Pemilu Tanzania Berlangsung Ricuh, Warga Tak Terima Hasil!

Kondisi Pemilu di Tanzania. Image: Ericky Boniphase/DW
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Ketegangan politik melanda pemilu Tanzania usai pemilihan yang digelar tanpa kehadiran lawan politik utama Presiden Samia Suluhu Hassan. Pemilu yang diwarnai dengan lawan kotak kosong itu berujung kerusuhan setelah warga menolak hasil kemenangan Hassan. Sejumlah laporan menyebutkan, aksi protes pecah di berbagai wilayah karena masyarakat menilai proses pemilu tidak berjalan adil.

Dikutip dari AFP, Jumat (31/10/2025), Presiden Samia Suluhu Hassan berasal dari partai berkuasa Chama Cha Mapinduzi (CCM) yang telah memegang kendali politik sejak 1961. Demi memperkuat kekuasaan dan menekan kritik, kandidat dari dua partai oposisi utama disebut dilarang mencalonkan diri. Sejumlah tokoh penentang juga dilaporkan ditahan menjelang pelaksanaan pemungutan suara.

Pemilu Tanzania Ricuh, Warga Ajukan Protes

Ketidakpuasan warga pun meluas. Ribuan orang turun ke jalan di Dar es Salaam dan sejumlah kota lain untuk menentang hasil pemilu. Massa dilaporkan merobek poster Hassan, menyerang kantor polisi, serta merusak tempat pemungutan suara. Situasi yang memanas membuat aparat keamanan menutup akses internet dan memberlakukan jam malam di beberapa wilayah.

BACA JUGA: Cak Imin Akan Bangun 1.001 Pasar Malam Tumbuhkan UMKM

Tidak hanya itu, jurnalis asing dilarang meliput proses pemilu dan komunikasi dibatasi sehingga informasi dari lapangan sulit didapat. Saksi mata di Sinza dan Dodoma menyebutkan bahwa demonstrasi masih berlanjut hingga Kamis (30/10/2025) malam.

“Massa membakar ban di jalanan dan bentrok dengan aparat,” ujar seorang warga. Sejumlah laporan menyebut adanya korban jiwa, namun jumlah pastinya belum bisa dipastikan karena rumah sakit dan klinik setempat enggan memberikan keterangan kepada media.

Sejumlah Media Lokal Dilarang Meliput

Kondisi tersebut diperparah dengan tidak aktifnya sejumlah media lokal yang berhenti memperbarui pemberitaan sejak Rabu (29/10). Presiden Hassan sendiri belum memberikan komentar resmi terkait kerusuhan ini. Satu-satunya pernyataan publik datang dari Panglima Angkatan Darat Jacob Mkunda, yang menyebut para demonstran sebagai “penjahat”.

Sementara itu, di wilayah Zanzibar, partai CCM telah mengumumkan kemenangan mutlak, namun hasil tersebut ditolak oleh partai oposisi ACT-Wazalendo. “Mereka telah merampas hak suara rakyat Zanzibar. Satu-satunya solusi untuk menegakkan keadilan adalah lewat pemilu ulang,” ujar juru bicara ACT-Wazalendo.

Ada Dugaan Indikasi Kecurangan?

Pejabat partai oposisi itu juga menuding telah terjadi kecurangan dalam proses pemungutan suara. “Kotak suara telah diisi sebelumnya. Warga diperbolehkan memilih berkali-kali tanpa menunjukkan KTP, dan pemantau pemilu diusir dari tempat perhitungan,” ungkapnya. Seorang warga berusia 70 tahun menambahkan, “Tidak pernah ada pemilu yang kredibel sejak 1995.”

Warga lain yang enggan disebutkan namanya mengaku takut berbicara. “Kami takut bicara karena mereka bisa saja datang ke rumah dan menangkap kami,” katanya. Hingga kini, situasi di Tanzania masih mencekam dengan aparat yang berjaga ketat di sejumlah titik strategis.

Larangan Kandidat Oposisi Mencalonkan Jadi Amarah Utama

Kerusuhan pasca-pemilu di Tanzania menandai meningkatnya ketegangan politik di negara tersebut. Larangan terhadap kandidat oposisi untuk mencalonkan diri dinilai menjadi pemicu utama kemarahan publik yang berujung pada aksi protes besar-besaran.

BACA JUGA: Komnas HAM Merasa Ingin Disingkirkan Pemerintah

Adanya keterbatasan akses informasi yang dibatasi, termasuk pelarangan liputan media asing dan pemutusan jaringan internet, situasi di lapangan sulit dipantau secara menyeluruh. Hingga kini, Presiden Samia Suluhu Hassan belum memberikan tanggapan resmi atas gelombang demonstrasi dan laporan korban jiwa yang muncul.

Sementara itu, pihak oposisi di Zanzibar menolak hasil pemilu dan menuntut pemungutan suara ulang. Pernyataan Panglima Angkatan Darat yang menyebut demonstran sebagai penjahat turut memperkeruh suasana.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan masyarakat terhadap proses politik masih tinggi, dan stabilitas Tanzania kini sangat bergantung pada langkah pemerintah dalam merespons tuntutan keadilan serta memastikan proses demokrasi berjalan transparan di masa mendatang.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like