NarayaPost – Presiden Rusia Vladimir Putin memuji upaya Amerika Serikat (AS) dalam menyelesaikan perang di Ukraina.
Putin menggambarkan pertemuan 2 Desember dengan negosiator AS Steven Witkoff dan Jared Kushner, sebagai sesuatu yang perlu dan bermanfaat.
Putin mengatakan, pertemuan selama lima jam itu diperlukan untuk membahas setiap poin usulan perdamaian Presiden AS Donald Trump.
Menurutnya, rencana tersebut didasarkan pada kesepakatan dari pertemuan tingkat tinggi Rusia-AS di Alaska pada Agustus lalu.
“Apa yang dibawa oleh rekan-rekan Amerika kami didasarkan, dengan satu atau cara lainnya, pada kesepakatan yang kami capai selama pertemuan saya dengan Presiden Trump di Alaska.”
“Kami membahas isu-isu ini pada pertemuan Anchorage,” kata Putin kepada saluran TV India Today, Kamis (4/12/2025).
Putin menilai Trump sedang mencari konsensus tentang Ukraina, namun menurutnya itu adalah tugas yang sulit.
Putin mengaku setuju dengan beberapa poin dari rencana Trump, dan tidak setuju dengan yang lainnya, serta menggambarkan prosesnya sebagai pekerjaan yang rumit.
Ketika ditanya apakah rencana 28 poin tersebut masih berlaku, Putin menjawab poin-poin inilah yang sedang dibahas.
“Sederhananya, mereka membagi 28 poin ini, atau saya rasa 27 poin, menjadi empat paket.”
“Dan mereka mengusulkan agar kita membahas keempat paket ini.”
“Namun, pada dasarnya, poin-poin ini sama,” ungkapnya.
BACA JUGA: Donald Trump Bilang Vladimir Putin Ingin Akhiri Perang
Soal posisi Uni Eropa, Putin mengatakan Eropa seharusnya terlibat dalam proses penyelesaian konflik, alih-alih menghalanginya.
Dia juga mengingatkan, pada awal konflik, Moskow mengusulkan agar Kiev menarik pasukan Ukraina dari Donbas untuk menghindari konfrontasi militer, tetapi Ukraina memiliki sebaliknya.
“Kami segera memberi tahu Ukraina, kepada pasukan Ukraina, masyarakat tidak ingin hidup bersama Anda, mereka pergi memberikan suara dalam referendum untuk memilih kemerdekaan.”
“Tarik pasukan Anda dan tidak akan ada aksi militer.”
“Namun tidak, mereka lebih suka berperang.”
“Nah, sekarang mereka telah berjuang hingga terpojok,” beber Putin.
Rusia, tegas Putin, akan membebaskan Donbass dan Novorossiya, dengan cara militer maupun cara lainnya.
“Semuanya bermuara pada ini.”
“Entah kita akan membebaskan wilayah-wilayah ini dengan cara militer, atau pasukan Ukraina akan meninggalkan wilayah-wilayah ini dan berhenti bertempur di sana,” imbuhnya.
Prancis Ajak Cina Bergabung
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan Cina ikut bergabung dalam upaya mendorong gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, setidaknya melalui moratorium serangan terhadap infrastruktur kritis.
Seruan itu disampaikan Macron saat bertemu Presiden Cina Xi Jinping di Beijing.
“Saya berharap Cina dapat bergabung dengan seruan dan upaya kami untuk meraih, sesegera mungkin, setidaknya gencatan senjata dalam bentuk moratorium serangan yang menargetkan infrastruktur kritis,” tutur Macron, Kamis.
BACA JUGA: Rusia Desak Ukraina Gelar Pilpres dan Referendum Usai Perang
Macron mengatakan, Prancis dan Cina sama-sama memahami seriusnya situasi di Ukraina, dan perlunya perdamaian yang berkelanjutan.
Dia menyatakan, kedua negara sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, memiliki tanggung jawab khusus untuk mendorong tercapainya kompromi, sembari tetap menjaga hukum internasional dan stabilitas jangka panjang.
Selain Ukraina, Macron juga menekankan perlunya kerja sama untuk mewujudkan perdamaian yang adil dan tahan lama di Timur Tengah, yang menghormati hukum internasional.
Ia mengingatkan dukungan terhadap solusi dua negara di Gaza.
Macron menilai dialog Prancis-Cina dibangun di atas kepercayaan dan saling pengertian, dalam situasi internasional yang disebutnya penuh ketidakpastian dan krisis.
Ia juga menyoroti peran Eropa dan Cina, bersama mitra lain, dalam membangun tata kelola ekonomi global yang berbasis aturan. (*)