Insiden Ancaman Kematian pada Pemain Persib Jadi Sorotan

Laga derbi Persib Vs Persija Jakarta di GBLA.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Manajemen Persib Bandung menyampaikan sikap tegas sekaligus keprihatinan mendalam atas insiden ancaman kematian yang diterima gelandang mereka, Thom Haye, setelah pertandingan melawan Persija Jakarta yang berlangsung pada Minggu (11/1). Ancaman tersebut dilaporkan diterima melalui media sosial dan dinilai telah melampaui batas kewajaran dalam rivalitas sepak bola.

Pernyataan resmi klub disampaikan oleh Head of Communications PT Persib Bandung Bermartabat, Adhi Pratama. Ia mengungkapkan bahwa Persib sangat menyayangkan adanya pesan-pesan bernada ancaman, ujaran kebencian, rasisme, hingga ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada Thom Haye usai laga panas tersebut. Menurutnya, tindakan seperti itu tidak hanya mencederai nilai olahraga, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan individu.

Insiden Ancaman Sangat Disayangkan

“Kami menyayangkan adanya pesan-pesan bernada ancaman, ujaran kebencian, rasisme, hingga ancaman pembunuhan yang diterima pemain kami, Thom Haye, melalui media sosial pasca-pertandingan Persib kontra Persija pada Minggu (11/01/26),” ujar Adhi dilansir darai beberapa sumber, Senin (12/1).

BACA JUGA: PSSI Sebut Target Terdekat Timnas di Tangan John Herdman

Adhi menegaskan bahwa Persib memiliki sikap yang jelas dan tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan, baik verbal maupun nonverbal. Ia menilai bahwa sepak bola sejatinya harus menjadi ruang yang aman dan inklusif bagi semua pihak, mulai dari pemain, ofisial, hingga suporter. Ancaman dan ujaran kebencian, apalagi yang bernuansa rasisme, disebut bertentangan dengan semangat sportivitas yang dijunjung tinggi dalam dunia olahraga.

“Persib menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan verbal, ancaman, dan rasisme tidak memiliki tempat dalam sepak bola maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Sepak bola seharusnya menjadi ruang pemersatu, menjunjung tinggi sportivitas, fair play, serta rasa saling menghormati, baik di dalam maupun di luar lapangan,” lanjutnya.

Pertandingan Derbi yang Sarat Rivalitas Historis

Lebih jauh, Adhi memahami bahwa pertandingan Persib melawan Persija sarat dengan rivalitas historis yang kuat. Namun, ia menekankan bahwa rivalitas seharusnya tetap berada dalam koridor kompetisi yang sehat dan tidak berkembang menjadi kebencian personal. Menurutnya, kritik terhadap performa pemain adalah hal yang wajar, selama disampaikan secara proporsional dan tidak mengandung unsur ancaman atau intimidasi.

“Kami memahami bahwa rivalitas adalah bagian dari dinamika kompetisi, namun rivalitas tidak boleh berubah menjadi kebencian personal yang mengancam keselamatan individu. Kritik terhadap permainan adalah hal yang wajar, tetapi intimidasi, rasisme, dan ancaman nyawa adalah pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” tambah Adhi.

Manajemen Persib juga mengajak seluruh elemen sepak bola nasional untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat pentingnya menjaga etika dalam mendukung tim kesayangan. Ia menilai bahwa tanggung jawab menciptakan iklim sepak bola yang aman dan kondusif tidak hanya berada di pundak klub atau federasi, tetapi juga seluruh suporter dan masyarakat pencinta sepak bola Indonesia.

Komitmen Persib Dukung Gerakan Stop Rasis-Kecam Insiden Ancaman

Dalam kesempatan tersebut, Adhi menegaskan komitmen Persib untuk terus mendukung gerakan stop rasialisme dan menolak segala bentuk kekerasan. Klub, kata dia, ingin sepak bola Indonesia berkembang sebagai kompetisi yang tidak hanya menarik secara teknis, tetapi juga bermartabat dari sisi nilai dan perilaku.

“Persib mendukung penuh komitmen bersama untuk stop rasialisme dan mengajak seluruh insan sepak bola, termasuk suporter dari semua klub, untuk bersama-sama menjaga iklim sepak bola Indonesia yang aman, sehat, dan bermartabat. Kami juga mengapresiasi sikap dewasa mayoritas suporter yang tetap menjunjung sportivitas dan menolak segala bentuk kekerasan,” ujar Adhi.

BACA JUGA: Presiden Ingin Kemiskinan Ekstrem di RI Hilang

Suporter Telah Menunjukkan Kedewasaan

Ia juga menambahkan bahwa mayoritas suporter telah menunjukkan kedewasaan dan sikap positif dalam mendukung tim masing-masing. Menurutnya, sikap tersebut perlu terus dirawat agar sepak bola Indonesia tidak kembali tercoreng oleh tindakan segelintir oknum yang merusak suasana kompetisi.

Menutup pernyataannya, Adhi menyampaikan optimisme bahwa dengan kesadaran kolektif dan tanggung jawab bersama, sepak bola Indonesia dapat tumbuh menjadi hiburan yang membanggakan. Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran agar ke depan tidak ada lagi ancaman atau kekerasan yang mencederai semangat fair play dan persaudaraan dalam sepak bola nasional.

“Kami percaya, dengan kesadaran kolektif dan tanggung jawab bersama, sepak bola Indonesia dapat terus tumbuh sebagai hiburan yang membanggakan, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai fair play,” pungkasnya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like