NarayaPost – Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan bahwa sejumlah usulan poin damai dalam rencana Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Ukraina tidak bisa diterima oleh pemerintahannya. Hal ini menunjukkan bahwa upaya mencapai kesepakatan damai masih menghadapi rintangan besar, meski utusan AS terus melakukan diplomasi secara intensif.
Pada hari ini, Putin mengadakan pertemuan dengan Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, serta menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner. Pertemuan itu berlangsung selama lima jam.
“Pertemuan dengan kedua belah pihak harus membahas setiap poin dari proposal perdamaian Rusia, sehingga membutuhkan waktu yang lama,” kata Putin seperti diberitakan kantor berita TASS dan RIA Novosti, Kamis (4/12/2025).
BACA JUGA: Aturan Baru dari OJK soal Masa Klaim Asuransi, Seperti Apa?
Ia menambahkan, “Ini perundingan yang sangat penting, sangat konkret,” sebagaimana dikutip dari AP.
Putin menyampaikan bahwa ada beberapa bagian proposal yang dapat dibicarakan lebih lanjut, namun ada pula yang tidak dapat diterima oleh pemerintah Rusia. “Ini pekerjaan yang sulit,” ujarnya. Meski demikian, Putin tidak menjelaskan secara rinci poin mana yang disetujui maupun ditolak, dan tidak ada pejabat lain dalam perundingan yang memberikan rincian tersebut.
“Saya rasa terlalu prematur, karena bisa mengganggu rezim kerja upaya perdamaian,” tutur Putin ketika ditanya lebih jauh. Saat ini, Trump memimpin upaya diplomasi paling intens untuk menghentikan konflik Rusia–Ukraina. Namun inisiatif perdamaian itu masih menghadapi tuntutan berat, termasuk soal kemungkinan Ukraina harus menyerahkan sebagian wilayahnya kepada Rusia dan bagaimana menjamin keamanan Ukraina dari agresi Rusia di masa mendatang.
Vladimir Putin menunjukkan bahwa proses diplomasi antara Rusia dan Amerika Serikat untuk mencari jalan keluar dari konflik Ukraina masih berada pada tahap yang sangat awal. Meskipun pertemuan selama lima jam dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner menandakan adanya upaya intensif dari kedua belah pihak, ketidaksiapan Rusia untuk menerima sejumlah poin dalam proposal damai menunjukkan bahwa kesepakatan komprehensif masih jauh dari tercapai.
Sikap Putin yang tidak merinci poin-poin yang dapat disetujui maupun yang ditolak menggambarkan betapa sensitifnya substansi negosiasi yang tengah berlangsung.
Ketiadaan detail dari para pejabat yang terlibat juga memperlihatkan bahwa kedua pihak masih berhati-hati dalam menjaga ruang perundingan agar tidak terganggu oleh tekanan publik maupun spekulasi politik. Pernyataan Putin yang menyebut pembahasan tersebut sebagai “pekerjaan yang sulit” menegaskan kompleksitas tuntutan yang dihadapi, baik dari aspek politis, keamanan, maupun teritorial.
BACA JUGA: PSSI Tak Lagi Dapat Dana Tambahan di Tahun Depan
Upaya diplomatik yang dipimpin Donald Trump pun masih harus menghadapi tantangan besar, terutama terkait isu penyerahan wilayah dan jaminan keamanan Ukraina yang selama ini menjadi titik paling krusial dalam konflik tersebut.
Perkembangan terbaru ini menegaskan bahwa meskipun jalur komunikasi tetap dibuka, jalan menuju kesepakatan perdamaian masih memerlukan proses panjang dan kompromi yang belum terlihat secara konkret. Pertemuan ini menjadi salah satu langkah awal dalam membangun kerangka dialog yang lebih jelas, namun hingga kini belum ada indikasi bahwa perbedaan sikap mendasar antara kedua negara dapat dijembatani dalam waktu dekat.
Situasi ini menunjukkan bahwa upaya diplomasi tetap berlanjut, tetapi hasil akhirnya sangat bergantung pada sejauh mana masing-masing pihak bersedia meninjau ulang posisi dan kepentingan strategis mereka dalam konflik yang telah berlangsung hampir satu dekade tersebut.