NarayaPost – Ketua Umum DPP Muslimat NU sekaligus Ketua DPP Tanfidziyah, Khofifah Indar Parawansa, menghadiri Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Selasa (9/12). Agenda pleno tersebut diselenggarakan untuk menetapkan Penjabat (Pj.) Ketua Umum PBNU.
Menurut pantauan di lokasi, Khofifah tiba sekitar pukul 20.00 WIB dengan pengawalan anggota Banser. Setelah itu, ia menuju ruang tunggu VIP sebelum kemudian masuk ke ruang rapat pleno usai kedatangan jajaran Syuriyah PBNU.
Tak berselang lama, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul juga terlihat hadir pada pukul 20.25 WIB, mengenakan baju koko putih serta peci hitam. Gus Ipul tidak memberikan jawaban ketika ditanya apakah kehadirannya dalam pleno tersebut terkait posisinya sebagai Sekjen PBNU atau bukan.
BACA JUGA: Korban Penipuan WO Ayu Puspita Menjerit: Paket Nikah Gagal
Selain Khofifah, sejumlah pengurus PBNU lainnya turut hadir, antara lain Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Aam Afifuddin Muhadjir, Wakil Rais Aam Anwar Iskandar, Rais Syuriyah PBNU Cholil Nafis, Ketua PBNU Fahrur Razi, dan Waketum PBNU Zulfa Mustofa.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, pleno PBNU ini digelar untuk menentukan Pj. Ketua Umum PBNU setelah Syuriah PBNU memberhentikan Yahya Cholil Staquf dari jabatan ketua umum.
Pleno tersebut akhirnya menghasilkan keputusan bahwa Zulfa Mustofa resmi ditetapkan sebagai Pejabat (Pj.) Ketua Umum PBNU untuk menjalankan tugas kepemimpinan hingga Muktamar 2026. Dengan keputusan ini, PBNU memasuki fase transisi penting di tengah dinamika internal yang masih menyisakan perbedaan pandangan antara faksi pendukung Syuriyah dan pendukung Gus Yahya.
Meski demikian, jajaran Syuriyah dan para pengurus yang hadir menegaskan bahwa roda organisasi akan tetap berjalan sesuai aturan, sementara langkah konstitusional bagi pihak yang tidak sepakat tetap terbuka melalui mekanisme internal PBNU.
Rangkaian dinamika yang mengiringi penyelenggaraan Rapat Pleno PBNU pada Selasa malam menegaskan bahwa proses penetapan Pejabat Ketua Umum menjadi tahapan penting setelah adanya keputusan pemberhentian terhadap Yahya Cholil Staquf. Kehadiran sejumlah tokoh pengurus, mulai dari jajaran Syuriyah hingga pimpinan harian PBNU, menunjukkan bahwa pleno tersebut digelar sebagai forum resmi untuk memastikan keberlanjutan kepemimpinan organisasi hingga Muktamar 2026.
Kehadiran figur-figur seperti Khofifah Indar Parawansa dan Gus Ipul juga memperlihatkan bahwa proses internal ini mendapatkan perhatian luas dari keluarga besar NU, terutama di tengah perbedaan pandangan yang muncul terkait legitimasi keputusan Syuriyah.
Penetapan Zulfa Mustofa sebagai Pj. Ketua Umum PBNU menjadi hasil akhir pleno yang menandai fase transisi di tubuh organisasi. Keputusan ini sekaligus memberi arah bagi struktur kepengurusan untuk tetap berjalan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.
BACA JUGA: Mendagri Larang Kepala Daerah ke Luar Negeri Sampai Waktu Tertentu
Meski sejumlah penolakan dan keberatan berasal dari pihak Yahya Cholil Staquf, Syuriyah PBNU menegaskan bahwa seluruh tahapan telah dilakukan berdasarkan kewenangan struktural, dan ruang keberatan tetap memungkinkan melalui mekanisme internal seperti Majelis Tahkim.
Dengan disahkannya keputusan pleno, PBNU kini memasuki periode penataan kembali kepemimpinan menuju forum tertinggi organisasi pada 2026. Situasi ini menempatkan struktur PBNU pada masa adaptasi, sambil menunggu perkembangan lebih lanjut terkait langkah-langkah yang mungkin diambil oleh pihak-pihak yang berbeda pandangan.
Namun, keputusan pleno memastikan bahwa jalannya organisasi tetap berada pada koridor formal hingga kepemimpinan definitif ditetapkan pada Muktamar mendatang.