Israel Ogah Gabung Amerika Perang Darat Lawan Iran

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Setelah tak dibantu Uni Eropa dan negara-negara anggota NATO dalam perang melawan Iran, Amerika Serikat (AS) tampaknya harus siap dikhianati sekutu terdekatnya, Israel.

Sebab, Israel dikabarkan tak akan ikut melancarkan invasi darat ke Iran.

Padahal, Israel adalah pihak yang memicu perang melawan Iran.

Negeri Zionis itu pula yang disebut-sebut merayu AS agar menyerbu Iran.

Media Israel Channel 12 pada Minggu (29/3/2026) mengabarkan, tentara Israel tidak akan berpartisipasi di lapangan, apabila AS memutuskan melancarkan serangan darat.

Laporan ini muncul saat AS dikabarkan sedang menyiapkan serangan darat ke Iran, seiring ditambahnya kehadiran pasukan dan aset-aset militer lain di Timur Tengah.

BACA JUGA: Tak Dibantu Lawan Iran, Amerika Pertimbangkan Tinggalkan NATO

Gedung Putih belum secara terbuka mengonfirmasi rencana ini.

Menurut sejumlah pihak, kabar serangan darat ini digembar-gemborkan agar Iran menerima syarat gencatan senjata yang diajukan AS.

AS pekan lalu mengajukan 15 syarat gencatan senjata kepada Iran melalui Pakistan.

Namun, Iran menolak proposal tersebut.

Baru-baru ini Trump pun menyuarakan keinginan untuk menghentikan perang dengan Iran.

Dalam pernyataan pada Selasa (31/3/2026), Trump mengaku bakal menghentikan serangan ke Iran dalam dua hingga tiga pekan mendatang, tanpa perlu repot-repot mencapai kesepakatan.

The Times of Israel memandang pernyataan ini sebagai bagian dari “tipu daya rumit” yang bertujuan membuat Iran lengah sebelum serangan darat dimulai.

Bush Berlayar

AS mengerahkan kapal induk bertenaga nuklir USS George HW Bush, di tengah kabar rencana invasi darat.

Menurut Komando Armada Angkatan Laut AS, kapal itu diberangkatkan pada Selasa (31/3/2026) dari Naval Station Norfolk, Virginia, untuk menjalani penugasan militer.

Mengutip pejabat AS, The Wall Street Journal mengabarkan kapal perang raksasa itu berlayar ke Timur Tengah, sebagai bagian dari penguatan militer Washington di kawasan.

Kapal itu akan bergabung dengan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford, yang berpotensi membuat AS memiliki tiga kapal induk di kawasan itu.

Anadolu Agency melaporkan, Bush kemungkinan akan menggantikan USS Gerald R Ford, yang tiba di pelabuhan Split di Kroasia setelah berlayar dari Souda Bay, Yunani, untuk pengisian logistik, bahan bakar, serta perbaikan.

USS Gerald R Ford, kapal induk terbesar dalam armada AS, sebelumnya beroperasi di Laut Merah sebagai bagian dari serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.

Tim pemeliharaan di Souda Bay juga melakukan evaluasi serta melanjutkan penyelidikan atas kebakaran yang terjadi di fasilitas laundry kapal pada 12 Maret.

ABC News pada Sabtu (28/3/2026) melaporkan, kelompok tempur tersebut meninggalkan Norfolk sejak pekan lalu.

Namun, informasi dari sumber pejabat AS itu berbeda dari pengumuman resmi Angkatan Laut pada Selasa.

Bush memiliki panjang 1.092 kaki (333 meter), dengan bobot lebih dari 100.000 ton, ditenagai dua reaktor nuklir dan mampu beroperasi lebih dari 20 tahun tanpa pengisian bahan bakar ulang.

Tomahawk Bikin Cemas

Sejumlah pejabat Kementerian Perang AS dikabarkan khawatir, perang AS melawan Iran menggunakan lebih dari 850 rudal jelajah Tomahawk.

Sejumlah sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan kepada Washington Post, angka ini sekitar sembilan kali lipat dari jumlah rudal Tomahawk yang dibeli Pentagon setiap tahunnya.

CBS News melaporkan, tingkat produksi maksimum Tomahawk diperkirakan sekitar 2.330 unit per tahun.

Tiga kontrak dari Raytheon masing-masing memiliki kapasitas 600 unit, dan BAE memiliki kontrak untuk memproduksi hingga 530 rudal per tahun, menurut laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengutip dokumen anggaran Pentagon.

Namun, menurut CSIS, jumlah pengadaan aktual untuk militer AS sekitar 90 unit per tahun.

Penggunaan masif Tomahawk dalam perang ini telah membuat was-was sejumlah pejabat dan analis pertahanan.

BACA JUGA: Iran Ingin Hukum Amerika Agar Tak Agresif Lagi

Sebab, rudal Tomahawk cukup mahal dan produksinya tak banyak.

Biaya Tomahawk bervariasi tergantung versinya.

Untuk versi berbasis darat, rudal ini senilai US$2,2 juta (sekitar Rp37 miliar), dan peluncurnya seharga lebih dari US$6 juta (sekitar Rp101 miliar).

Tomahawk yang diluncurkan dari kapal perusak atau kapal selam, harganya bisa lebih dari US$4 juta (sekitar Rp67 miliar).

Dalam beberapa tahun terakhir, industri hanya memproduksi belasan hingga beberapa ratus rudal setiap tahun untuk AS, berdasarkan dokumen anggaran Kementerian Pertahanan AS.

Pemberitahuan terbaru dari Pentagon menunjukkan adanya upaya aktif untuk memperluas kapasitas Tomahawk.

RTX mengumumkan bulan lalu, produksi Tomahawk tahunan akan ditingkatkan menjadi lebih dari 1.000 unit per tahun sesuai perjanjian baru.

Tomahawk hanyalah salah satu amunisi canggih yang telah dipakai AS dalam perang melawan Iran.

Tomahawk adalah rudal jelajah yang dapat menempuh jarak lebih dari 1.000 mil, dan menyerang dengan teramat presisi.

Rudal ini bahkan mampu menggempur target yang dilindungi oleh sistem pertahanan udara canggih.

Tomahawk dikembangkan selama Perang Dingin dan terus ditingkatkan sejak saat itu.

Rudal ini jadi salah satu senjata jarak jauh Pentagon yang paling andal.

Tomahawk utamanya dioperasikan oleh Angkatan Laut AS.

Dalam beberapa tahun terakhir, juga diadopsi oleh Angkatan Darat.

Militer sekutu, termasuk Angkatan Laut Inggris, juga menggunakan sistem ini. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like