Narayapost.com – Kalimantan Timur. Tari Hudoq Dayak. Di pedalaman Kalimantan Timur, suara tabuhan gong berpadu dengan denting lonceng dari kostum kayu yang besar dan topeng warna-warni. Dari balik dedaunan pisang dan kulit kayu, muncul sosok-sosok bertopeng menyerupai hewan buas dan roh hutan. Inilah Tari Hudoq, salah satu tarian paling tua dan sakral milik suku Dayak Bahau dan Dayak Modang yang hidup di daerah Mahakam Hulu.
Tari Hudoq bukan sekadar pertunjukan seni. Bagi masyarakat Dayak, tarian ini adalah bagian dari upacara ritual yang diwariskan turun-temurun untuk memohon kesuburan tanah, melindungi tanaman dari hama, serta menolak bala. Setiap gerakan dan kostum penari memiliki makna filosofis yang dalam — mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan roh leluhur.
BACA JUGA : Eks Pekerja Migran Bisa Jadi Mentor di Kopdes Merah Putih
Menurut catatan Dinas Kebudayaan Kalimantan Timur, kata “Hudoq” berasal dari bahasa Dayak yang berarti “topeng” atau “wajah roh.” Dalam kepercayaan setempat, roh-roh penjaga hutan dan alam akan menitis ke dalam tubuh para penari selama prosesi berlangsung. Karena itu, tari ini dianggap sakral dan hanya boleh dipentaskan pada waktu tertentu, terutama setelah masa tanam padi atau menjelang panen raya.
Sejarah Tari Hudoq telah ada sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum pengaruh agama modern masuk ke wilayah pedalaman. Dahulu, ritual ini digelar sebagai bentuk penghormatan kepada dewa penumbuh tanaman yang disebut Juvo atau Hudoq Nyading. Warga percaya bahwa dengan menarikan Hudoq, mereka sedang mengundang roh pelindung agar hasil panen melimpah dan terhindar dari bencana alam.
Penampilan para penari Hudoq sangat khas dan mudah dikenali. Mereka mengenakan topeng besar berbentuk wajah binatang seperti burung enggang, babi hutan, anjing, atau monster hutan — simbol roh baik yang menjaga keseimbangan alam. Kostum mereka terbuat dari daun pisang, kulit kayu, dan anyaman serat alami yang menutupi seluruh tubuh hingga menyerupai makhluk rimba. Gerakannya pun cepat, menghentak, dan dinamis — mencerminkan semangat kehidupan masyarakat Dayak yang kuat dan dekat dengan alam.
Salah satu pemuka adat Dayak Bahau, Apen Tui, dalam sebuah wawancara menjelaskan bahwa setiap penari Hudoq tidak hanya meniru gerakan hewan, melainkan juga menyalurkan energi spiritual yang dipercaya berasal dari leluhur. “Kami tidak sekadar menari, tapi berkomunikasi dengan alam. Ketika menarikan Hudoq, kami meminta izin kepada roh penjaga bumi agar tanaman tumbuh dengan baik,” ujarnya.
Kini, Tari Hudoq tidak lagi hanya dilakukan dalam konteks ritual, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas budaya Kalimantan Timur. Pemerintah daerah bahkan menetapkan festival tahunan bernama Festival Hudoq Cross Border di Kabupaten Mahakam Ulu. Festival ini menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin menyaksikan keindahan budaya Dayak sekaligus merasakan atmosfer mistis yang menyertainya.
Dalam festival tersebut, masyarakat dari berbagai subetnis Dayak menampilkan variasi Hudoq yang berbeda. Ada Hudoq dari Dayak Modang yang cenderung lebih cepat dan energik, sementara Hudoq Bahau menekankan aspek ritual dengan gerak lambat dan penuh penghormatan. Seluruh acara berlangsung selama beberapa hari, disertai doa adat dan ritual mamah pinang sebagai simbol penyatuan masyarakat dengan leluhur mereka.
Selain nilai spiritual, Tari Hudoq juga menjadi media pendidikan sosial bagi generasi muda Dayak. Melalui latihan dan pementasan, anak-anak diajarkan nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, serta pentingnya menjaga warisan leluhur. “Kami ingin anak muda bangga menjadi Dayak dan tidak melupakan akar budayanya,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Mahakam Ulu, Yuvita Luwi, saat pembukaan festival tahun lalu.
Uniknya, tarian ini juga menggambarkan siklus kehidupan. Ketika para penari bergerak liar dan berputar di tengah lapangan, hal itu melambangkan kekuatan alam yang tidak bisa dikendalikan manusia. Namun pada akhir pertunjukan, musik dan gerakan perlahan melambat, menandakan keselarasan telah tercapai antara manusia dan alam semesta.
Pemerintah Kalimantan Timur bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah memasukkan Tari Hudoq ke dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2015. Langkah ini bertujuan melestarikan ritual kuno tersebut dari ancaman modernisasi dan komersialisasi yang kerap mengikis makna aslinya. Kini, sejumlah komunitas budaya Dayak aktif mengadakan pelatihan dan dokumentasi agar tarian ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan.
BACA JUGA : BKSAP DPR Pastikan Bantuan dari Rakyat Indonesia Sampai kepada Warga Palestina
Dari sudut pandang antropologi, Hudoq menggambarkan sistem kepercayaan animistik Dayak yang menempatkan alam sebagai pusat kehidupan. Bagi mereka, hutan bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan juga rumah bagi roh leluhur dan kekuatan suci. Karena itu, setiap gerakan dalam tari Hudoq sejatinya adalah bentuk doa agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Meski dunia terus berubah, semangat menjaga harmoni alam yang terkandung dalam Tari Hudoq tetap relevan hingga kini. Ketika banyak tradisi tergerus arus globalisasi, masyarakat Dayak tetap mempertahankan ritual ini sebagai simbol jati diri dan kebanggaan. Di tengah deru pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam di Kalimantan, gema gong dan hentakan kaki penari Hudoq seolah mengingatkan bahwa kesejahteraan sejati hanya bisa dicapai bila manusia hidup seimbang dengan alam.