Frustasi Negosiasi dengan Vladimir Putin Soal Ukraina, Donald Trump: Tidak Ada Kemajuan

Hubungan Rusia dan AS tidak berkembang cukup cepat, tetapi kontak dengan otoritas AS tengah berlangsung dan akan terus dilanjutkan.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan rasa frustasinya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, karena negosiasinya untuk mengakhiri perang di Ukraina tak kunjung berhasil.

Trump lantas membatalkan rencana pertemuan tingkat tinggi dengan Putin.

“Kami membatalkan pertemuan dengan Presiden Putin, rasanya tidak tepat bagi saya.”

“Rasanya seperti kami tidak akan sampai pada titik yang harus kami dicapai.”

“Jadi saya membatalkannya, tapi kami akan melakukannya di masa depan,” kata Trump pada Rabu (22/10/2025) waktu Washington.

Trump pun melontarkan kekesalannya atas kurangnya kemajuan dalam negosiasi.

BACA JUGA: Prabowo-Gibran Dinilai Gagal Paham Soal Isu Palestina

“Jika bicara jujur, satu-satunya yang bisa saya katakan adalah, setiap kali saya berbicara dengan Vladimir, saya punya percakapan yang baik, tapi setelah itu tidak ada kemajuan.”

“Benar-benar tidak membuahkan hasil,” keluhnya.

AS sebelumnya memberikan sanksi baru terhadap dua perusahaan minyak terbesar Rusia, Rosneft dan Lukoil, karena Moskow dinilai tidak serius mengakhiri perang di Ukraina.

“Saya hanya merasa ini sudah waktunya (memberikan sanksi baru). Kami sudah menunggu cukup lama.”

“Kami berharap sanksi ini tidak akan berlangsung lama.”

“Kami berharap perang akan berakhir,” tutur Trump.

Berharap pada Cina

Donald Trump meyakini Presiden Cina Xi Jinping dapat memainkan peran kunci dalam membujuk Vladimir Putin mengakhiri perang di Ukraina.

“Ya, saya yakin. Saya pikir dia bisa memiliki pengaruh besar terhadap Putin.”

“Dan tentu saja kita akan membicarakan soal Rusia-Ukraina,” ucap Trump.

Trump bakal bertemu Xi selama kunjungannya ke Asia, termasuk Malaysia dan Jepang.

Trump dan Xi juga akan bertemu di Korea Selatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), pada 31 Oktober hingga 1 November 2025.

“Di Korea Selatan, saya akan bertemu dengan Presiden Xi dari Cina.”

BACA JUGA: Anggaran IKN Seharusnya Bisa untuk Bangun 22.500 SD dan 2.400 Rumah Sakit

“Kita bisa menyelesaikan banyak pertanyaan, keraguan, dan aset luar biasa yang kita miliki bersama,” bebernya.

Trump mengaku hubungannya dengan Xi sangat baik, dan mengatakan pertemuan mereka akan berlangsung cukup lama.

Trump sebelumnya menegaskan kembali usulannya, agar Rusia dan Ukraina menghentikan pertempuran di garis depan, dan menegosiasikan persyaratan lain yang memungkinkan di kemudian hari.

“Yang seharusnya mereka lakukan hanyalah berhenti di garis tempat mereka berada, garis pertempuran,” tegas Trump.

Trump mengaku telah menggelar pertemuan akrab dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Jumat (17/10/2025) lalu, dan membantah laporan ia mendesak Kyiv untuk menyerahkan seluruh wilayah Donbas kepada Moskow.

“Tidak, kami tidak pernah membahasnya,” bantah Trump.

Di wilayah Donbas, lanjut Trump, 78 persen wilayahnya telah direbut oleh Rusia.

Ukraina, kata Trump, dapat menegosiasikan sesuatu di kemudian hari, tetapi penghentian pertempuran segera adalah prioritas.

Tiru Skema Gaza

Rencana negara-negara Eropa dan Kiev untuk menyelesaikan konflik Ukraina, dikabarkan meniru model rencana perdamaian Donald Trump untuk Gaza.

Pada Selasa lalu, Bloomberg melaporkan negara-negara Eropa bersama Ukraina, sedang menyusun proposal berisi 12 poin, untuk mengakhiri konflik di sepanjang garis depan.

Menurut laporan tersebut, pelaksanaan rencana itu akan diawasi oleh sebuah dewan yang diketuai langsung oleh Trump.

Sumber Bloomberg juga menyebutkan, proposal tersebut mencakup tahapan pencabutan sanksi terhadap Rusia secara bertahap.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte dijadwalkan akan mempresentasikan rencana itu kepada Trump pada Rabu.

Sebelumnya, pada 29 September, Trump mengumumkan rencana perdamaian 20 poin untuk Jalur Gaza.

Rencana itu menyerukan gencatan senjata segera dengan syarat pembebasan sandera dalam waktu 72 jam.

Dokumen tersebut juga mengusulkan agar Hamas atau kelompok bersenjata Palestina lainnya tidak dilibatkan dalam pemerintahan di Gaza, dan pengelolaan wilayah itu diserahkan kepada komite teknokrat yang diawasi oleh badan internasional di bawah kepemimpinan Trump. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like