AS Janjikan Respons Militer Jika Rusia Serang Ukraina Lagi

Amerika Serikat (AS) menjanjikan respons militer, apabila Rusia melanggar kesepakatan gencatan senjata.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Amerika Serikat (AS) menjanjikan respons militer, apabila Rusia melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Hal itu diungkapkan oleh Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, seperti dilaporkan oleh stasiun penyiaran TVP World, Selasa (16/12/2025).

“Untuk pertama kalinya saya mendengar langsung dari para negosiator Amerika.”

“Amerika Serikat akan terlibat dalam jaminan keamanan bagi Ukraina sedemikian rupa, sehingga Rusia tidak akan ragu.”

“Jika terjadi pelanggaran gencatan senjata, respons Amerika akan bersifat militer apabila Rusia kembali menyerang Ukraina,” ungkap Tusk kepada wartawan saat meninggalkan Jerman.

Pernyataan itu disampaikan setelah berlangsungnya perundingan perdamaian di Berlin yang melibatkan perwakilan AS, Ukraina, serta sejumlah negara Eropa.

BACA JUGA: Ditolak Gabung, Ukraina Minta Jaminan Keamanan dari NATO

Dalam pernyataan yang dikeluarkan, Senin (15/12/2025), para pemimpin Eropa menyatakan sepakat bekerja sama dengan AS dan Ukraina, untuk mencapai perdamaian berkelanjutan yang menjaga kedaulatan Ukraina dan keamanan Eropa, serta menyebut adanya keselarasan yang kuat antara AS, Ukraina, dan Eropa.

Tusk menilai terobosan tersebut, meski bukan jaminan keberhasilan, menunjukkan dengan jelas untuk pertama kalinya, AS, Eropa, dan Ukraina berada di pihak yang sama.

Ia menegaskan, satu-satunya peluang untuk mendorong Moskow terlibat dalam perundingan serius mengenai gencatan senjata, adalah dengan menyatukan seluruh kekuatan Barat.

“Ukraina yang kembali terancam agresi menimbulkan risiko besar bagi Polandia dan negara-negara yang berada dekat dengan garis depan,” kata Tusk.

AS, lanjut Tusk, yakin akan kemampuannya membangun jaminan keamanan yang kuat dengan keterlibatan langsung, meskipun mengingatkan jalan menuju hal tersebut masih panjang.

Tusk juga menegaskan kembali, pasukan Polandia tidak akan terlibat dalam misi penjaga perdamaian apa pun di Ukraina.

Ia menyatakan, Polandia akan mendukung Koalisi Negara-Negara yang Bersedia (Coalition of the Willing) melalui cara lain.

“Kami sudah sangat jelas dalam hal ini, dan ini bukan karena kurangnya tekad atau keberanian.”

“Polandia memiliki tugas lain.”

“Kami harus mengamankan sisi timur,” terangnya.

Tusk menambahkan, Polandia tidak akan memberikan tekanan kepada Ukraina untuk membuat konsesi apa pun.

Ia menekankan, keputusan semacam itu harus sepenuhnya didasarkan pada perhitungan dan penilaian rakyat Ukraina mengenai apa yang mereka anggap mungkin dan dapat diterima.

Kerahkan Pasukan Multinasional

Para pemimpin negara Eropa anggota NATO menguraikan visi mereka untuk perdamaian di Ukraina, termasuk pengerahan pasukan militer multinasional yang dipimpin Eropa, dan rencana pengerahan tim pemantau gencatan senjata yang dipimpin Amerika Serikat (AS). 

Pasukan militer multinasional itu juga akan membantu regenerasi tentara Ukraina.

Semua rencana itu berpotensi didanai oleh aset Rusia yang dibekukan.

Setelah pembicaraan di Berlin pada Hari Senin dengan utusan perdamaian Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta delegasi Ukraina, para pemimpin Jerman, Denmark, Finlandia, Prancis, Italia, Lithuania, Belanda, Norwegia, Polandia, Swedia, dan Inggris, bersama pejabat tinggi dari Brussels, mengeluarkan pernyataan bersama yang mengusulkan jaminan keamanan yang kuat untuk Kyiv.

“Ini akan mencakup komitmen untuk Pasukan Multinasional Ukraina yang dipimpin Eropa, yang terdiri dari kontribusi dari negara-negara yang bersedia dalam kerangka Koalisi Negara-negara yang Bersedia dan didukung oleh AS.”

“Pasukan ini akan membantu regenerasi pasukan Ukraina, mengamankan wilayah udara Ukraina, dan mendukung keamanan laut, termasuk melalui operasi di dalam Ukraina,” begitubunyi pernyataan bersama tersebut, yang dikutip Russia Today, Selasa (16/12/2025).

BACA JUGA: Rusia Ingatkan Uni Eropa Mengakses Aset Beku Adalah Pencurian

Inggris dan Prancis telah lama mendorong gagasan mengirim pasukan Eropa ke Ukraina, setelah gencatan senjata memungkinkan pengerahan pasukan yang aman, namun masih belum jelas negara mana yang benar-benar siap menyumbangkan pasukan.

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk segera menolak rencana tersebut, dengan mengatakan negaranya membutuhkan semua pasukannya di dalam negeri untuk mempertahankan sayap timur NATO.

Italia juga secara konsisten menolak mengirim pasukan Italia ke Ukraina.

Moskow telah berulang kali menolak kehadiran pasukan NATO di Ukraina dengan dalih apa pun, dan bersikeras Kyiv akan menggunakan jeda pertempuran apa pun untuk mempersenjatai diri dan berkumpul kembali.

Rusia terus mendorong perdamaian permanen yang mengatasi akar penyebab konflik.

Ketentuan lain dalam rencana Eropa menyerukan mekanisme pemantauan dan verifikasi gencatan senjata yang dipimpin AS.

Para penandatangan juga mencari komitmen yang mengikat secara hukum, tunduk pada prosedur nasional, untuk mendukung Kyiv dengan bantuan angkatan bersenjata, intelijen dan logistik, tindakan ekonomi, serta diplomatik.

Presiden AS Donald Trump belum mengonfirmasi sejauh mana dukungannya terhadap inisiatif Eropa tersebut. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like