Rusia Ingatkan Uni Eropa Mengakses Aset Beku Adalah Pencurian

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menuding para pejabat Uni Eropa menjadikan protes di Iran sebagai pengalihan isu, atas ambisi Amerika Serikat (AS) mencaplok Greenland. Foto: procurementmag.com
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova menegaskan, setiap upaya Uni Eropa (UE) mengakses aset beku bank sentral Rusia, merupakan tindakan ilegal menurut hukum internasional.

Awal pekan ini, bank sentral Rusia memulai proses hukum terhadap Euroclear, lembaga penyimpanan yang berbasis di Belgia, yang menyimpan sebagian besar aset beku Rusia.

Di sisi lain, para pendukung Ukraina di Eropa memperdebatkan bagaimana cara mengalihkan dana tersebut untuk membiayai Kyiv. 

“Tindakan terhadap aset negara yang diambil tanpa persetujuan Rusia, baik pembekuan aset tanpa batas waktu, penyitaan, atau upaya untuk menggambarkannya sebagai pinjaman ganti rugi, sepenuhnya ilegal menurut hukum internasional.”

“Tidak peduli trik pseudo-legal apa pun yang digunakan Brussels untuk membenarkannya, ini adalah pencurian terang-terangan,” kata Zakharova, Sabtu (13/12/2025), dikutip Russia Today, Minggu (14/12/2025). 

Menurut Zakharova, selain mendanai proyek Ukraina yang gagal, Uni Eropa juga berupaya menggunakan aset tersebut untuk memperkuat ekonominya sendiri, yang telah rusak akibat sanksi yang menargetkan perdagangan Rusia dengan Barat. 

BACA JUGA: Rusia Siap Kasih Jaminan Takkan Serang NATO dan Uni Eropa

Hongaria dan Slovakia mengecam Uni Eropa karena menggunakan kekuasaan daruratnya yang jarang digunakan, untuk menghindari potensi veto dari masing-masing negara anggota dan membuat pembekuan aset tanpa batas waktu.

Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban menuduh kediktatoran Brussels secara sistematis melanggar hukum Eropa.

Awal pekan ini Politico melaporkan, Italia, Belgia, Bulgaria, dan Malta meminta Komisi Eropa menjajaki opsi penyediaan pinjaman kepada Kyiv selain penyitaan aset Rusia.

Perdana Menteri Belgia Bart De Wever mengingatkan, penyitaan aset secara langsung akan merusak kepercayaan pada sistem keuangan Uni Eropa, memicu pelarian modal, dan membuat Belgia menghadapi risiko hukum.

Pada Jumat (12/12/2025), Dewan Uni Eropa (UE) menerapkan larangan sementara terhadap setiap pemindahan aset milik bank sentral Rusia yang dibekukan di dalam blok tersebut, kembali ke Rusia, dengan alasan konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.

“Keputusan ini diambil sebagai tindakan mendesak untuk membatasi kerugian pada ekonomi UE,” bunyi pernyataan Dewan UE.

BACA JUGA: Rusia Siap Ladeni Eropa Jika Kerahkan Pasukan ke Ukraina

Kebijakan itu melarang setiap pemindahan aset atau cadangan bank sentral Rusia secara langsung maupun tidak langsung, serta transaksi yang melibatkan setiap badan hukum, entitas, atau lembaga yang bertindak atas nama atau atas arahan bank sentral Rusia.

Langkah tersebut akan membekukan aset yang diperkirakan bernilai sekitar 210 miliar euro (1 euro = Rp19.490).

Sebagian besar aset tersebut, yang bernilai sekitar 190 miliar euro, disimpan di Euroclear, sebuah perusahaan jasa keuangan yang berbasis di Belgia.

Bakal Berlaku Permanen

Pembekuan aset Rusia di Uni Eropa kemungkinan akan berlaku permanen, setelah pejabat Eropa menemukan klausul dalam UU mereka, yang memungkinkan keputusan itu dibuat tanpa suara bulat di antara negara-negara anggota.

Menurut laporan Financial Times, hingga kini setiap negara dapat membatalkan seluruh sanksi Eropa dan memberi Rusia akses ke dana cadangannya, karena sanksi harus diperbarui dengan suara bulat setiap enam bulan.

Paket legislatif baru akan memungkinkan Uni Eropa membekukan aset Rusia secara permanen, karena Brussels telah menemukan sebuah pasal dalam perjanjian, yang menyatakan dalam kondisi gejolak ekonomi yang parah, Uni Eropa dibolehkan mengambil tindakan tanpa suara bulat.

Komisi Eropa secara obsesif berusaha keras mendapatkan persetujuan negara-negara Uni Eropa untuk menggunakan aset kedaulatan Rusia bagi Kiev, yang berjumlah antara 185 miliar hingga 210 miliar euro (sekitar Rp3.589 triliun-Rp 4.074 triliun).

UE sedang membahas agar asset diberikan dalam bentuk pinjaman, yang wajib dikembalikan Ukraina setelah berakhirnya konflik, dan jika Moskow membayar ganti rugi material akibat perang yang dimulainya.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan gagasan Uni Eropa agar Rusia membayar ganti rugi kepada Ukraina tidak realistis, karena Brussel telah lama terlibat dalam pencurian aset Rusia.

Setelah dimulainya operasi khusus Rusia di Ukraina, Uni Eropa dan negara-negara G7 membekukan hampir separuh cadangan emas dan devisa Rusia, yang berjumlah sekitar 300 miliar euro (sekitar Rp5.820 triliun).

Dari jumlah tersebut, lebih dari 200 miliar euro (sekitar Rp3.880 triliun) disimpan di Uni Eropa, termasuk 180 miliar euro (sekitar Rp3.492 triliun) dalam rekening di Euroclear Belgia, salah satu sistem kliring dan penyelesaian terbesar di dunia.

Komisi Eropa mengatakan, dari Januari hingga November 2025, UE telah mentransfer 18,1 miliar euro (sekitar Rp351,2 triliun)ke Ukraina, dari hasil aset Rusia yang dibekukan. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like