Iran Tegaskan Program Rudal Mereka Tak Bisa Dinegosiasikan

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Iran kembali menegaskan, program rudal mereka tetap menjadi garis merah yang tidak dapat dinegosiasikan.

Di tengah buntunya upaya diplomasi, Amerika Serikat (AS) mengerahkan kapal induk kedua ke Timur Tengah.

Ali Shamkhani, penasihat politik senior bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, mengatakan Iran akan merespons secara tegas dan tepat terhadap setiap tindakan militer.

“Kekuatan rudal Iran termasuk dalam garis merah dan tidak dapat dinegosiasikan.”

“Militer kami tetap dalam keadaan siaga tinggi.”

“Harga yang harus dibayar dari setiap miskalkulasi oleh kekuatan luar akan sangat mahal,” katanya kepada Al Jazeera, Jumat (13/2/2026).

Namun, Shamkhani mengatakan perundingan antara Teheran dan Washington dapat mengalami kemajuan dan melindungi kepentingan bersama, jika perundingan tersebut didasarkan pada realisme dan menghindari tuntutan yang berlebihan.

Pada Jumat yang sama, Presiden AS Donald Trump mengatakan USS Gerald R Ford, kapal induk terbesar di dunia, telah diperintahkan bergabung dengan USS Abraham Lincoln dan tiga kapal perusak berpeluru kendali, yang lebih dulu dikerahkan ke Timur Tengah.

Trump mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan opsi-opsi militer jika negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan nuklir baru.

“Saya akan berbicara dengan mereka selama yang saya inginkan, dan kita akan lihat apakah kami bisa mencapai kesepakatan.”

“Dan jika tidak bisa (mencapai kesepakatan), kita harus melanjutkan ke tahap kedua.”

“Tahap kedua akan sangat sulit bagi mereka,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (12/2/2026).

BACA JUGA: Iran Jamin Takkan Ada Senjata Nuklir, Amerika Malah Siapkan Ini

AS dan Iran telah mengadakan pembicaraan tak langsung di Muscat, Oman, pada 6 Februari, tetapi ketegangan tetap tinggi di tengah pengerahan militer AS di dekat perairan Iran.

Saat berbicara pada Rabu (11/2/2026) dalam acara peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran 1979, Presiden Masoud Pezeshkian mengatakan tembok kesangsian yang diciptakan Barat menjadi penyebab lambatnya kemajuan perundingan.

Washington mengatakan, setiap kesepakatan dengan Iran harus mencakup larangan pengayaan uranium, penyingkiran material yang sudah diperkaya, pembatasan rudal jarak jauh, dan penarikan dukungan untuk proksi-proksi regional.

Kalangan analis mengatakan persyaratan-persyaratan tersebut akan sangat sulit diterima oleh Iran.

Terlepas dari berbagai friksi yang terjadi, Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) telah melanjutkan dialog dengan Teheran, usai serangan-serangan terbaru terhadap sejumlah target di Iran.

Dalam Konferensi Keamanan Munich, Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyebut situasi tersebut kompleks dan sangat sulit, tetapi mengatakan para inspektur telah kembali dikerahkan ke sebagian besar lokasi, kecuali yang baru-baru ini diserang

BACA JUGA: Amerika-Iran Berunding Soal Nuklir Tanpa Rasa Saling Percaya

“Kita berada di momen yang sangat, sangat krusial.”

“Kita mungkin akan melihat cahaya di ujung terowongan, dalam mencapai sesuatu, beberapa hari ke depan,” ucapnya.

Teheran belum memberikan komentar terkait pernyataan Grossi tersebut.

Sebelumnya, Iran menangguhkan kerja sama dengan IAEA, usai sejumlah serangan terhadap fasilitas-fasilitas nuklirnya, yang menurutnya dilakukan oleh Israel dan AS.

Di bawah perjanjian nuklir 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA), Iran setuju membatasi pengayaan uranium sebesar 3,67 persen.

Sejak AS menarik diri dari perjanjian itu pada 2018, Teheran telah melampaui batas itu.

Para pejabat Barat mengatakan Iran kini memiliki uranium yang diperkaya hingga 60 persen, tingkat yang dapat dimurnikan lebih lanjut menjadi material untuk senjata.

Iran membantah memiliki senjata nuklir, dan mengatakan programnya dimaksudkan untuk tujuan energi yang damai. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like