NarayaPost – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, negaranya tidak akan pernah menyerah pada tuntutan berlebihan dan agresi.
Pezeshkian mengatakan, tembok kesangsian yang diciptakan Barat dan tuntutan berlebihan Amerika Serikat (AS), menghambat kemajuan perundingan nuklir antara Teheran dan Washington.
Saat berpidato pada acara peringatan 47 tahun Revolusi Islam 1979 yang digelar di Teheran, Iran, Rabu (11/2/2026), Pezeshkian mengatakan Iran tidak mengincar senjata nuklir, dan siap memverifikasi apa pun terkait hal tersebut.
“Kami meyakini masalah kawasan ini hanya dapat diselesaikan oleh negara-negara di kawasan ini, bukan negara asing,” ujarnya.
Pezeshkian mengatakan Iran sedang menempuh jalur diplomasi dengan tulus, serta berinteraksi dengan negara-negara di Asia Barat untuk memastikan perdamaian regional.
Belum Terima Proposal
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani mengatakan, Teheran belum menerima proposal yang jelas dari AS, di tengah negosiasi yang sedang berlangsung.
Kepada Al Jazeera dalam kunjungannya ke Doha, Larijani menggambarkan pertemuan itu hanya sebagai ajang bertukar pesan.
Dia menyambut baik upaya regional mendukung perundingan tersebut, dan menegaskan kembali komitmen Iran terhadap diplomasi.
Larijani menilai partisipasi AS sebagai sebuah pergeseran ke arah jalur yang rasional.
Namun, dia memperingatkan setiap serangan yang dilakukan oleh AS akan memicu serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Larijani menegaskan kembali, perundingan tersebut secara eksklusif berfokus pada program nuklir Iran, bukan pada isu-isu lain.
Dia menepis kemungkinan penghentian total pengayaan uranium di wilayah Iran, dengan alasan kebutuhan domestik untuk sektor energi dan farmasi.
Kepala SNSC itu juga menuduh Israel berupaya menggagalkan negosiasi dan mengganggu stabilitas di kawasan tersebut.
Gunakan Nuklir Secara Damai
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan, Iran sedang mengupayakan usulan perjanjian yang akan menjamin hak penggunaan nuklir secara damai tanpa senjata nuklir.
“Saya menginstruksikan tim saya untuk mengerjakan rencana atau proposal yang dapat dilaksanakan, yang dapat menjamin tidak akan ada senjata nuklir.”
“Sekaligus menjamin hak Iran menggunakan teknologi nuklir secara damai untuk pembangkit listrik, produksi obat-obatan, dan pertanian,” kata Araghchi kepada RT, yang dipublikasikan pada Rabu.
Iran, lanjut Araghchi, belum sepenuhnya mempercayai AS, setelah serangan yang terjadi selama negosiasi pada 2025, dan ingin memastikan insiden serupa tidak terulang.
Menanggapi pertanyaan tentang apakah Iran bersedia meminimalkan atau mengurangi potensi rudal balistiknya, Araghchi mengatakan otoritas Iran hanya bernegosiasi tentang program nuklirnya dengan AS.
“Isu rudal balistik tidak sedang dibahas,” imbuhnya.
BACA JUGA: Israel Mau Serang Iran Tanpa Bantuan Amerika
Araghchi menegaskan, Iran tidak memiliki masalah dengan rakyat AS, tetapi memiliki masalah dengan kebijakan pemerintahnya, yang bermusuhan terhadap Republik Islam.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pekan lalu menyatakan, keberhasilan negosiasi dengan Iran bergantung pada keputusan terkait jangkauan rudal balistik, program nuklir, dan hal-hal lainnya.
Pada 6 Februari, pembicaraan antara delegasi AS dan Iran mengenai program nuklir Iran diadakan di ibu kota Oman, Muscat.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan berjalan lancar dan akan berlanjut selama minggu ini.
Pada saat yang sama, Araghchi mengatakan, Teheran mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium, bahkan jika hal tersebut menyebabkan perang.
Siapkan Kapal Induk Kedua
Pentagon dilaporkan aktif merencanakan pengerahan kelompok tempur kapal induk kedua ke Timur Tengah.
Mengutip tiga pejabat AS, persiapan tersebut dilakukan di tengah pernyataan Presiden Donald Trump yang membayangi negosiasi dengan Iran dengan kemungkinan perang.
Trump pada Selasa mengaku tengah mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah.
Salah satu pejabat yang meminta namanya dirahasiakan mengatakan kepada harian The Wall Street Journal, perintah pengerahan dapat dikeluarkan dalam hitungan jam.
Para pejabat itu menyebutkan, presiden belum memberikan perintah pengerahan.
Namun, Pentagon telah menyiapkan kelompok tempur tersebut untuk diberangkatkan, kemungkinan dari Pantai Timur, dalam waktu dua pekan.
BACA JUGA: Trump Bakal Tambah Kapal Induk Jika Negosiasi Iran Gagal
The Wall Street Journal melaporkan, kapal induk USS George HW Bush tengah menjalani latihan di lepas pantai Virginia.
Mengutip para pejabat yang juga meminta namanya dirahasiakan, laporan itu menyebutkan latihan tersebut dapat dipercepat.
Pentagon menolak berkomentar mengenai laporan tersebut.
AS telah secara signifikan meningkatkan kehadiran militer di Timur Tengah, seiring peringatan Trump kepada Iran agar mencapai kesepakatan.
Sebelumnya, AS mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln dari Laut Cina Selatan.
Trump pada Rabu menggelar pertemuan tertutup dengan kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu.
Setelah pertemuan itu, ia megatakan tidak ada kesimpulan pasti yang dicapai, selain bersikeras agar negosiasi dengan Iran dilanjutkan untuk melihat apakah kesepakatan dapat dicapai.
“Jika bisa, saya memberi tahu kepala otoritas (Israel), itu akan menjadi pilihan yang diutamakan.”
“Jika tidak, kita harus melihat bagaimana hasilnya nanti.”
“Terakhir kali Iran memutuskan mereka lebih baik tidak membuat kesepakatan, dan mereka dihantam dengan (Operasi) Midnight Hammer — Itu tidak berjalan baik bagi mereka.”
“Semoga kali ini mereka akan lebih rasional dan bertanggung jawab,” tulis Trump di Truth Social. (*)