NarayaPost – Kementerian Luar Negeri Cina menentang pemberian penghargaan Grammy kepada Dalai Lama ke-14.
Cina menilai penghargaan tersebut menjadi alat manipulasi politik anti-Tiongkok.
“Kami dengan tegas menentang pihak terkait yang menggunakan penghargaan tersebut sebagai alat manipulasi politik anti-Cina,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (2/2/2026).
Dalai Lama menerima penghargaan Grammy untuk kategori ‘Audiobook, Narasi, dan Rekaman Cerita Terbaik berjudul Meditations: The Reflections of His Holiness the Dalai Lama, dalam acara Grammy Awards ke-68 di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), Minggu (1/2/2026).
“Saya menerima penghargaan ini dengan rasa syukur dan kerendahan hati.”
“Saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang pribadi.”
BACA JUGA: Xi Jinping: Sejarah Mengajarkan Cina dan AS Harus Bersahabat
“Tetapi sebagai pengakuan atas tanggung jawab universal kita bersama,” kata pemilik nama asli Lhamo Thondup itu, lewat media sosial.
Penghargaan itu diterima atas namanya oleh musisi Rufus Wainwright, yang termasuk di antara para artis yang tampil dalam audiobuku yang membahas 10 tema, termasuk harmoni, kebaikan, dan perdamaian, disertai musik latar.
Album itu juga mencakup kolaborasi dengan artis seperti Maggie Rogers dan menggabungkan elemen yang dipengaruhi oleh musik klasik India.
“Saya sungguh percaya, perdamaian, kasih sayang, kepedulian terhadap lingkungan kita, dan pemahaman tentang kesatuan umat manusia, sangat penting untuk kesejahteraan kolektif kedelapan miliar umat manusia,” tambahnya.
Dalai Lama ke-14 Tenzin Gyatso sudah berusia 90 tahun, diakui sebagai reinkarnasi ke-14 pada usia dua tahun.
Ia memegang kekuasaan penuh pada usia 15 tahun, dan melarikan diri dari Tibet empat tahun kemudian, ketika pasukan Cina memberantas pemberontakan di ibu kota Tibet, Lhasa, pada 1959.
Ia melarikan diri ke Dharamshala, India, dan mendirikan pemerintahan di pengasingan di sana, serta melakukan kunjungan ke berbagai negara di Amerika dan Eropa.
Pada 1989, Dalai Lama ke-14 menerima penghargaan Nobel Perdamaian.
Pada 2011, Dalai Lama ke-14 menyerahkan jabatan politiknya kepada kepala pemerintahan Tibet di pengasingan yang dipilih secara demokratis, dan hanya mempertahankan perannya sebagai kepala spiritual rakyat Tibet.
Tibet sendiri mengakar pada nama Tubo, yaitu rezim yang berkuasa pada abad ke-9 dengan wilayah terfragmentasi dari beberapa suku.
Pada abad ke-13, Dinasti Yuan menguasai wilayah tersebut.
Dianggap Reinkarnasi
Pemimpin spiritual Tibet Dalai Lama adalah tokoh karismatik berusia 90 tahun yang hidup dalam pengasingan di India.
Ia dipuji di seluruh dunia atas kampanyenya yang tak kenal lelah untuk otonomi yang lebih besar bagi tanah airnya, Tibet, yang menurut Beijing merupakan bagian integral dari Tiongkok.
Dengan jubah merah marunnya, sandal sederhana, dan kacamata berbingkai lebar, Dalai Lama adalah selebritas global.
Dalai Lama baru berusia 23 tahun ketika ia melarikan diri dari ibu kota Tibet, Lhasa, setelah pasukan Tiongkok menumpas pemberontakan pada tahun 1959.
Ia tidak pernah kembali ke Tanah Airnya sejak itu.
Peraih Nobel Perdamaian itu bersikeras ia masih memiliki banyak waktu untuk hidup, tetapi warga Tibet sedang menyiapkan masa depan yang tak terhindarkan tanpa dirinya.
BACA JUGA: Amerika Tuntut Venezuela Jauhi Rusia, Cina, Iran, dan Kuba
Umat Buddha Tibet percaya ia adalah reinkarnasi ke-14 dari seorang pemimpin spiritual yang pertama kali lahir pada tahun 1391.
Tiongkok yang menyatakan diri sebagai ateis dan komunis, tahun lalu mengatakan mereka harus menyetujui penggantinya nanti.
Dalai Lama mengatakan hanya kantornya yang berbasis di India yang memiliki hak tersebut.
Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14, juga terlibat dalam tindakan kontroversial, termasuk tindakan saat ia meminta salah satu muridnya untuk mengisap lidahnya, yang memicu kemarahan publik pada tahun 2023. (*)