Donald Trump Bilang ISF Sudah Beroperasi di Gaza

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, pasukan stabilisasi internasional (ISF) untuk Gaza, Palestina, sudah berjalan.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, pasukan stabilisasi internasional (ISF) untuk Gaza, Palestina, sudah berjalan.

Menurutnya, sejumlah negara juga bakal segera bergabung dengan ISF.

“Kegiatan ini sudah berjalan,” ujar Trump di Ruang Oval Gedung Putih, Senin (15/12/2025).

Negara lain, lanjutn Trump, bakal akan mengirimkan personel militer dengan jumlah masing-masing sesuai permintaannya.

Pasukan internasional tersebut merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Trump dan disetujui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk menciptakan perdamaian sekaligus menghentikan konflik di Jalur Gaza yang telah berlangsung sekitar dua tahun.

Komando Pusat AS (CENTCOM), yang membawahi pasukan perdamaian di Timur Tengah, dijadwalkan menggelar konferensi di Doha pada Selasa (16/12/2025).

BACA JUGA: Pasukan Stabilisasi Internasional Mendarat di Gaza Bulan Depan

Pertemuan itu akan melibatkan negara-negara mitra untuk membahas perencanaan dan pelaksanaan ISF.

Kata Trump, ISF sudah berjalan dalam bentuk yang sangat kuat.

Fase Kedua

Washington bakal melangkah ke fase kedua proses perdamaian Gaza, yang mencakup penarikan pasukan Israel dari wilayah tambahan, pembentukan struktur pemerintahan baru, serta penempatan pasukan internasional di wilayah kantong Palestina tersebut.

Trump mengatakan, pasukan stabilisasi itu telah beroperasi secara efektif dan akan semakin kuat dengan dukungan internasional yang meluas.

Pernyataan itu muncul setelah Axios, awal Desember ini, melaporkan Trump berencana mengumumkan dimulainya fase kedua proses perdamaian Gaza sebelum Natal.

Berdasarkan rencana perdamaian 20 poin yang disusun Trump, fase kedua mencakup penarikan Israel dari area tambahan di Gaza, pengerahan ISF, serta pembentukan tata kelola baru bagi wilayah yang dilanda perang tersebut.

Struktur pemerintahan baru itu akan dipimpin oleh apa yang disebut Dewan Perdamaian yang diketuai Trump, dan beranggotakan sekitar 10 pemimpin negara Arab dan Barat.

Dewan tersebut diproyeksikan menjadi pucuk pimpinan pemerintahan Gaza pada masa transisi, dengan mandat menjaga stabilitas, memfasilitasi rekonstruksi, dan menyiapkan landasan pemerintahan sipil jangka panjang.

Di bawah Board of Peace itu akan dibentuk dewan eksekutif internasional yang, menurut laporan Axios, akan melibatkan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair, utusan khusus Trump Jared Kushner dan Steve Witkoff, serta sejumlah pejabat senior dari negara-negara yang tergabung dalam Dewan Perdamaian.

Pemerintahan Trump menilai keterlibatan tokoh-tokoh internasional tersebut penting untuk memastikan koordinasi politik, keamanan, dan ekonomi berjalan seiring.

Rencana ini menandai upaya terbaru Washington untuk mendorong penyelesaian konflik Gaza, yang telah menimbulkan krisis kemanusiaan berkepanjangan, sekaligus memperluas peran internasional dalam menjaga keamanan pasca-perang.

Namun, rencana tersebut juga diperkirakan akan menuai sorotan dan perdebatan luas, baik terkait legitimasi struktur pemerintahan baru maupun efektivitas pasukan stabilisasi internasional di lapangan, seiring masih rapuhnya situasi keamanan dan politik di Gaza.

BACA JUGA: Dibentuk Tahun Depan, Ini 6 Peran Dewan Perdamaian Gaza

Di sisi lain, Trump menyatakan pemerintahannya tengah menyelidiki dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

Selama beberapa pekan terakhir, Israel membunuh sejumlah pemimpin Hamas di tengah berlakunya gencatan senjata.

Gedung Putih sempat menegur Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menyusul terbunuhnya Raed Saad, wakil komandan sayap militer Hamas.

Washington menganggap insiden yang terjadi pada Sabtu (13/12/2025) itu merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang diinisiasi Trump.

Tentara Israel beberapa kali melanggar perjanjian gencatan senjata, dengan membunuh sekurangnya 391 warga Palestina di Gaza.

Sejak Oktober 2023, sudah 70.600 warga Palestina kehilangan nyawanya akibat genosida yang dilakukan militer Israel. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like