NarayaPost – Pakistan dan Afghanistan saling serang di perbatasan yang semakin memunculkan ketegangan. Perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan kembali memanas pada 12 Oktober 2025, ketika pasukan Afghanistan dilaporkan menembaki pos-pos militer di wilayah perbatasan sebagai respons terhadap serangan udara Pakistan yang sebelumnya menargetkan tokoh militan TTP (Tehreek‑e‑Taliban Pakistan) di Kabul. Islamabad membalas dengan tembakan artileri dan serangan balik, mengklaim telah menghancurkan beberapa pos militer Afghanistan. Akibat eskalasi ini, Pakistan menutup beberapa perlintasan perbatasan penting seperti Torkham dan Chaman guna mengendalikan keamanan dan mencegah infiltrasi militan.
Sejak 2024, Pakistan dan Afghanistan telah beberapa kali bertukar tembakan di zona perbatasan, terutama di daerah seperti Torkham. Konflik ini sering kali terkait dengan tuduhan Pakistan, bahwa Afghanistan menjadi tempat perlindungan militan TTP yang sering melakukan serangan di wilayah Pakistan. Dikutip dari Al Jazeera, Taliban menuding bahwa operasi udara Pakistan melanggar kedaulatan Afganistan, memicu tanggapan militer sebagai defensif. Kondisi volatile ini membuat hubungan bilateral kedua negara semakin tegang, dan potensi konflik yang lebih luas menjadi ancaman nyata di kawasan.
BACA JUGA: Ahli Sebut Konsumsi Kopi Bisa Menghambat Penyerapan Zat Besi!
Menurut laporan Reuters, bentrokan di perbatasan Pakistan‑Afghanistan memuncak pada 12 Oktober 2025 dan telah menyebabkan “dozens of deaths” (puluhan korban jiwa). Pakistan melaporkan kehilangan 23 personel militer dalam serangan yang mereka sebut sebagai “assault” dari pasukan Taliban di wilayah perbatasan. Sementara itu, pihak Taliban mengklaim bahwa dalam aksi balasan mereka telah menewaskan 58 tentara Pakistan dan menawan 25 pos militer Pakistan, meskipun angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Di sisi lain, militer Pakistan menyebut bahwa mereka menghancurkan sejumlah pos Taliban dan “neutralized more than 200 Taliban and affiliated fighters.” Namun, klaim ini juga dicermati sebagai propaganda perang oleh pengamat independen karena sulit diverifikasi secara langsung. Bentrokan sempat mereda pagi harinya, tetapi tembakan sporadis masih terdengar di daerah Kurram.
Kerusuhan ini memicu penutupan resmi beberapa titik perlintasan utama antara Pakistan dan Afghanistan, termasuk Torkham, Chaman, serta perlintasan kecil seperti Kharlachi, Angoor Adda, dan Ghulam Khan. Pemerintah Pakistan menyatakan bahwa penutupan ini dilakukan demi menjaga keamanan nasional dan mencegah infiltrasi militan. Meski sebagian posisi militer telah dikosongkan atau ditarik, laporan warga lokal menyebutkan bahwa ketegangan tetap tinggi dengan aktivitas patroli militer intens dan pengawasan berat di daerah perbatasan.
BACA JUGA: Indonesia Kawal Gencatan Senjata Israel-Hamas di Gaza Palestina
Pihak Taliban menyebut bahwa wilayah perbatasan di bawah kontrol mereka dan bahwa operasi Pakistan dilakukan tanpa izin dan ofensif. Mereka mengklaim bahwa langkah-langkah Pakistan memicu pertahanan sah dari pihak Afghanistan. Pada pernyataan resminya, Pakistan mengecam tindakan Taliban sebagai provokasi terkoordinasi dan pelanggaran terhadap kedaulatan negara. Islamabad menegaskan akan mempertahankan haknya untuk membalas serangan dan menjaga keamanan grup militan yang aktif dari wilayah Afghanistan.
Bentrokan ini berpotensi memperdalam instabilitas di kawasan yang sudah rentan terhadap konflik lintas negara. Pakistan menuduh Taliban sebagai pelindung kelompok TTP yang selama ini melakukan serangan di wilayah Pakistan, dan menyebut bahwa aksi militan di Afghanistan seringkali menyasar perbatasan Pakistan. Sebaliknya, Taliban mengecam intervensi militer Pakistan sebagai upaya mengganggu kedaulatan Afghanistan dan merusak kerjasama bilateral.
Sementara itu, penutupan perbatasan berdampak pada arus perdagangan dan mobilitas warga, terutama pengungsi dan pedagang antar negara. Jalur pasokan komoditas penting terganggu dan potensi krisis kemanusiaan muncul akibat pemblokiran akses logistik di area perbatasan. Jika eskalasi terus berlanjut, konflik ini dapat menarik perhatian kekuatan regional dan memperumit upaya diplomasi serta stabilitas di Asia Selatan.
Bentrokan di perbatasan Pakistan dan Afghanistan yang terjadi pada awal Oktober 2025 menambah panjang daftar insiden militer di wilayah sensitif tersebut. Meski saat ini situasi dilaporkan mulai mereda, pasukan di kedua sisi masih dalam status siaga. Aktivitas militer di sekitar Torkham dan Kurram tetap dipantau ketat oleh otoritas masing-masing negara, dan belum ada laporan resmi mengenai dimulainya dialog atau investigasi bersama terkait insiden tersebut.