Senyawa dari Kulit Manggis Diteliti untuk Obati Kanker Payudara

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Isti Daruwati, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri (PRTRRB) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengembangkan senyawa turunan alfa mangostin untuk terapi kanker payudara.

Senyawa turunan alfa mangostin adalah senyawa yang berasal dari kulit buah manggis, yang disebut dengan AMB10.

Berdasarkan data The Global Cancer Observatory (GCO) yang diakses pada 15 Januari 2026, kanker payudara menempati urutan pertama sebagai kanker dengan jumlah kasus terbanyak di Indonesia pada 2022, yakni 66.271 kasus, serta menjadi penyumbang kematian ketiga akibat kanker.

Isti menjelaskan riset ini dikembangkan bersama Universitas Perjuangan Tasikmalaya dan Departemen Analisis Farmasi dan Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.

“Sekitar 75 persen penderita kanker payudara memiliki jenis kanker yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon estrogen.”

“Pada kanker jenis ini, sel kanker memiliki reseptor estrogen (ER+) yang merupakan tempat hormon estrogen menempel dan merangsang pertumbuhan sel kanker,” ungkap Isti di BRIN Kawasan Sains dan Teknologi Samaun Samadikun, Bandung, Kamis (15/1/2026).

BACA JUGA: Urus Orang Tetap Sehat Lebih Penting Ketimbang Obati yang Sakit

Oleh karena itu, lanjut Isti, dibutuhkan terapi seperti tamoksifen yang termasuk golongan selective estrogen receptor modulators (SERMs), yang dapat menghalangi estrogen menempel pada reseptor di jaringan payudara, sehingga pertumbuhan sel kanker dapat ditekan dan diperlambat.

Ia melihat adanya kemiripan struktur kimia antara AMB10 dan tamoksifen melalui pengujian secara in silico dan in vitro.

Berdasarkan hasil pengujian tersebut, AMB10 telah disintesis di Universitas Perjuangan Tasikmalaya, dan dipilih untuk diteliti lebih lanjut sebagai kandidat radiofarmaka baru untuk teranostik kanker payudara.

“Senyawa yang merupakan turunan alfa-mangostin ini diberi label radioaktif menggunakan iodin-131 (I-131) yang diperoleh dari Reaktor Serbaguna GA Siwabessy.”

“Kemudian diiodinasi melalui oksidasi kloramin-T, sehingga menghasilkan kemurnian radiokimia yang tinggi,” jelas Isti.

Ketika diuji di laboratorium pada sel kanker payudara, senyawa ini banyak masuk dan terakumulasi di sel kanker payudara yang memiliki reseptor estrogen positif.

“Setelah melalui berbagai pengujian dan karakterisasi sifat fisikokimia serta studi komputasi, hasilnya menunjukkan senyawa tersebut cenderung mengenali dan berikatan secara khusus dengan sel kanker yang memiliki reseptor estrogen.”

“Kami melihat I-AMB10 memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai radiofarmaka teranostik, yaitu senyawa yang dapat digunakan sekaligus untuk mendeteksi dan mengobati kanker payudara yang bergantung pada reseptor estrogen (ERα-positif),” papar Isti.

Ia berharap riset yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan ini dapat berkontribusi dalam pengobatan kanker payudara di Indonesia.

“Melalui riset ini, kami, tim periset, berharap agar senyawa alami berbasis alfa mangostin ini dapat dikembangkan menjadi obat radioaktif untuk terapi kanker payudara,” harapnya.

Pembunuh Nomor Satu

Kanker payudara menjadi penyebab kematian nomor satu akibat kanker pada perempuan.

Namun, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, peluang kesembuhan sangat besar jika kanker payudara terdeteksi sejak stadium awal.

“Ini khusus untuk wanita.”

“Karena ini pembunuh nomor satu di kanker.”

“Dengan teknologi sekarang, yang wanita kalau kanker payudara ketahuan stadium satu, itu 90 persen bisa disembuhkan,” ungkap Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/1/2026).

Sebaliknya, keterlambatan deteksi disebut berdampak fatal.

BACA JUGA: Diagnosis Jiwa Pakai AI Bisa Memperburuk Kesehatan Mental

Budi menekankan, kanker payudara yang baru terdeteksi pada stadium lanjut memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi.

“Tapi kalau ketahuan stadium tiga, 90 persen itu wafat,” ujarnya.

Menurut Budi, strategi penanganan kanker sejatinya sederhana, yakni dengan melakukan pemeriksaan sedini mungkin agar pengobatan bisa dilakukan sebelum penyakit berkembang lebih parah.

“Sehingga strategi kanker sebenarnya sederhana, temukan sedini mungkin dan obati.”

“Cuma orang-orang kita itu kalau enggak benjol duluan, dia enggak mau periksa,” kata Budi.

Untuk meningkatkan deteksi dini, Kementerian Kesehatan mulai melakukan skrining kanker payudara di puskesmas, memanfaatkan teknologi ultrasonografi (USG).

Dari hasil pilot project tersebut, Budi mengungkapkan temuan kasus kanker payudara yang cukup signifikan.

“Kelihatan dari 20.000 (orang), ini masih kita pilot project ya, ketemu yang terdiagnosa kanker 1.400 (orang),” jelasnya.

Ia menegaskan, tanpa intervensi medis, ribuan perempuan yang terdeteksi berisiko kehilangan nyawa akibat kanker payudara.

“Ini didiemin, meninggal tuh 1.400. Udah pasti meninggal,” tegasnya.

Budi optimistis, jika skrining kanker payudara diperluas secara masif dan diikuti pengobatan yang tepat, banyak nyawa perempuan Indonesia dapat diselamatkan.

“Nah, ini bayangkan yang di abnormal baru 20.000.”

“Kalau kita nanti masifkan, kemudian kita ikuti.”

“Nah, itu saya rasa bisa menyelamatkan banyak nyawa untuk wanita-wanita kita ya.”

“Karena ini pembunuh nomor satu untuk cancer,” imbuhnya. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like