NarayaPost – Israel berniat menyerang Iran sendirian tanpa dukungan Amerika Serikat (AS), jika Iran mereka nilai melampaui garis merah terkait rudal balistik.
“Kami telah memberi tahu pihak Amerika, kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar pejabat pertahanan Israel kepada The Jerusalem Post, Minggu (8/2/2026).
Menurut laporan itu, para pejabat Israel menyampaikan kepada mitra mereka di AS, program pengembangan dan produksi rudal balistik Iran merupakan ancaman eksistensial bagi otoritas tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, niat Israel menggagalkan rencana pengembangan rudal Iran telah disampaikan kepada militer AS melalui berbagai jalur.
Militer Israel disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas produksi utama Iran.
Israel menegaskan mereka tidak akan membiarkan Iran memulihkan sistem senjata strategis dalam skala yang mengancam keberadaan Israel.
BACA JUGA: Iran Incar Pangkalan Militer AS di Teluk Persia Jika Diserang
Pejabat pertahanan itu menggambarkan momen saat ini sebagai kesempatan bersejarah, untuk memberikan pukulan signifikan terhadap infrastruktur rudal Iran dan menetralisir ancaman aktif terhadap Israel dan negara-negara tetangga.
Selama pembicaraan baru-baru ini, Israel juga mempresentasikan rencana menargetkan fasilitas tambahan yang terkait dengan program rudal Iran, menurut pejabat tersebut.
Beberapa pejabat menyampaikan kekhawatiran Presiden AS Donald Trump mungkin akan mengadopsi model serangan terbatas, mirip operasi AS baru-baru ini terhadap Houthi di Yaman, yang, mereka khawatir, dapat membiarkan kemampuan kritis Iran tetap utuh.
“Kekhawatirannya adalah dia mungkin memilih beberapa target, menyatakan keberhasilan, dan membiarkan Israel menangani akibatnya, seperti halnya dengan Houthi,” cetus seorang pejabat militer Israel lainnya.
Menurutnya, tindakan parsial tidak akan menghilangkan ancaman inti.
Di internal Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Brigadir Jenderal Omer Tishler, komandan Angkatan Udara yang akan datang, diharapkan akan mendampingi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam perjalanan mendatangnya ke AS.
Tishler akan mewakili Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir, karena saat ini tidak ada atase pertahanan di Washington menyusul keputusan Menteri Pertahanan Israel Katz untuk tidak menyetujui calon militer untuk posisi tersebut.
Pada Jumat, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Iran yang dimediasi Oman digelar di Muscat, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan.
Iran membantah adanya dimensi militer dalam program nuklirnya.
Pada Juni, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan, lembaganya belum melihat bukti konkret Iran memiliki program senjata nuklir yang aktif.
Maju Selangkah
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggambarkan perundingan nuklir terbaru antara negaranya dan AS maju selangkah.
Dia melontarkan komentar itu dalam sebuah unggahan di X, yang menyoroti perundingan tak langsung antara delegasi Iran dan AS di Muscat, ibu kota Oman, Jumat (6/2/2026).
“Dialog selalu menjadi strategi kami untuk mencapai solusi damai,” tulis Pezeshkian, seraya menekankan pendekatan Iran terhadap masalah nuklir didasarkan pada hak-hak yang dijamin berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi.
Pezeshkian menuturkan, pembahasan itu digelar sebagai hasil dari upaya tindak lanjut pemerintah-pemerintah bersahabat di kawasan Asia Barat.
Dia juga menekankan, dialog terus menjadi strategi yang dipilih Iran untuk menyelesaikan berbagai persoalan secara damai.
Sementara, berbicara dalam sebuah konferensi nasional di Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi yang mengepalai delegasi Iran saat perundingan Jumat tersebut, mengatakan, “Tidak ada pihak yang berhak menentukan apa yang boleh atau tidak boleh kami miliki”.
BACA JUGA: Bom Waktu Iran dan Amerika
Araghchi memastikan Iran tidak berniat mengembangkan senjata nuklir, serta secara tegas menolak segala bentuk perundungan.
“Jika mereka berbicara kepada rakyat Iran menggunakan bahasa kekuatan, kami akan meresponsnya dengan bahasa yang sama.”
“Namun, jika mereka berbicara kepada kita menggunakan bahasa penuh hormat, respons untuk mereka akan diberikan dengan bahasa yang sama,” tegasnya.
Perundingan pada Jumat itu digelar di tengah meningkatnya ketegangan regional antara Washington dan Teheran, termasuk peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah dan peningkatan persiapan Iran.
Setelah perundingan berakhir, Araghchi mengatakan, “Secara umum, saya dapat menyatakan perundingan itu merupakan awal yang baik.”
“Namun, kelanjutan proses tersebut bergantung pada konsultasi kedua pihak di ibu kota masing-masing, dan keputusan mereka terkait bagaimana cara melanjutkannya.” (*)