memperkuat efektivitas fiskal, Purbaya membentuk tim monitoring khusus yang bertugas mempercepat penyerapan anggaran di kementerian dan lembaga yang mengalami keterlambatan. Ia juga mengajukan anggaran Kemenkeu 2026 sebesar Rp 52,016 triliun untuk menjaga stabilitas fiskal dan mendukung ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
BACA JUGA: Pelatih Timnas Indonesia Patrick Kluivert Minta Anak Asuhnya Bangkit
Lebih lanjut, Purbaya menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai 8 %, dengan penekanan pada kebijakan fiskal ekspansif yang terarah pada produktivitas sektor riil dan pemerataan pembangunan.
Meski namanya mulai diperbincangkan di ranah politik, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fokus utamanya tetap pada tugas sebagai Menteri Keuangan. Dalam waktu singkat, ia telah meluncurkan berbagai kebijakan strategis untuk memperkuat likuiditas, mempercepat penyaluran kredit, dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Langkah-langkah seperti pemindahan dana pemerintah ke bank-bank negara serta percepatan penyerapan anggaran menunjukkan komitmennya terhadap stabilitas fiskal. Purbaya menilai kinerja ekonomi jauh lebih penting dibanding isu politik, sejalan dengan visinya menjadikan sektor keuangan sebagai motor utama pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.