Dalam banyak wawancara dan laporan lapangan, pemudik kerap menuturkan bahwa mudik dengan kendaraan pribadi bukan sekadar soal sampai tujuan, melainkan bagian dari pengalaman emosional yang melekat kuat. Ada kenangan tentang berhenti di warung kopi kecil di jalur pantura, membeli jajanan tradisional di pinggir jalan, atau sekadar meregangkan kaki sambil memandangi antrean kendaraan di rest area yang penuh sesak. Perjalanan malam hari dengan lampu jalan temaram, radio yang memutar lagu-lagu lama, dan percakapan ringan di dalam mobil sering menjadi momen yang justru paling diingat ketika Lebaran usai. Pengalaman-pengalaman semacam ini sulit digantikan oleh perjalanan terjadwal di dalam bus atau kereta, yang meskipun lebih efisien, terasa lebih impersonal.
Narasi ini juga tercermin dalam berbagai liputan feature media nasional seperti Kompas yang berulang kali menyoroti mudik sebagai “perjalanan pulang” dalam makna sosial dan kultural. Bagi banyak keluarga, mudik dengan kendaraan pribadi memberi kesempatan untuk membangun kebersamaan sejak awal perjalanan. Anak-anak mengenal rute kampung halaman, orang tua bernostalgia dengan perubahan lanskap desa, sementara anggota keluarga lain berbagi cerita yang jarang sempat terucap dalam rutinitas harian di kota.
Budaya mudik mayoritas warga di Indonesia memang tidak hanya soal berpindah tempat, tetapi juga soal proses perjalanan itu sendiri. Kendaraan pribadi memberi ruang yang intim bagi pengalaman kolektif keluarga. Obrolan panjang tentang pekerjaan, rencana masa depan, hingga cerita masa kecil sering mengalir tanpa distraksi. Dalam konteks ini, mobil atau sepeda motor pribadi berfungsi sebagai ruang sosial bergerak, tempat interaksi berlangsung lebih cair dibandingkan moda transportasi publik yang sarat aturan dan keterbatasan ruang.
Pilihan moda transportasi dalam mudik, karena itu, tidak semata rasional dalam arti ekonomi atau efisiensi waktu. Ia juga kultural, terkait dengan nilai kebersamaan, kontrol, dan rasa memiliki atas perjalanan. Survei nasional yang dirilis Badan Pusat Statistik tentang mobilitas penduduk menunjukkan bahwa kepemilikan kendaraan pribadi terus meningkat seiring urbanisasi dan pertumbuhan kelas menengah. Kendaraan bukan lagi simbol kemewahan, melainkan bagian dari gaya hidup dan strategi mobilitas keluarga.
BACA JUGA: TPUA Dibekukan Habib Rizieq, Eggi Sudjana Angkat Bicara
Urbanisasi Masif Dorong Lonjakan Kendaraan di Kota Besar
Namun, di balik romantika tersebut, tantangan mayoritas warga ke depan semakin kompleks. Urbanisasi yang masif mendorong lonjakan jumlah kendaraan di kota-kota besar, sementara kapasitas jalan tumbuh lebih lambat. Tekanan terhadap infrastruktur jalan nasional dan daerah semakin terasa setiap musim mudik tiba. Data kepolisian menunjukkan bahwa kepadatan lalu lintas dan kelelahan pengemudi kendaraan pribadi masih menjadi faktor dominan dalam kecelakaan selama arus mudik dan balik. Dalam situasi ini, kebijakan transportasi dituntut untuk lebih adaptif, tidak hanya mengelola arus, tetapi juga mengubah pola pilihan moda secara bertahap.
Survei-survei nasional memberi gambaran yang relatif konsisten: kendaraan pribadi masih menjadi tulang punggung mudik, terutama bagi pemudik keluarga dan mereka yang menuju daerah dengan akses angkutan umum terbatas. Namun survei yang sama juga menegaskan adanya potensi pergeseran jika kualitas dan daya tarik transportasi publik benar-benar ditingkatkan. Kenyamanan, keterjangkauan, dan konektivitas menjadi kata kunci yang terus muncul dalam preferensi responden.
Selama akses angkutan umum belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah, terutama daerah pedesaan dan pinggiran, kendaraan pribadi akan tetap menjadi pilihan rasional sekaligus emosional. Selama pula mobil dan sepeda motor masih menawarkan kombinasi kenyamanan, fleksibilitas waktu, dan efisiensi biaya bagi keluarga, perubahan pola mudik akan berjalan lambat. Mudik dengan kendaraan pribadi akan terus menjadi wajah perjalanan Lebaran Indonesia, lengkap dengan cerita-cerita kecil di sepanjang jalan, risiko yang harus dihadapi, serta romantika perjalanan pulang yang berulang dari tahun ke tahun.








