Vladimir Putin: Rusia Tidak Berniat Serang Eropa

Presiden Rusia Vladimir Putin mengeklaim tidak ada negara lain yang dapat menyaingi persenjataan nuklir Rusia.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan negaranya tidak pernah berniat menyerang Eropa.

“Menegaskan Rusia tidak berniat menyerang Eropa sebenarnya terdengar absurd bagi kami, karena kami memang tidak pernah memiliki rencana seperti itu.”

“Namun jika mereka tetap ingin mendengarnya langsung dari kami, silakan.”

“Kami siap meresmikannya, kami tidak keberatan,” ujar Putin kepada wartawan, Kamis (27/11/2025).

Putin menuding sejumlah pejabat asing memanfaatkan kekhawatiran keamanan yang tidak berdasar demi keuntungan politik atau ekonomi.

“Ada orang-orang yang, menurut pandangan saya, tampak kurang berpikir jernih ketika mereka mengatakan kepada warganya ‘Rusia sedang bersiap menyerang Eropa dan kita harus segera memperkuat kemampuan pertahanan,’” tutur Putin.

Dari sudut pandang Rusia, lanjut Putin, tuduhan tersebut tidak memiliki dasar fakta, dan lebih mencerminkan upaya memutarbalikkan realitas daripada kekhawatiran keamanan yang sebenarnya.

Uji Coba Nuklir

Vladimir Putin juga mengungkapkan, Amerika Serikat (AS) mengundang Moskow untuk membahas isu terkait uji coba nuklir.

“Saya telah memerintahkan pengumpulan informasi tambahan mengenai tindakan pihak AS, menganalisisnya, dan menyampaikan kepada saya usulan tentang langkah yang harus kami ambil terkait situasi ini.”

“Salah satu saran yang kami terima adalah bekerja bersama dalam topik ini.”

BACA JUGA: Donald Trump Yakin Perang Rusia Vs Ukraina Segera Berakhir

“Itu yang kami tangkap dari apa yang terlihat,” ungkap Putin usai kunjungannya ke Kirgistan.

Putin menegaskan, Rusia harus siap menghadapi berbagai kemungkinan dalam bidang stabilitas strategis, dan Moskow akan menyiapkan diri untuk itu.

Jika AS tidak ingin mengambil langkah apa pun terkait berakhirnya masa berlaku perjanjian New START, kata Putin, maka hal itu menjadi keputusan Washington.

Vladimir Putin juga menyatakan Rusia siap membahas isu stabilitas strategis dengan AS kapan pun diperlukan.

Percepat Mobilitas Militer

Komisi Eropa mengajukan proposal aturan Schengen militer untuk mempercepat pergerakan personel dan peralatan militer di wilayah negara-negara Uni Eropa, baik dalam situasi damai maupun keadaan darurat.

Usulan tersebut disampaikan Henna Virkkunen, Wakil Presiden Eksekutif Komisi Eropa untuk Kedaulatan Teknologi, Keamanan, dan Demokrasi, Rabu (19/11/2025).

“Mobilitas militer adalah prioritas utama untuk memperkuat pertahanan Eropa, dan karena itu kami mengadopsi paket mobilitas militer hari ini.”

“Tujuan kami adalah menciptakan Schengen militer, di mana pasukan dan perlengkapan Eropa dapat bergerak cepat dan aman melintasi perbatasan kami,” ujar Virkkunen dalam sebuah konferensi pers.

Komisi Eropa menyatakan, hambatan regulasi terkait mobilitas militer akan dihapuskan dengan batas maksimal waktu pemrosesan tiga hari.

Virkkunen menambahkan, Uni Eropa akan membentuk kerangka darurat berupa sistem respons mobilitas militer Eropa yang dipercepat, untuk mempercepat prosedur dan memberikan akses prioritas terhadap infrastruktur yang mendukung operasi angkatan bersenjata dalam konteks Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

BACA JUGA: Eropa Siapkan Usulan Damai Tandingan untuk Rusia-Ukraina

Komisioner Uni Eropa untuk Transportasi Berkelanjutan dan Pariwisata Apostolos Tzitzikostas mengatakan, Uni Eropa berencana mengalokasikan dana 100 miliar euro atau sekitar 115,9 miliar dolar AS (sekitar Rp1.936,5 triliun), untuk membangun 500 titik infrastruktur strategis pada 2030.

Agenda Readiness 2030, menurutnya, menegaskan seluruh proyek tersebut harus diselesaikan sebelum akhir dekade ini.

“Kami memperkirakan pembangunan 500 hotspot membutuhkan sekitar 100 miliar euro, sehingga kita perlu mulai berinvestasi sekarang,” ujar Tzitzikostas.

Menurut pernyataan Komisi Eropa, inisiatif itu bertujuan mempermudah pemindahan pasukan dan perlengkapan militer ke wilayah timur, jika terjadi konflik dengan Rusia.

“Eropa harus belajar dari pengalaman Ukraina, memperkuat ketahanan, dan membangun ekosistem pertahanan baru yang menyatukan pelaku industri, inovator, dan komunitas teknologi untuk menghadirkan kapabilitas secara lebih cepat dan efisien,” papar pernyataan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia menyatakan aktivitas NATO di perbatasan baratnya meningkat secara signifikan.

NATO terus memperluas inisiatifnya dan menyebut langkah tersebut sebagai upaya “menahan agresi Rusia.

Pihak berwenang Rusia berulang kali menyampaikan kekhawatiran atas peningkatan aktivitas blok militer-politik tersebut di Eropa.

Kremlin menegaskan Rusia tidak mengancam siapa pun, tetapi tidak akan mengabaikan tindakan yang berpotensi membahayakan kepentingannya. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like