Erupsi Gunung Semeru: Tiga Kali Letusan, Kolom Abu 900 Meter

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Erupsi Gunung Semeru. Pagi ini pulau Jawa kembali dikejutkan dengan aktivitas vulkanik dari Gunung Semeru. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu meletus sebanyak tiga kali dalam selang waktu beberapa puluh menit dengan kolom abu dan awan panas yang mencapai ketinggian sekitar 900 meter di atas puncak. Kejadian ini kembali mengingatkan masyarakat akan betapa rapuhnya kondisi di sekitar gunung api, dan pentingnya kewaspadaan serta kesiapsiagaan menghadapi letusan.

Menurut petugas pengamatan, erupsi pertama terjadi pada pukul 05.09 WIB dengan kolom letusan mencapai sekitar 500 meter di atas puncak. Kemudian disusul erupsi kedua sekitar pukul 05.58 WIB, dengan kolom abu teramati naik hingga 700 meter. Dan erupsi ketiga yang paling besar terjadi sekitar pukul 06.08 WIB, menghasilkan kolom abu dan awan panas yang menjulang sekitar 900 meter di atas puncak atau sekitar 4.576 meter di atas permukaan laut. Suara gemuruh, lontaran pijar, dan intensitas guncangan tercatat di seismograf menandakan letusan kuat yang tidak bisa dianggap remeh.

BACA JUGA : Prabowo Tinjau Korban Bencana di Tapteng, Janji Segera Atasi

“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 06.08 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 900 meter di atas puncak atau 4.576 meter di atas permukaan laut,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dilansir Antara, Senin (1/12/2025).
Sigit mengungkap kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat daya. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 116 detik.
Sigit menjelaskan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu kini berstatus Siaga atau Level III, sehingga Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi yakni masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).

“Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” katanya.

Selain itu, masyarakat masih dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).

Mengapa Semeru Sangat Rentan?

Letusan kali ini tidak muncul tiba-tiba. Semeru adalah gunung berapi stratovulkanik dengan sejarah panjang aktivitas vulkanik dan kerawanan alam. Sebagai puncak tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut topografi dan karakter geologinya membuatnya sangat sensitif terhadap hujan lebat, longsor lava, dan pelepasan tekanan magma.

Belakangan, PVMBG mencatat bahwa aktivitas seismic dan vulkanik di Semeru meningkat dari gempa vulkanik, pelepasan gas, hingga guguran lava tebal. Hal ini adalah bagian dari rangkaian erupsi yang terjadi sepanjang 2025. Erupsi pagi ini menjadi pengulangan pola rentan yang terus terjadi, menunjukkan bahwa gunung ini tetap dalam kondisi “aktif siaga tinggi.”

Potensi Bahaya bagi Warga & Lingkungan

Letusan seperti hari ini membawa banyak risiko nyata bagi warga di sekitar lereng dan aliran sungai terutama daerah-daerah yang berada di jalur aliran lahar dan awan panas (zona Besuk Kobokan dan anak-anak sungainya). Kolom abu dan awan panas yang tinggi bisa menyebar ke area luas, memengaruhi kualitas udara, menyulitkan transportasi, dan bahkan mengganggu aktivitas penerbangan atau penerbangan sipil.

Selain itu, hujan abu vulkanik bisa menyebabkan gangguan pernapasan, iritasi mata, dan kompromi pada sistem pernapasan warga. Abu yang menempel di atap dan saluran air juga bisa mempengaruhi pasokan air bersih dan menyebabkan kerusakan pada rumah atau lahan pertanian.

Dalam jangka panjang, dampak erupsi sering tidak hanya berhenti pada fisik. Kehidupan masyarakat pertanian, peternakan, infrastruktur bisa terganggu, terutama bila ada erupsi susulan, aliran lahar, atau banjir lahar saat hujan deras menyusul.

Imbauan dan Langkah Mitigasi

Dengan status Siaga tetap berlaku, PVMBG telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting: masyarakat dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak, serta menjaga jarak minimal 500 meter dari tepi sungai sepanjang aliran lahar. Radius aman dari kawah tetap 5 km dari puncak.

Warga di kawasan rawan disarankan untuk tetap waspada, memantau informasi resmi, dan siap siaga terhadap kemungkinan erupsi susulan. Penyediaan masker, obat pernapasan, perlengkapan darurat, dan jalur evakuasi yang jelas menjadi penting. Pemerintah daerah dan instansi kebencanaan diminta memperbarui peta risiko, menyiapkan posko darurat, serta mempersiapkan rute evakuasi aman.

Selain itu, warga di luar zona bahaya termasuk wisatawan, pendaki, dan masyarakat umum juga harus menghormati larangan akses ke zona terdampak. Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan untuk menghindari korban.

Arti Erupsi Semeru Bagi Indonesia

Erupsi Gunung Semeru hari ini bukan hanya peristiwa alam lokal. Gunung Semeru adalah bagian dari rantai gunung api di Indonesia yang berada di “Cincin Api Pasifik,” sehingga aktivitasnya mempengaruhi kesadaran nasional akan mitigasi bencana, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan.

Setiap erupsi Gunung Semeru semacam ini harus jadi momentum untuk memperkuat sistem peringatan dini, pendidikan mitigasi bencana, serta konsolidasi kebijakan lingkungan dan tata ruang di daerah rawan. Karena korban sering tidak hanya fisik tetapi sosial, ekonomi, dan psikologis.

BACA JUGA : Diagnosis Jiwa Pakai AI Bisa Memperburuk Kesehatan Mental

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like