NarayaPost – Presiden AS Donald Trump mengatakan, peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina kini berada pada titik terdekat, sejak konflik tersebut pecah pada 2022, menyusul rangkaian diplomasi intensif dengan para pemimpin Eropa, Ukraina, dan Rusia.
“Saya pikir sekarang kita lebih dekat daripada sebelumnya, dan kita akan lihat apa yang bisa kita lakukan.”
“Kami ingin menyelamatkan banyak nyawa,” cetus Trump di Ruang Oval, Senin (15/12/2025).
Trump mengaku telah berbicara dengan para pemimpin Jerman, Italia, Finlandia, Prancis, Inggris, Polandia, Norwegia, Denmark, dan Belanda, serta NATO.
Ia menggambarkan seluruh percakapan tersebut sebagai pembahasan yang panjang dan berjalan dengan baik.
Ia juga telah beberapa kali berkomunikasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, dan meyakini kedua pihak sama-sama ingin perang segera berakhir, meski ia mengakui tidak mudah menjaga keselarasan posisi Moskow dan Kyiv.
BACA JUGA: Rusia Siap Kasih Jaminan Takkan Serang NATO dan Uni Eropa
“Kami telah melakukan pembicaraan yang baik dengan Rusia, dan saya pikir mereka ingin kembali ke kehidupan yang lebih normal,” tambah Trump.
Seorang pejabat AS mengatakan, Donald Trump merasa sangat puas dengan kemajuan pembicaraan yang dilakukan di Eropa.
Menurut pejabat itu, sekitar 90 persen isu antara para pihak telah disepakati, meskipun masih terdapat sejumlah poin krusial yang harus dirampungkan.
Para pejabat AS menyebut usulan jaminan keamanan bagi Ukraina mencakup skema perlindungan yang menyerupai Pasal Lima NATO, yang mengatur prinsip pertahanan kolektif.
Trump, menurut mereka, bersedia membawa jaminan keamanan tersebut ke Senat AS untuk diratifikasi.
Produktif
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan, pembicaraan panjang dengan utusan khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Steve Witkoff serta menantu Trump, Jared Kushner di Berlin, Jerman, Senin (15/12/2025), produktif.
Zelensky, Witkoff, dan Kushner berbicara lebih dari lima jam pada Minggu (14/12/2025), dan sekitar dua jam pada Senin.
Pada Senin yang sama, dalam Forum Bisnis Jerman-Ukraina kedelapan di Berlin, Zelensky mengaku melakukan pembicaraan penting dengan pihak AS, yang selalu kompleks dan tidak pernah mudah.
“Namun, pembicaraan kali ini sangat produktif,” ujarnya, seraya menambahkan kedua pihak berhasil membahas banyak detail.
Zelensky menekankan pentingnya menjaga martabat Ukraina.
Dia juga mengatakan, upaya mengakhiri konflik ini melalui jalur diplomasi akan terus berlanjut.
Usai perundingan dengan pihak AS pada Senin, negosiator perdamaian utama Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan melalui platform media sosial X, perundingan berlangsung konstruktif dan produktif, dengan kemajuan nyata telah dicapai.
“Kami berharap dapat mencapai kesepakatan yang pada akhirnya akan membawa kami lebih dekat menuju perdamaian,” harap Sekretaris Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina tersebut.
Umerov menuturkan, tim AS yang dipimpin Witkoff dan Kushner sedang bekerja dengan sangat konstruktif untuk membantu Ukraina menemukan jalan menuju perjanjian damai yang berkelanjutan.
Witkoff mengatakan pada Minggu malam melalui X, para perwakilan menggelar diskusi mendalam mengenai rencana perdamaian 20 poin, agenda ekonomi, dan berbagai isu lainnya.
Menurut surat kabar Jerman Die Welt, para negosiator AS mendesak Ukraina melepaskan wilayah Donbas.
Zelensky pada Minggu mengatakan, rencana usulan AS untuk membentuk zona ekonomi bebas di sebagian wilayah Donbas timur tidak adil, dengan alasan belum adanya kejelasan terkait pemerintahan wilayah tersebut.
BACA JUGA: Ditolak Gabung, Ukraina Minta Jaminan Keamanan dari NATO
Usai pembicaraan itu, Zelensky bertemu Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier dan Presiden Bundestag Julia Kloeckner.
Dalam sebuah pernyataan, Zelensky mengatakan dia dan Steinmeier membahas pengembangan dokumen kerangka kerja untuk mengakhiri konflik, serta isi sejumlah poin spesifik.
Kedua pihak memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya menjamin kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina, serta perlindungan kepentingan nasionalnya.
Zelensky juga membahas mekanisme pemanfaatan aset Rusia dengan Kloeckner, yang dibekukan untuk kepentingan Ukraina.
Ia menghargai kepemimpinan Jerman dalam isu tersebut.
Belum Ada Kesepakatan Soal Isu Wilayah
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, belum tercapai kesepakatan dengan AS mengenai isu wilayah, dalam upaya mengakhiri konflik bersenjata dengan Rusia.
“Perwakilan kami akan melanjutkan dialog dengan kolega Amerika.”
“Delegasi Ukraina bekerja hampir tanpa henti untuk mencapai hasil, namun tidak semua isu mudah.”
“Ada persoalan yang sangat kompleks, terutama terkait wilayah,” ungkap Zelenskyy kepada pers.
Dia menegaskan, Kyiv dan Washington masih memiliki posisi yang berbeda terkait isu teritorial.
Ia menyebut diskusi mengenai wilayah telah dilakukan secara mendalam, namun perbedaan pandangan tetap menjadi hambatan utama dalam perundingan.
Minta Gelar Pemilu
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dilaporkan meminta parlemen Ukraina menyusun sebuah rancangan undang-undang (RUU), untuk melaksanakan pemilihan presiden di tengah darurat militer.
Pada 11 Desember lalu, wakil ketua parlemen Ukraina Oleksandr Korniyenko mengatakan, parlemen akan menyiapkan dasar hukum yang diperlukan, untuk segera menyelenggarakan pemilihan presiden di tengah perang.
Menurut laporan yang mengutip sumber yang tak disebutkan namanya itu, RUU tersebut akan mengatur pemilihan presiden dilaksanakan dalam waktu 60 hari, selayaknya prosedur apabila pemilihan presiden dimajukan dari jadwal.
Namun, pihak-pihak yang terlibat dalam proses itu disebut meragukan RUU tersebut dapat diselesaikan, seperti dilaporkan RBC-Ukraine.
Pada 9 Desember, Zelenskyy menyatakan siap mengubah undang-undang demi melaksanakan pemilihan presiden di Ukraina, meski sebelumnya hal tersebut ia jadikan alasan untuk menolak pelaksanaan pemilu.
Masa jabat kepresidenan Zelenskyy seyogianya berakhir pada 20 Mei 2024, namun pemilihan presiden tak dapat dilaksanakan karena darurat militer dan mobilisasi umum akibat perang.
Presiden AS Donald Trump menyebut sekarang adalah waktu yang tepat bagi rakyat Ukraina untuk memilih presiden baru.
Pada Februari lalu, Trump menjuluki Zelenskyy sebagai diktator tanpa pemilu, dan mengeklaim tingkat penerimaan publik terhadap pemerintahan Zelenskyy terjun bebas hingga tersisa 4 persen. (*)