Menlu Kuba: Kami Takkan Menyerah pada Ancaman Amerika

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menilai operasi militer terhadap Kuba tidak diperlukan. Foto: quincyinst.org
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Menteri Luar Negeri (Menlu) Kuba Bruno Rodriguez menegaskan, rakyat Kuba tidak akan menyerahkan kedaulatannya, seiring tekanan Amerika Serikat (AS) terhadap Negara Cerutu tersebut.

Rodriguez juga menuduh AS mengandalkan kekuatan dan agresi selama lebih dari enam dekade, serta menegaskan negaranya akan terus mempertahankan kedaulatannya dari tekanan Washington.

Dalam cuitan di X, Jumat (9/1/2026), Rodriguez mengatakan Washington telah menggunakan kekuatan dan agresi terhadap Kuba selama 67 tahun, serta berupaya memaksakan kehendaknya atas hak-hak negara berdaulat.

Ia menggambarkan kekuatan AS bertumpu pada kekuatan militer yang sangat besar dan skala ekonominya, serta apa yang ia sebut sebagai pengalaman luas dalam agresi dan kejahatan.

Sebaliknya, kata Rodriguez, Kuba punya akal sehat.

“Di pihak kami ada akal sehat, hukum internasional, dan semangat patriotik seluruh rakyat.”

BACA JUGA: Amerika Tuntut Venezuela Jauhi Rusia, Cina, Iran, dan Kuba

“Kami, rakyat Kuba, tidak siap menjual negara kami, atau menyerah pada ancaman dan pemerasan,” tegasnya.

Rodriguez menuturkan, Havana tidak akan melepaskan hak prerogatif yang tidak dapat dicabut, yang digunakan untuk membangun masa depan sendiri, dan hidup damai bersama masyarakat dunia.

“Kami akan membela Kuba,” cetus Rodriguez, seraya menegaskan komitmen tersebut bersifat tegas, jelas, dan telah terbukti.

Pada 5 Januari, Rodriguez menyerukan kepada komunitas negara-negara Amerika Latin dan Karibia, untuk bersama-sama membela kemerdekaan dan kedaulatan kawasan dari ancaman yang ditimbulkan oleh intervensi militer AS baru-baru ini di Venezuela.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut Kuba sebagai salah satu kemungkinan target kebijakan pemerintahannya.

Pada 7 Januari, Trump mengatakan negara Karibia tersebut siap tumbang.

Bergantung pada Venezuela

Presiden AS Donald Trump mengatakan Kuba tidak akan mampu bertahan tanpa pasokan minyak dari Venezuela.

“Secara total, Kuba bergantung pada Venezuela, baik untuk uang maupun untuk minyak.”

“Kuba memberikan perlindungan kepada Venezuela, dan Venezuela memberikan uang kepada Kuba melalui minyak,” kata Trump kepada Fox News, Jumat (9/1/2026).

Hubungan bilateral Kuba dan Venezuela, klaim Trump, kini telah berakhir menyusul operasi militer AS di Venezuela.

“Tidak, Kuba sepenuhnya bergantung pada Venezuela, baik secara finansial maupun dalam hal minyak,” ujar Trump ketika ditanya apakah Kuba dapat bertahan tanpa pasokan minyak dari Venezuela.

AS, lanjut Trump, menerima minyak Venezuela senilai total 4 miliar dolar AS (sekitar Rp67,4 triliun) dalam satu hari.

BACA JUGA: Daftar 66 Organisasi Internasional yang Ditinggal Pergi Amerika

“Minyak yang kami ambil nilainya mencapai 4 miliar dolar AS dalam satu hari, dan jumlah itu akan meningkat.”

“Kami akan membangunnya kembali, semua perusahaan minyak besar akan masuk, mereka akan memperoleh banyak keuntungan, dan Venezuela akan mendapatkan sebagian dari uang tersebut,” tutur Trump.

Sebelumnya, Trump menyatakan otoritas sementara Venezuela akan mentransfer 30 hingga 50 juta barel minyak ke AS.

Ia menjanjikan minyak yang diserahkan Caracas akan dijual dengan harga pasar, dengan hasil penjualan yang disebut akan menguntungkan rakyat Venezuela dan AS.

Anggap Negara Gagal

Presiden AS Donald Trump sempat mengatakan Washington tidak berniat melancarkan operasi militer terhadap Kuba setelah operasi di Venezuela, meski menyebut Kuba sebagai negara gagal, dan menilai sistem politik serta ekonominya tidak berjalan baik bagi rakyatnya.

Dalam wawancaranya dengan harian The New York Post, Sabtu (3/1/2026), Trump menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan tindakan militer AS terhadap Kuba, dengan menegaskan langkah tersebut tidak ada dalam rencana saat ini.

Ia menyatakan Kuba tengah menghadapi kesulitan serius, dan sistem yang diterapkan selama ini tidak membawa hasil yang diharapkan.

Menurut Trump, kondisi tersebut membuat Kuba berpotensi menjadi topik pembahasan lebih lanjut di masa depan, namun bukan dalam konteks operasi militer. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like