Kecelakaan Bus Terguling di Tol Pemalang, 10 Luka-Luka

750 x 100 AD PLACEMENT

Narayapost — Kecelakaan Bus Terguling di Tol Pemalang. Sebuah kecelakaan tragis terjadi di pintu keluar tol Gandulan, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah pada Sabtu pagi. Sebuah bus pariwisata yang membawa rombongan dari Kota Semarang oleng lalu terguling ketika memasuki tikungan menurun di jalur keluar tol. Akibatnya, empat orang meninggal dunia sementara sepuluh penumpang lainnya mengalami luka-luka dan saat ini dirawat di dua rumah sakit di Pemalang.

Bus tersebut membawa rombongan dari Forum Kesehatan Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, Semarang, yang telah memulai perjalanan pagi hari menuju objek wisata di Kabupaten Tegal. Saat tiba di kawasan exit tol Gandulan, sekitar pukul 08.25 WIB, bus dan pengemudinya diduga tidak mampu mengendalikan kendaraan saat menikung. Menurut laporan kepolisian setempat, kendaraan menabrak pembatas jalan dan kemudian terguling ke kanan.

BACA JUGA : Ancaman Banjir di Depan Mata, Pemprov DKI Siagakan Pompa

Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Pemalang, AKP Arief Wiranto, menyampaikan bahwa dari total penumpang, sebagian telah dievakuasi dan saat ini proses penanganan medis sedang berlangsung.

“Yang luka berat dan rusak fisiknya harus ditangani dulu. Kami masih melakukan penyelidikan untuk memastikan apakah ini kelalaian sopir, kondisi kendaraan, atau faktor teknis lain,” ujar Arief di lokasi kejadian.

Di Rumah Sakit Siaga Medika Pemalang, enam korban luka menjalani perawatan intensif. Sementara itu, empat korban lain yang kondisi luka-ringan telah diperbolehkan pulang setelah pemeriksaan medis. Humas rumah sakit, Indra Setiawan, mengatakan bahwa salah satu pasien mengalami patah tulang lengan dan dijadwalkan menjalani operasi sore harinya.

“Untuk yang dirawat di sini berarti masih ada enam. Awalnya total sepuluh. Yang empat rawat jalan, sudah diperbolehkan pulang. Ini yang enam sementara masih dalam penanganan tim dokter,” kata Indra.

Rombongan bus memakai armada yang didaftarkan sebagai bus pariwisata, dengan kru termasuk sopir dan dua kernet. Diduga bus membawa 34 orang sesuai pemeriksaan awal. Bus bergerak dari Semarang sejak pagi dan memasuki ruas tol menuju Pemalang. Saat tiba di tikungan menurun yang rawan, sopir sempat mengeluhkan rem yang tidak berfungsi optimal, menurut keterangan salah satu tour leader rombongan. Dalam kondisi menurun, bus itu akhirnya kehilangan kendali dan terguling, menyebabkan kaca pecah dan beberapa penumpang terlempar dari jendela.

Akibat utama dari kecelakaan ini ialah kerugian nyawa, luka fisik, dan trauma psikologis bagi para korban serta keluarga. Para penumpang yang selamat menceritakan suasana panik ketika kejadian: “Saya melihat saat bus itu terguling, sejumlah orang terlempar keluar dari badan bus, termasuk saya,” terang seorang tour leader yang selamat. Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan serius tentang standar keamanan armada pariwisata, pengawasan kendaraan besar, dan kesiapan layanan darurat di jalur tol.

Polisi lalu lintas Pemalang menyebut bahwa satu dari faktor utama yang diduga menjadi penyebab adalah kegagalan fungsi rem pada kendaraan di jalur menurun, serta kecepatan yang belum dikendalikan saat memasuki tikungan. “Bus sudah menurun, kondisi rem tidak optimal, lalu menikung ke kanan dan akhirnya terguling,” terang sumber kepolisian. Investigasi lebih mendalam tengah dilakukan termasuk pemeriksaan teknis kendaraan, rekaman CCTV tol, dan wawancara dengan pengemudi yang saat ini dalam perawatan.

