Rusia Siap Ladeni Eropa Jika Kerahkan Pasukan ke Ukraina

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menuding para pejabat Uni Eropa menjadikan protes di Iran sebagai pengalihan isu, atas ambisi Amerika Serikat (AS) mencaplok Greenland. Foto: procurementmag.com
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Rusia bakal menanggapi potensi pengerahan pasukan Eropa di Ukraina, serta penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk mendukung Kiev.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov kembali menegaskan, Moskow tidak berniat berperang melawan Eropa.

“Namun, kami akan menanggapi setiap langkah permusuhan, termasuk pengerahan kontingen militer Eropa di Ukraina dan penyitaan aset Rusia.”

“Dan kami sudah siap untuk tanggapan ini,” katanya saat pidato di Dewan Federasi, majelis tinggi parlemen negara itu, Rabu (10/12/2025).

Soal penyelesaian perang Rusia-Ukraina, Lavrov mendefinisikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai satu-satunya pemimpin Barat yang menunjukkan pemahaman tentang alasan yang membuat perang di Ukraina tak terhindarkan.

Rusia, kata Lavrov, mengapresiasi komitmen Trump untuk berdialog guna menyelesaikan perang melalui jalur diplomatik.

BACA JUGA: Volodymyr Zelenskyy: Ukraina Takkan Serahkan Wilayah ke Rusia!

Namun, Lavrov juga mengkritik Trump yang terburu-buru meningkatkan sanksi terhadap Moskow.

Lavrov menuduh negara-negara Eropa secara artifisial menghambat negosiasi perdamaian, dan menilai Barat tidak bersatu dalam penyelesaian konflik di Ukraina.

Lavrov menyatakan, peristiwa beberapa hari terakhir menegaskan pandangannya yang merujuk pada komentar Presiden Trump dalam sebuah wawancara, yang menilai Eropa sengaja menghambat tercapainya kesepakatan penyelesaian Ukraina, dengan tidak mengatasi akar masalah utama, meski Lavrov tidak menyebut wawancara yang dimaksud.

Trump sebelumnya mengkritik negara-negara Eropa terkait penanganan perang Ukraina, selama wawancara dengan Politico, Senin (8/12/2025).

“Mereka berbicara tetapi mereka tidak menghasilkan, dan perang terus berlanjut,” ucap Trump.

Trump menggambarkan para pemimpin Eropa lemah karena ingin bersikap politis yang benar, dan tidak tahu harus berbuat apa.

Trump ingin terus mendukung tokoh-tokoh politik Eropa yang memiliki pandangan yang sama dengannya, meskipun hal itu memicu penolakan.

Menanggapi pernyataan Trump, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mendesak AS menghormati kehidupan politik domestik dan pilihan demokrasi blok tersebut.

“Jika kita adalah sekutu, kita harus bertindak sebagai sekutu, dan sekutu tidak mengancam untuk ikut campur dalam kehidupan politik domestik dan pilihan demokrasi satu sama lain,” tegas Costa, Senin (8/12/2025).

Costa menegaskan kembali, Eropa dan AS memiliki perbedaan pandangan dunia, dan tidak lagi berbagi visi yang sama tentang tatanan internasional.

Tegang

Prospek tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina tampaknya semakin kecil, seiring meningkatnya ketegangan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Trump sebelumnya sempat optimistis gencatan senjata dapat dicapai setelah hampir empat tahun perang.

Rencana damai 28 poin Trump dijadikan kerangka awal, meski rencana itu dikritik karena dianggap lebih menguntungkan Rusia.

Para pejabat AS menilai dokumen tersebut masih dapat dinegosiasikan, namun dalam beberapa hari terakhir Trump justru melontarkan kritik tajam terhadap Zelenskyy, menekan agar ia segera menerima kesepakatan damai.

Trump mengeklaim Zelenskyy belum membaca versi terbaru proposal damai.

Ia mengatakan, rakyat Ukraina mendukung rencananya, meski ia meragukan apakah Zelenskyy bersikap sama.

BACA JUGA: Vladimir Putin: Ukraina Lebih Suka Berperang, Sekarang Terpojok

Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan beberapa bagian dari proposal AS tidak dapat diterima.

Isu utama yang mengganjal adalah kemungkinan Ukraina menyerahkan wilayahnya kepada Rusia.

Proposal awal AS bahkan meminta Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas.

Zelenskyy mengatakan telah berdiskusi panjang dengan utusan Trump dan Jared Kushner mengenai proses perdamaian.

Namun, ia tetap menegaskan Ukraina tidak akan menyerahkan wilayah apa pun.

Zelenskyy menyatakan, hukum nasional, hukum internasional, dan prinsip moral tidak mengizinkan Ukraina melepaskan wilayahnya.

Seorang pejabat Ukraina bahkan mengatakan, AS tampak mendesak Ukraina menerima tuntutan Rusia.

Di tengah tekanan eksternal tersebut, Zelenskyy bertemu para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman di London.

Zelenskyy kemudian mengumumkan ia mendapatkan dukungan dari para pemimpin Eropa itu.

Zelenskyy juga memastikan Ukraina masih terus berkomunikasi dengan AS untuk mengirimkan dokumen lanjutan. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like