Soal Gencatan Senjata, PM Qatar-Yordania Lakukan Pertemuan

Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani. Dok. VOI.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani melakukan pertemuan penting dengan Jafar Hassan, pejabat tinggi asal Yordania, dalam kunjungan resmi ke Doha. Pertemuan ini menjadi sorotan dunia internasional karena ini membahas berlangsung di saat implementasi perjanjian soal gencatan senjata di Jalur Gaza masih rapuh dan rentan terhadap pelanggaran.

Keduanya membahas perkembangan situasi di Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki, serta memperkuat koordinasi diplomatik antarnegara untuk memastikan tercapainya stabilitas dan perdamaian jangka panjang di kawasan tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, Sheikh Mohammed menegaskan bahwa diperlukan “upaya bersama di tingkat regional dan internasional untuk memastikan implementasi penuh dari perjanjian gencatan senjata” agar tidak hanya menjadi jeda sementara, tetapi menjadi langkah nyata menuju penyelesaian konflik secara berkelanjutan. Pernyataan ini sejalan dengan laporan dari Qatar News Agency (QNA) yang dikutip Al Jazeera pada Selasa (4/11), yang menyebutkan bahwa Qatar berkomitmen menjaga momentum perdamaian sekaligus mengawasi pelaksanaan kesepakatan secara konkret di lapangan.

BACA JUGA: Was Wis Wus Selamatkan Whoosh

Yordania Tekankan Pentingnya Soal Gencatan Senjata

Yordania melalui Jafar Hassan juga menekankan pentingnya mempertahankan gencatan senjata dan menjamin penyaluran bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Gaza yang masih terjebak dalam krisis. Laporan Jordan News menyebutkan bahwa kedua negara sepakat untuk terus berkoordinasi dalam memastikan pengiriman bantuan berjalan cepat dan memadai, serta menjamin pelaksanaan seluruh ketentuan dari kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Dukungan ini muncul pada saat kondisi di Gaza masih memanas, meski kesepakatan penghentian sementara serangan telah diumumkan pada 10 Oktober 2025 antara Israel dan Hamas. Dalam praktiknya, pelanggaran terhadap kesepakatan masih terjadi. Pesawat tempur Israel dilaporkan terus melancarkan serangan udara di beberapa titik di Gaza, menyebabkan korban sipil bertambah dan infrastruktur semakin hancur. Situasi ini menunjukkan bahwa proses menuju stabilitas masih panjang dan membutuhkan komitmen politik yang kuat dari seluruh pihak yang terlibat.

Selain membahas gencatan senjata, pertemuan antara Qatar dan Yordania juga membicarakan kemungkinan pembentukan mekanisme internasional untuk mengawasi pelaksanaan perdamaian. Sheikh Mohammed dalam wawancaranya dengan CNN sempat menyinggung pentingnya kehadiran kekuatan internasional yang memiliki mandat jelas di Gaza untuk menjaga keamanan dan mencegah kekosongan kekuasaan.

Gaza Harus Dipimpin Palestina Tanpa Dominasi Asing

Gagasan ini sejalan dengan desakan sejumlah negara Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang dalam pertemuan di Istanbul menegaskan bahwa masa depan Gaza harus dipimpin oleh rakyat Palestina sendiri, tanpa dominasi kekuatan asing. Dengan posisi strategisnya, Qatar telah memainkan peran penting sebagai mediator antara Hamas dan Israel, sementara Yordania memegang peranan sentral sebagai negara yang menampung banyak warga keturunan Palestina dan memiliki pengaruh diplomatik di kawasan.

Namun, jalan menuju perdamaian yang sesungguhnya masih penuh tantangan. Menurut laporan dari Anadolu Agency (AA), masih ada beberapa hambatan utama yang mengganjal kelanjutan kesepakatan, antara lain status senjata Hamas, mekanisme pengawasan pasukan internasional, dan siapa yang akan memimpin Gaza setelah fase transisi. Qatar dan Amerika Serikat dalam komunikasi diplomatik terbaru juga menegaskan perlunya “implementasi penuh dari kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas” serta penguatan peran lembaga internasional dalam menjamin perlindungan warga sipil.

BACA JUGA: Planetarium Jakarta Gelar Piknik Malam Supermoon Gratis, 5 November

Hingga saat ini, laporan menunjukkan bahwa meskipun Hamas telah membebaskan sejumlah sandera dan menyerahkan jenazah korban, Israel masih melanjutkan operasi militer terbatas di beberapa wilayah Gaza dengan alasan keamanan nasional. Kondisi ini menempatkan Gaza dalam situasi yang oleh The Guardian disebut sebagai “limbo mematikan tanpa perang, tanpa damai,” menggambarkan bahwa meski pertempuran utama berhenti, penderitaan rakyat Gaza belum berakhir.

Pertemuan Jadi Upaya Ambil Alih Peran Strategis Penyelesaian Konflik

Dalam konteks lebih luas, pertemuan diplomatik ini menjadi simbol dari upaya negara-negara Arab untuk mengambil kembali peran strategis dalam penyelesaian konflik Palestina-Israel dengan membahas soal gencatan senjata, yang selama ini didominasi oleh kekuatan Barat. Qatar dan Yordania memandang bahwa gencatan senjata hanyalah langkah awal, sementara langkah berikutnya adalah menciptakan sistem pemerintahan yang sah dan stabil di Gaza serta memastikan bantuan kemanusiaan masuk tanpa hambatan politik.

Mereka juga mendorong terbentuknya International Stabilization Force dengan mandat yang jelas di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjamin keamanan dan membantu membangun institusi lokal Palestina. Dalam pandangan keduanya, perdamaian tidak bisa dipaksakan melalui tekanan militer, tetapi harus dibangun melalui kepercayaan, stabilitas politik, dan pemulihan kemanusiaan yang berkeadilan. Dengan diplomasi yang intensif dan kerja sama lintas negara, Qatar dan Yordania berharap gencatan senjata di Gaza dapat menjadi titik balik menuju masa depan yang lebih damai dan bermartabat bagi rakyat Palestina.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like