NarayaPost – Menteri ESDM menyatakan keyakinannya bahwa produksi minyak mentah nasional bisa terus bertambah hingga sekitar 100 ribu barel per hari (BOPD) setiap tahun, sehingga pada 2030 diharapkan mampu mencapai 1 juta BOPD.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa target produksi minyak mentah pada 2025 ditetapkan sebesar 605 ribu BOPD, kemudian naik menjadi 610 ribu BOPD pada 2026.
“Pada tahun 2024, tingkat produksi kita sekitar 580 ribu barel per hari. Jadi dengan adanya peningkatan sekitar 25 ribu barel per hari pada tahun 2025 ini merupakan bagian capaian dalam rangka ketahanan energi,” ujar Yuliot saat menghadiri Rakor Dukungan Bisnis SKK Migas, Rabu (3/12/2025).
BACA JUGA: Pemerintah Tangani Bencana Banjir di Sumatera Secara Nasional
Ia menambahkan bahwa peningkatan produksi akan dilakukan secara bertahap. Pada 2027 ditargetkan mencapai 700 ribu BOPD, kemudian naik menjadi 800 ribu BOPD pada 2028, dan sekitar 900 ribu BOPD pada 2029. “Jadi targetnya sampai dengan 900 ribu barel sampai dengan 1 juta barel per hari. Berarti rata-rata per tahun kita harus meningkatkan produksi sekitar 100 ribu barel per hari,” kata Yuliot.
Ia menegaskan kembali bahwa pemerintah berupaya menjaga peningkatan bertahap tersebut agar pada 2030 produksi bisa mencapai level 1 juta BOPD. “Tentu kita berusaha untuk bagaimana secara gradual peningkatan produksi ini bisa kita lakukan sampai dengan pada tahun 2030 mencapai sekitar 1 juta barel per hari,” tuturnya.
Menurut Yuliot, sejumlah strategi telah disiapkan untuk mencapai target tersebut. Salah satunya adalah perbaikan regulasi terkait perizinan bagi perusahaan atau KKKS, mulai dari pengadaan lahan hingga pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Selain itu, terdapat tantangan dalam penyediaan infrastruktur dasar yang perlu dipercepat, baik oleh KKKS maupun pemerintah.
Aspek lain yang disoroti adalah ekosistem peralatan dalam negeri, di mana pemenuhan TKDN di sektor hulu migas saat ini telah mencapai sekitar 40 persen. “Ke depan, berdasarkan ekosistem yang terbangun, kita secara bertahap akan meningkatkan ketersediaan barang-barang yang diperlukan oleh perusahaan KKKS dalam rangka pencapaian TKDN,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan sejumlah langkah yang telah dijalankan untuk mendorong produksi, seperti penerapan teknologi Multi-Stage Fracturing (MSF), Enhanced Oil Recovery (EOR), serta optimalisasi sumur tua, idle, dan sumur masyarakat. Ia juga menyatakan bahwa SKK Migas akan menargetkan lebih banyak pengeboran eksplorasi pada 2026 melalui work program and budget (WP&B).
“Kami minta agar dalam work program and budget 2026, paling tidak minimum 100 sumur eksplorasi, kemudian 100 MSF, dan 100 sumur di struktur atau lapangan-lapangan baru,” jelas Djoko.
BACA JUGA: Status Internasional Bandara IMIP Dicabut, Rosan Jelaskan Dampaknya
Namun, Djoko mengakui masih ada hambatan dalam mencapai target, seperti proses perizinan, ketidakpastian rantai pasok, kesiapan vendor lokal dan TKDN, dinamika sosial, hingga aspek keamanan di lapangan.
Ia mencontohkan kendala operasional yang sempat terjadi di Selat Madura dan tantangan dalam monetisasi temuan gas agar segera dimanfaatkan. “Alhamdulillah tim bekerja saat ini untuk negosiasi harga gas yang sebelumnya sangat lama, sekarang dalam waktu kurang dari 1 jam, bahkan 5 menit, 10 menit sudah selesai,” ucapnya.
Sebagai ilustrasi, Djoko menyebutkan temuan gas di Blok Andaman dengan potensi sekitar 11 TCF, di mana 300 MMSCF akan segera diproduksikan. Lalu, Djoko menyebut telah melakukan negosiasi harga dengan pihak PLN.
“Itu negosiasi harga gasnya dengan PLN cuma makan waktu tidak kurang dari 10 menit,” tambahnya.