Kecelakaan Bus Terguling di Tol Pemalang ini juga memunculkan sorotan terhadap kondisi infrastruktur dan layanan jalan tol. Ruas tol yang menurun dan memiliki tikungan tajam seperti exit Gandulan kerap dianggap rawan kecelakaan, terutama bagi bus besar yang membawa banyak penumpang. Dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan bus pariwisata di jalur tol telah menimbulkan duka dan kesadaran akan pentingnya standar operasional yang ketat.

Bagi pemangku kebijakan transportasi, kejadian ini menjadi bahan evaluasi penting. Menteri Perhubungan, instansi pengawas otobus pariwisata, dan operator bus wisata harus memastikan bahwa kendaraan besar menjalani pemeriksaan teknis sebelum perjalanan, bahwa sopir cukup istirahat, dan bahwa kondisi jalur menurun ditunjang dengan tanda-peringatan dan area bebas risiko. Selain itu, keluarga korban kini menuntut pertanggungjawaban dari operator bus dan inspektur teknis terkait.

Sementara itu, keluarga korban meninggal telah menyelesaikan proses administrasi pemulangan jenazah ke Semarang. Korban yang tewas antara lain diidentifikasi sebagai warga Bendan Ngisor, Semarang. Jenazah dijadwalkan tiba malam hari untuk disemayamkan. Pelayat menyebut suasana duka yang mendalam karena rombongan merupakan kelompok komunitas kesehatan kelurahan yang rutin mengadakan kegiatan wisata bersama.

Trauma dan dampak sosial juga nyata. Korban luka dan keluarga yang selamat menceritakan bahwa pengalaman tersebut meninggalkan bekas psikologis ketakutan naik bus, mimpi buruk, hingga enggan melanjutkan perjalanan wisata bersama operator yang sama. Asosiasi pariwisata lokal dan operator bus di Semarang kini tengah melakukan pertemuan mendesak untuk memperkuat protokol keselamatan perjalanan.

Meski korban tewas sebanyak empat orang telah diberitahukan, polisi menyatakan bahwa angka akhir masih bisa berubah karena proses identifikasi terus berjalan. Infrastruktur tol serta fasilitas evakuasi dinilai masih bisa diperkuat agar kecelakaan serupa tidak terulang. Pengguna jalan tol dan operator bus diimbau agar menjadikan kejadian ini sebagai alarm.

Masyarakat umum juga menjadi saksi bahwa perjalanan rombongan wisata, meskipun tampak santai dan rutin dilakukan, bukan tanpa risiko. Ketika armada besar melintasi jalan tol dengan banyak penumpang, risiko teknis kendaraan dan perubahan topografi jalan harus menjadi perhatian utama. Utamanya pada jalur turun tajam dan tikungan, dimana elemen kecepatan, rem, dan distribusi beban kendaraan menjadi kritis.

BACA JUGA : Kepala BNN Ingatkan Pelajar Tak Pakai Vape, Mengapa?

Kepolisian kini menetapkan Garis Besar Arahan TAA (Traffic Accident Analysis) untuk memastikan faktor human error, kelalaian pengemudi, kondisi kendaraan (termasuk rem dan sistem kemudi), kecepatan armada, serta kualitas jalan tol harus diperiksa secara sistematis. Jika ditemukan pelanggaran operasional atau teknis, maka sanksi bisa dijatuhkan kepada operator bus atau kru kendaraan.

Kecelakaan Bus Terguling di Tol Pemalang ini mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan kolektif membawa tanggung jawab bersama operator, pengemudi, penumpang, jalan, dan unsur pengawas. Semua harus bersinergi untuk menjaga keselamatan. Bagi Narayapost-membaca, lebih dari sekadar berita, ini menjadi pengingat agar sebelum melakukan perjalanan rombongan, checklist keselamatan tak boleh dilewatkan, dan perlindungan terhadap nyawa menjadi prioritas utama.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like