Jalan Takkan Ditutup Saat Tiang Monorel Dibongkar

Pemprov DKI Jakarta menyiapkan anggaran Rp100 miliar untuk proyek pembongkaran tiang monorel terbengkalai, sekaligus perbaikan jalan di sepanjang Jalan HR Rasuna Said.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost –  Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan pembongkaran tiang-tiang monorel terbengkalai di sepanjang Jalan HR Rasuna Said, dilaksanakan bulan ini.

Rencananya, eksekusi pembongkaran dimulai pada Selasa atau Rabu pekan depan.

“Untuk pembongkaran (tiang) monorel seperti yang kemarin kami sampaikan, akan kami lakukan minggu ketiga, apakah Hari Selasa atau Rabu depan,” ujar Pramono di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (6/1/2026).

Menurut Pramono, seluruh proses pembongkaran akan dilakukan langsung oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta, bukan pihak PT Adhi Karya.

Langkah ini diambil setelah surat yang dikirimkan Pemprov DKI ke pihak Adhi Karya telah melewati batas waktu yang telah ditentukan.

“(Pembongkaran) Tiang monorel yang melakukan adalah Pemerintah DKI Jakarta, Bina Marga.”

BACA JUGA: 43 Persen APBD Jakarta 2026 untuk Infrastruktur Pelayanan Publik

“Adhi Karya sudah kami surati dan batas waktunya sudah lewat, kami akan melakukan sendiri,” jelasnya.

Meski melibatkan alat berat dan pengerjaan konstruksi berada di jalur utama, Pramono menegaskan Pemprov DKI Jakarta tidak akan menutup jalan selama proses pembongkaran.

Terkait lokasi pembuangan material pembongkaran, ia juga menyampaikan hal itu menjadi kewenangan Pemprov DKI Jakarta.

“Dan untuk itu tidak dilakukan penutupan jalan.”

“Jadi yang dibongkar tetap dilakukan, dengan pengalaman yang ada, Bina Marga berkoordinasi untuk melakukan pembongkaran, tidak dilakukan penutupan,” papar Pramono.

Pembongkaran tiang monorel terbengkalai ini dilakukan untuk meningkatkan estetika kota serta menjaga keselamatan pengguna jalan.

Terbengkalai Sejak 2004

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomunikasi dengan PT Adhi Karya, terkait rencana pembongkaran tiang monorel yang terbengkalai sejak 2004 silam.

Rencana pembongkaran ini bagian dari upaya menata ibu kota, khususnya di kawasan Jalan HR Rasuna Said, yang ditargetkan rampung pada 2026.

“Untuk monorel, tentunya kami sudah berbicara dengan Adhi Karya.”

“Tetapi nanti apa hasil pembicaraannya, silakan tanyakan kepada Adhi Karya,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, di kantor Wali Kota Jakarta Timur, Selasa (21/10/2025).

Pemprov DKI, lanjutnya, telah merencanakan upaya penyelesaian masalah tiang monorel lama itu.

Dalam rapat paripurna Pemprov DKI Jakarta, Pramono mengaku telah memberikan batas waktu untuk memulai pembongkaran.

Ia berharap pembongkaran tiang monorel akan membuat kawasan Jalan HR Rasuna Said menjadi lebih rapi dan tertata.

“Kemarin dalam rapat paripurna DKI Jakarta, saya sudah memberikan batas waktu.”

“Mudah-mudahan Januari segera bisa kita mulai, dan tahun 2026 bisa selesai.”

“Sehingga membuat Jakarta, terutama di daerah Rasuna Said, menjadi lebih baik,” harapnya.

Selain pembersihan tiang-tiang monorel, penataan Jalan HR Rasuna Said juga bakal mencakup pelebaran jalan dan perbaikan pedestrian.

“Saya mau tempat itu dibuat indah, maka sentuhan arsitekturnya juga harus ada,” cetus Pramono, di Blok M Hub, Jakarta Selatan, Kamis (16/10/2025).

BACA JUGA: UMP Jakarta 2026 Naik Jadi Rp5.729.876

Menurutnya, penataan dan pelebaran Jalan Rasuna Said, sekaligus untuk mengatasi masalah kemacetan yang selama ini terjadi.

Tiang monorel dibangun pada 2004, pada masa Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, diresmikan oleh Presiden Megawati Sukarnoputri.

Tiang monorel berdiri sepanjang Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan hingga Jalan Asia Afrika, Jakarta Pusat.

Konsorsium PT Jakarta Monorail dan Omnico Singapura ditunjuk sebagai pelaksana proyek monorel.

Jalur awalnya dirancang sepanjang lima kilometer dari Casablanca hingga Karet dengan 14 titik pemberhentian.

Pada 2005, uji beban fondasi di jalur Asia Afrika terhenti karena kendala pendanaan.

Jakarta Monorail gagal memperoleh modal tambahan, karena pemerintah tidak turut serta dalam investasi.

Dari total nilai investasi sekitar US$ 670 juta, sebagian besar (sekitar US$ 470 juta) berasal dari pinjaman luar negeri.

Pada 2007, proyek mandek.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menghentikan proyek itu karena tidak ada kejelasan.

Adhi Karya sudah mengerjakan pembangunan 90 tiang beton sejak 2007. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like