Menkes Beri Tanggapan Soal Anak Bunuh Diri Tak Bisa Beli Buku

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Dok. Bloomberg via Getty Images.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyatakan pemerintah tengah menyiapkan penempatan psikolog klinis di Puskesmas seluruh Indonesia guna memperkuat penanganan kesehatan mental anak. Langkah ini diambil sebagai respons atas berbagai temuan masalah kejiwaan pada anak-anak, termasuk kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengguncang perhatian publik.

Kasus tersebut menimpa YBS (10), siswa laki-laki kelas IV SD, yang ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1) siang. Peristiwa itu menyoroti sisi gelap persoalan kesehatan mental anak, khususnya di daerah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan dan dukungan keluarga. Menurut keterangan warga setempat, korban mengakhiri hidupnya di pohon cengkeh tak jauh dari pondok sederhana tempat ia tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun.

Menkes Sebut Isu Kesehatan Mental Anak Luput Perhatian

Menanggapi peristiwa itu, Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa isu kesehatan mental anak selama ini kerap luput dari perhatian karena belum adanya sistem deteksi yang memadai. Ia mengungkapkan, Kementerian Kesehatan telah mulai melakukan skrining kesehatan mental pada anak-anak dan menemukan angka yang cukup besar. “Kesehatan mental anak memang kita sudah skrining, kita nemu ada 10 juta,” kata Budi usai menghadiri peringatan Hari Kanker Sedunia di South Quarter Dome, Jakarta Selatan, Rabu (4/2).

BACA JUGA: Permintaan Emas Logam Mulia di RI Naik hingga 29 Persen

Menurut Budi, temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak bukanlah isu kecil atau kasuistik, melainkan masalah struktural yang memerlukan intervensi serius dari negara. Karena itu, Kemenkes berencana menempatkan psikolog klinis di setiap Puskesmas agar layanan kesehatan mental dapat diakses lebih luas, terutama oleh kelompok rentan seperti anak-anak. “Sekarang saya mau siapkan ada psikolog klinis di masing-masing Puskesmas, supaya penyakit yang sebelumnya enggak pernah terlayani ini bisa dilayani,” ujarnya.

Selain menyediakan tenaga profesional, Budi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, khususnya antara Puskesmas dan sekolah. Ia menilai sekolah merupakan ruang penting untuk mendeteksi dini masalah psikologis anak karena guru dan tenaga pendidik berinteraksi langsung dengan siswa setiap hari. “Puskesmas itu tanggung jawab juga ke sekolah-sekolah. Karena ini penting sekali kita kerja sama-sama,” ucapnya.

Angka Temuan Baru, Kejiwaan Anak Tak Teridentifikasi

Ketika ditanya apakah kondisi kesehatan mental anak di Indonesia sudah berada pada tahap mengkhawatirkan, Budi menjelaskan bahwa besarnya angka temuan baru terlihat setelah pemerintah melakukan skrining secara aktif. Sebelumnya, masalah kejiwaan pada anak sering kali tidak teridentifikasi. “Kita kan baru mulai skrining. Sebelumnya enggak, kita enggak tahu ada masalah kejiwaan di anak. Sekarang sudah tahu ada 10 juta. Nah itu yang harus kita perbaiki dengan menaruh psikolog klinis di Puskesmas, bekerja sama dengan sekolah supaya bisa diobati,” katanya Menkes.

BACA JUGA: Industri Genteng Diyakini Bisa Majukan UMKM, Ini Langkah Pemerintah

Di balik data dan kebijakan tersebut, kisah YBS memperlihatkan realitas sosial yang kompleks. Gregorius Kodo, salah satu saksi mata, menuturkan bahwa korban berasal dari keluarga dengan banyak keterbatasan. Ayah korban telah meninggal dunia sejak korban masih dalam kandungan. Ibunya harus menafkahi lima orang anak seorang diri, sementara YBS memilih tinggal bersama neneknya di sebuah pondok sederhana karena kondisi keluarga yang sulit. Saat peristiwa itu terjadi, sang nenek diketahui sedang berada di rumah tetangga.

Gregorius juga mengungkapkan bahwa sebelum meninggal, YBS sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku dan pena. Permintaan sederhana itu tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kisah ini menambah dimensi kemanusiaan dalam tragedi tersebut, sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental anak kerap berkelindan dengan kemiskinan, kurangnya dukungan keluarga, dan minimnya akses layanan psikologis.

Pemerintah berharap kehadiran psikolog klinis di Puskesmas dapat menjadi pintu awal untuk mencegah tragedi serupa terulang. Dengan deteksi dini, pendampingan berkelanjutan, serta kerja sama antara fasilitas kesehatan dan sekolah, masalah kesehatan mental anak diharapkan dapat ditangani lebih cepat, sebelum berkembang menjadi krisis yang berujung pada kehilangan nyawa.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like