Data BPS : Pemerintah Tak Lagi Impor Beras pada Medium 2025

Beras yang baru saja dipanen.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa Indonesia tidak lagi melakukan impor beras medium sepanjang 2025. Impor beras yang masih berlangsung hanya mencakup beras premium atau beras khusus, serta beras yang dibutuhkan untuk keperluan industri.

“Sepanjang tahun 2025 sampai dengan bulan Oktober, Indonesia tidak lagi mengimpor beras medium. Adapun impor beras medium yang tercatat pada bulan Januari sebesar 69,75 ribu ton merupakan sisa kuota tahun 2024,” ujar Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu (6/12/2025).

BPS Jelaskan Beras Impor Sebagian Broken Rice

Amalia menjelaskan bahwa beras impor sebagian besar berupa broken rice atau beras pecah yang digunakan sebagai bahan baku industri. Selain itu, sebagian impor juga terdiri dari beras premium serta beras dengan karakteristik tertentu yang dibutuhkan hotel, restoran, katering, atau kafe, seperti jenis basmati dan hom mali.

BACA JUGA: Berangkat Umrah Saat Bencana, Bupati Aceh Selatan Akan Diperiksa

BPS mencatat bahwa jenis beras dengan volume impor tertinggi sepanjang Januari–Oktober 2025 adalah beras pecah bukan untuk pakan ternak (HS 10064090).

“Impor beras pecah bukan makanan ternak (HS10064090) sepanjang Januari-Oktober 2025 adalah sebanyak 286,91 ribu ton, dan impor ini turun 26,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Beras jenis ini lazim digunakan oleh industri untuk pembuatan beberapa bahan makanan seperti bihun, tepung beras, bubur, dan sebagainya,” tegas Amalia.

Impor Beras Basmati Masih Terlihat

Impor juga masih terlihat pada beras basmati (HS 10063050) dan beras hom mali (HS 10063040), masing-masing 3,15 ribu ton dan 600 ton. Kedua jenis beras tersebut umumnya digunakan oleh sektor horeka dan tidak diproduksi di dalam negeri.

Sebelumnya, BPS melaporkan potensi produksi beras nasional untuk periode Januari–Desember 2025 mencapai 34,79 juta ton, naik sekitar 4,17 juta ton atau 13,60 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024. Peningkatan ini menunjukkan kebutuhan beras konsumsi masyarakat telah terpenuhi dari produksi domestik, sementara impor dilakukan secara terbatas untuk memenuhi kebutuhan industri dan segmen beras khusus.

Kebutuhan Beras 2025 Bisa Dipenuhi dari Produksi Dalam Negeri

Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan gambaran bahwa kebutuhan beras nasional pada 2025 dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri, seiring peningkatan potensi produksi yang mencapai 34,79 juta ton. Ketersediaan ini menjadi faktor utama di balik tidak adanya impor beras medium sepanjang tahun berjalan, kecuali sisa kuota pada Januari yang merupakan bagian dari alokasi 2024.

Penjelasan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti juga menegaskan bahwa impor yang berlangsung saat ini bersifat selektif dan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri serta segmen khusus yang tidak dapat diproduksi secara lokal.

BACA JUGA: BGN Sebut Penyandang Disabilitas Tetap Peroleh Jatah MBG 

Penurunan impor beras pecah yang digunakan industri, serta jumlah impor terbatas pada varietas premium seperti basmati dan hom mali, menunjukkan adanya perbedaan karakter kebutuhan yang tidak terkait dengan konsumsi rumah tangga sehari-hari.

Hal ini juga sekaligus memperjelas bahwa kebijakan impor diarahkan untuk memenuhi permintaan spesifik dari sektor industri dan horeka, bukan untuk menutupi kekurangan pasokan beras konsumsi.

Melalui data tersebut, BPS tengah memastikan sekaligus memberikan penegasan bahwa posisi Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan beras semakin menguat, dengan impor yang terus dipersempit pada komoditas yang tidak diproduksi di dalam negeri. Situasi ini menandai pergeseran penting dalam struktur pasokan, di mana produksi domestik menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan konsumsi nasional.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like