Trump Dukung Israel Serang Rudal Balistik Iran

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bakal mendukung serangan Israel terhadap program rudal balistik Iran, jika perundingan antara Washington dan Teheran gagal. Foto: wionews.com
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bakal mendukung serangan Israel terhadap program rudal balistik Iran, jika perundingan antara Washington dan Teheran gagal.

Mengutip dua sumber yang mengetahui persoalan tersebut, CBS News pada Minggu (15/2/2026) melaporkan, Trump menyampaikan pernyataan tersebut saat bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Mar-a-Lago, Florida, Desember 2025.

Para pejabat militer dan intelijen AS juga telah membahas bagaimana Washington dapat membantu Israel dalam potensi operasi terhadap infrastruktur rudal Iran, termasuk menyediakan pengisian bahan bakar di udara bagi pesawat Israel, serta membantu mengamankan izin melintasi wilayah udara dari negara-negara kawasan terkait, menurut laporan tersebut.

Namun, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab secara terbuka menyatakan mereka tidak akan mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk serangan apa pun terhadap Iran, maupun bagi Iran untuk melancarkan serangan terhadap negara lain.

Pada Minggu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan dalam kunjungannya ke Slovakia, dia lebih memilih menyelesaikan ketegangan dengan Iran melalui jalur diplomatik.

Putaran kedua perundingan nuklir antara AS dan Iran dijadwalkan akan digelar di Jenewa pada Selasa (17/2/2026).

Rubio mengonfirmasi utusan AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, akan mewakili Washington dalam perundingan tersebut.

“Kita lihat nanti apa hasilnya,” kata Rubio.

Tekan Ekonomi Iran

Donald Trump dan Benjamin Netanyahu juga dikabarkan sepakat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, terutama dengan menargetkan penjualan minyak Iran ke Cina.

Axios pada Sabtu (14/2/2026) melaporkan, kesepakatan itu dicapai saat keduanya bertemu di Gedung Putih, Washington, pertengahan pekan lalu.

“Kami sepakat mengerahkan tekanan maksimal terhadap Iran, misalnya terkait penjualan minyak Iran ke Cina,” ungkap seorang pejabat senior AS.

Namun, keduanya berbeda pandangan mengenai cara mencapai tujuan tersebut.

Netanyahu menilai kesepakatan dengan Iran sulit dicapai dan berpotensi dilanggar, sementara Trump yakin kesepakatan masih mungkin diwujudkan.

“Kita lihat apakah itu memungkinkan, mari kita coba,” imbuh pejabat AS itu menirukan perkataan Trump.

BACA JUGA: Iran Tegaskan Program Rudal Mereka Tak Bisa Dinegosiasikan

Pejabat tersebut mengatakan AS akan melanjutkan upaya menekan Iran secara maksimal, bersamaan dengan negosiasi nuklir dan peningkatan kehadiran militer di Timur Tengah, untuk mempertahankan opsi serangan jika upaya diplomatik gagal.

Lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dikirim ke Cina.

Mengurangi pembelian oleh Cina dinilai bisa meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dan memengaruhi sikapnya terhadap program nuklir.

Perintah eksekutif yang baru ditandatangani Trump, juga memungkinkan AS meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, termasuk mengenakan tarif hingga 25 persen kepada negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.

Pogram Rudal Tak Masuk Negosiasi

Iran mendesak AS menilai kepentingannya secara independen dari pengaruh Israel, dalam negosiasi mengenai program nuklir Tehran.

Dalam wawancara baru-baru ini dengan Al Jazeera, Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan proses negosiasi terus berlanjut, dan negara-negara regional juga berupaya membantu keberhasilan pembicaraan.

Menanggapi surat yang dikirim melalui Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad al-Busaidi yang menyampaikan posisi Tehran kepada AS, Larijani mengatakan belum ada tanggapan yang diterima.

Dia menegaskan, Iran tetap terbuka bekerja sama dalam negosiasi dan terus mendukung pembicaraan.

Ia mencatat ada kesamaan pandangan antara Tehran dan Washington, mengenai Iran yang tidak memiliki senjata nuklir, yang menurut Iran tidak sedang diupayakan.

Menekankan proses negosiasi tidak boleh berlarut-larut, Larijani mengatakan program rudal Iran tidak akan menjadi bagian dari negosiasi, karena memasukkan topik lain dapat mengganggu proses tersebut.

BACA JUGA: Pesawat Siluman B-2 Siaga Antisipasi Negosiasi AS dan Iran Gagal

“Program rudal kami sepenuhnya terpisah dari program nuklir.”

“Ini adalah masalah domestik, pada dasarnya terkait dengan keamanan nasional kami.”

“Karena itu, program ini tidak dapat menjadi bagian dari negosiasi ini,” tegasnya.

Dia juga mengatakan, gagasan Iran mengurangi pengayaan uraniumnya hingga nol tidak ada dalam agenda.

“Tidak praktis bagi negara yang telah menguasai teknologi ini untuk menguranginya hingga nol,” imbuhnya.

Kebutuhan uranium yang diperkaya, lanjutnya, untuk tujuan seperti penelitian dan pengobatan kesehatan.

Larijani juga menekankan Iran siap menghadapi ancaman potensial apa pun, dan menuduh Israel berupaya ikut campur dalam negosiasi dan menggoyahkan kawasan tersebut.

“Negosiasi kami secara eksklusif dengan Amerika Serikat.”

“Kami tidak terlibat dalam pembicaraan apa pun dengan Israel.”

“Namun, Israel ikut campur dalam proses ini, dengan niat mereka merusak dan menyabotase negosiasi ini,” tudingnya.

Larijani mencatat, Iran siap bekerja sama dengan Arab Saudi, Mesir, dan Turki untuk menjaga stabilitas regional.

Mengomentari perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, Larijani mengakui aparat intelijen Iran tidak sekuat yang digambarkan, tetapi mencatat langkah-langkah keamanan telah diperkuat, dan serangan Israel telah memupuk persatuan nasional. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like