Trump Perintahkan Uji Coba Senjata Nuklir AS, Karena Rusia?

750 x 100 AD PLACEMENT

Narayapost — Uji Coba Senjata Nuklir AS. Dunia kembali menahan napas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memerintahkan Pentagon untuk memulai kembali uji coba senjata nuklir. Keputusan yang diumumkan pada akhir Oktober ini menandai perubahan drastis dalam kebijakan pertahanan Amerika, yang selama lebih dari tiga dekade terakhir menahan diri dari ledakan nuklir nyata.

Perintah itu disampaikan Trump dalam rapat tertutup di Gedung Putih yang dihadiri pejabat tinggi pertahanan. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak bisa lagi “hanya menjadi penonton” sementara negara lain, terutama Rusia dan China, terus mengembangkan dan menguji kemampuan senjata strategis mereka. Menurut Trump, langkah ini bukan dimaksudkan untuk memulai perang baru, melainkan untuk memastikan Amerika tetap memiliki keunggulan militer yang mutlak.

BACA JUGA : Eks Sekjen Kemnaker Diduga Turut Terima Uang dari Pemerasan Calon TKA

Keputusan itu datang hanya beberapa hari setelah Moskow mengumumkan keberhasilan uji rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik, yang diklaim dapat menempuh jarak ribuan kilometer dan menembus sistem pertahanan apa pun. Sementara itu, intelijen Amerika melaporkan bahwa China juga mempercepat modernisasi persenjataan nuklirnya dengan membangun lebih banyak silo rudal di wilayah gurun Gansu. Dalam situasi inilah Trump menyatakan, “Jika mereka melakukannya, maka kami juga harus siap.”

Langkah tersebut sontak memunculkan gelombang kekhawatiran dari komunitas internasional. Sebagian pihak menilai, perintah ini bisa membuka kembali era perlombaan senjata yang selama tiga dekade terakhir berusaha dikendalikan melalui serangkaian perjanjian multilateral. Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT) dan kesepakatan pembatasan senjata strategis seperti New START, dinilai bisa kehilangan relevansinya bila Amerika benar-benar melakukan uji coba fisik di lapangan.

Sumber di Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi bahwa lokasi uji coba yang sedang dipertimbangkan adalah di Nevada Test Site, fasilitas lama yang digunakan selama Perang Dingin. Meski belum ada tanggal pasti, proses persiapan dan pengujian awal non-ledakan disebut sudah berjalan. Pentagon sendiri tidak memberikan rincian tambahan, namun menegaskan bahwa setiap langkah akan tetap mematuhi prosedur keselamatan lingkungan dan standar internasional.

Keputusan Trump itu juga menuai perdebatan sengit di dalam negeri. Sejumlah anggota Kongres, terutama dari Partai Demokrat, mendesak agar Gedung Putih tidak mengambil langkah sepihak yang berpotensi mengancam stabilitas global. Mereka berpendapat, kembalinya uji coba nuklir akan menimbulkan efek domino yang sulit dikendalikan. Negara-negara lain bisa merasa terancam dan memutuskan untuk melakukan hal serupa, yang pada akhirnya menimbulkan ketegangan baru seperti era 1960-an.

Namun, di sisi lain, para pendukung Trump berargumen bahwa kebijakan ini adalah bentuk nyata dari doktrin “America First” yang ia gaungkan sejak masa kampanye. Menurut mereka, ketika Rusia dan China secara terbuka menguji sistem persenjataan nuklir baru, Amerika Serikat tidak bisa tinggal diam. Menahan diri justru dianggap melemahkan posisi tawar Washington di meja diplomasi internasional.

Analis pertahanan dari Brookings Institution menyebut langkah ini sebagai “strategi pencegahan ekstrem”. Tujuannya bukan semata melakukan ledakan nuklir, melainkan menunjukkan kesiapan Amerika untuk kembali bersaing di level tertinggi. Dalam politik global, kadang demonstrasi kemampuan saja sudah cukup menjadi pesan kuat bagi lawan. Namun risiko diplomatiknya tidak kecil. Sekali saja uji coba benar-benar dilakukan, kepercayaan internasional terhadap Amerika sebagai promotor stabilitas global bisa runtuh.

Banyak negara sekutu AS, termasuk di Eropa, mengungkapkan keprihatinan atas kebijakan tersebut. Pemerintah Jerman dan Prancis menyerukan agar Washington tetap mematuhi semangat pengendalian senjata dan memperkuat dialog strategis dengan Rusia, bukan sebaliknya. Pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Komisi Pelucutan Senjata juga meminta agar setiap negara besar menghindari tindakan yang dapat meningkatkan risiko perang nuklir terbuka.

Sementara itu, dari Moskow, Kementerian Luar Negeri Rusia menilai keputusan Trump sebagai langkah provokatif. Rusia menyebut pihaknya hanya melakukan “uji sistem pertahanan konvensional” dan tidak memiliki niat memulai perlombaan senjata. Namun, dalam waktu hampir bersamaan, militer Rusia melakukan latihan besar-besaran di Laut Barents dengan melibatkan kapal selam nuklir kelas Borei, yang memperlihatkan kesiapan penuh jika eskalasi meningkat.

Para pengamat menilai, kebijakan ini akan menjadi ujian serius bagi hubungan internasional di masa depan. Dunia pasca-Perang Dingin telah terbiasa hidup di bawah ancaman laten, namun jarang menghadapi situasi di mana kekuatan besar secara terbuka kembali berbicara tentang uji coba nuklir. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan global kini bukan hanya soal ekonomi dan teknologi, tetapi juga tentang siapa yang paling siap menghadapi skenario ekstrem.

Bagi kawasan Asia Tenggara, situasi ini juga bisa berdampak tidak langsung. Negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura selama ini memegang prinsip bebas nuklir dan mendukung pelucutan senjata global. Namun meningkatnya ketegangan antara negara besar dapat memengaruhi keseimbangan regional, terutama jika kebijakan pertahanan negara besar berimbas pada kawasan Indo-Pasifik.

Meski Trump menegaskan bahwa langkah ini hanya untuk memastikan kesiapan militer Amerika, banyak pihak percaya bahwa dampaknya akan lebih luas daripada sekadar latihan teknis. Uji coba nuklir di era digital ini akan menjadi pesan simbolik bahwa dunia telah kembali ke logika deterensi abad ke-20: menjaga damai dengan menunjukkan kemampuan menghancurkan.

BACA JUGA : Bahan Dapur Ini Bisa Buat Kentang Panggang Semakin Enak Lho

Uji Coba Senjata Nuklir AS. Kini, sorotan tertuju pada langkah selanjutnya Pentagon. Apakah Amerika benar-benar akan melakukan ledakan nuklir pertama sejak 1992, ataukah ini hanya bentuk tekanan politik untuk menekan Rusia dan China dalam negosiasi? Apapun jawabannya, keputusan ini sudah cukup untuk mengguncang keseimbangan strategis global yang rapuh.

Bagi masyarakat internasional, keputusan Trump menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak pernah bisa diambil sebagai sesuatu yang pasti. Selama senjata nuklir masih ada, ancaman kehancuran total tetap menjadi bayang-bayang yang tak pernah benar-benar hilang. Dunia kembali berada di persimpangan antara diplomasi dan dominasi. Dan seperti sejarah berkali-kali menunjukkan, hasil akhirnya akan sangat bergantung pada sejauh mana para pemimpin dunia memilih nalar daripada ego.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like