Ukraina Dapat Utang Rp1.763 Triliun dari Uni Eropa

Kanselir Jerman Friedrich Merz menolak Ukraina masuk Uni Eropa (UE) pada 1 Januari 2027. Foto: visegradinsight.eu
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Para pemimpin Uni Eropa (UE) sepakat meminjamkan dana sebesar 90 miliar euro (sekitar Rp1.763 triliun) kepada Ukraina, untuk menutupi defisit anggaran yang mengancam negara tersebut.

UE gagal menyepakati penggunaan aset Rusia yang dibekukan untuk mendanai Ukraina.

Kesepakatan yang dicapai dalam pembicaraan puncak di Brussels, Belgia itu, menawarkan Kyiv bantuan yang sangat dibutuhkan, karena Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendorong kesepakatan damai segera, untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina yang dimulai sejak 24 Februari 2022 itu.

“Keputusan hari ini akan memberi Ukraina sarana yang diperlukan untuk membela diri dan mendukung rakyat Ukraina,” kata Kepala Dewan Eropa Antonio Costa saat memimpin pertemuan puncak tersebut, seperti dikutip dari AFP, Jumat (19/12/2025).

Para pemimpin Uni Eropa memberikan pinjaman selama dua tahun ke depan, yang didukung oleh anggaran bersama blok tersebut.

Opsi utama yang ada adalah memanfaatkan sekitar 200 miliar euro aset bank sentral Rusia yang dibekukan di Uni Eropa, untuk menghasilkan pinjaman bagi Kyiv.

BACA JUGA: Vladimir Putin Klaim Tak Ada yang Bisa Saingi Senjata Nuklir Rusia

Namun, rencana itu gagal setelah Belgia, tempat sebagian besar aset berada, menuntut jaminan pembagian tanggung jawab yang terbukti terlalu berat bagi negara-negara lain.

Setelah KTT berakhir, Perdana Menteri Belgia Bart De Wever mengatakan rasionalitas telah menang.

“Seluruh urusan ini sangat berisiko, sangat berbahaya, dan menimbulkan banyak pertanyaan, seperti kapal yang tenggelam, seperti Titanic.”

“Nasib telah ditentukan, dan semua orang lega,” ucapnya.

Kanselir Jerman Friedrich Merz telah mendorong keras rencana penggunaan aset Rusia tersebut, tetapi tetap mengatakan keputusan akhir tentang pinjaman itu mengirimkan sinyal yang jelas kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, Ukraina hanya perlu membayar kembali pinjaman tersebut, setelah Moskow membayar ganti rugi atas kerusakan yang telah ditimbulkannya.

Penggunaan utang bersama membutuhkan keputusan bulat dari 27 negara Uni Eropa, dan negara-negara skeptis seperti Hongaria, Slovakia, dan Republik Ceko diberikan pengecualian dari komitmen tersebut untuk menghindari blokade.

Uni Eropa memperkirakan Ukraina membutuhkan tambahan 135 miliar euro untuk tetap bertahan selama dua tahun ke depan, dengan krisis keuangan yang diperkirakan akan dimulai pada April 2026.

Kepada para pemimpin Uni Eropa di awal KTT, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, menggunakan aset Rusia yang dibekukan adalah cara yang tepat.

“Aset Rusia harus digunakan untuk membela diri dari agresi Rusia, dan membangun kembali apa yang telah dihancurkan oleh serangan Rusia.”

“Ini bermoral, adil, legal,” tegas Zelensky.

Zelensky mengatakan kepada para pemimpin UE, Kyiv membutuhkan keputusan pada akhir tahun, dan menempatkan negaranya pada pijakan yang lebih kuat dapat memberinya lebih banyak pengaruh dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang.

BACA JUGA: AS Janjikan Respons Militer Jika Rusia Serang Ukraina Lagi

Upaya AS untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang menjadi isu utama dalam diskusi Uni Eropa. 

Washington sebagian besar mengesampingkan Eropa dari negosiasi, namun Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan sudah saatnya benua itu mulai berbicara dengan Moskow sendiri.

“Saya percaya adalah kepentingan kita sebagai orang Eropa dan Ukraina untuk menemukan kerangka kerja yang tepat untuk kembali terlibat dalam diskusi ini,” cetus Macron.

Menurutnya, orang Eropa harus menemukan cara untuk melakukannya dalam beberapa minggu mendatang.

Zelenskyy mengumumkan delegasi Ukraina dan AS akan mengadakan pembicaraan baru pada Jumat dan Sabtu di AS.

Dia ingin Washington memberikan lebih banyak detail tentang jaminan keamanan yang dapat ditawarkannya untuk melindungi Ukraina dari invasi lain.

“Apa yang akan dilakukan Amerika Serikat jika Rusia kembali melakukan agresi?”

“Apa yang akan dilakukan jaminan keamanan ini?”

“Bagaimana cara kerjanya?” Tanya Zelenskyy.

Trump terus menekan Kyiv, dan berharap Ukraina bergerak cepat untuk menyetujui kesepakatan perdamaian dengan Rusia.

Ukraina Kehilangan 500 Ribu Tentara

Menteri Pertahanan Rusia Andrey Belousov mengungkapkan, Ukraina kehilangan hampir 500.000 personel militer pada tahun 2025.

Belousov mengatakan, kemampuan tempur Ukraina berkurang sekitar sepertiga selama tahun lalu.

“Pasukan Ukraina telah kehilangan hampir 500.000 personel militer, akibatnya Kiev kehilangan kemampuan menambah pasukannya melalui mobilisasi wajib warga sipil,” ungkap Belousov pada pertemuan Dewan Kementerian Pertahanan yang dihadiri Presiden Vladimir Putin, Rabu (17/12/2025).

Menurut Belousov, Ukraina telah kehilangan lebih dari 103.000 senjata dan peralatan militer tahun ini, termasuk sekitar 5.500 buatan Barat, hampir dua kali lipat dari total yang tercatat tahun sebelumnya.

Ukraina mengumumkan mobilisasi umum tak lama setelah eskalasi konflik dengan Rusia pada 2022, melarang pria berusia antara 18 dan 60 tahun meninggalkan negara itu.

Tahun lalu, mereka menurunkan usia wajib militer dari 27 menjadi 25 tahun, sambil memperketat aturan mobilisasi.

Kampanye wajib militer paksa telah memicu bentrokan kekerasan berulang antara calon prajurit yang enggan, dan petugas wajib militer.

Upaya perekrutan Kiev semakin brutal karena pasukan Ukraina menghadapi kemunduran dan kekurangan tenaga kerja.

Ratusan insiden telah didokumentasikan secara daring di mana petugas perekrutan menyerang calon prajurit, mengejar mereka di jalanan, dan mengancam orang-orang yang mencoba ikut campur.

Meski dengan tindakan yang semakin keras, para pejabat Ukraina dan komandan garis depan mengeluh kampanye mobilisasi tidak mencapai target. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like