NarayaPost – Telur rebus sering menjadi pilihan sarapan praktis bagi banyak orang. Selain mudah diolah, makanan ini juga dikenal sebagai “superfood” karena kandungan nutrisinya yang tinggi, mulai dari protein, vitamin, hingga mineral penting bagi tubuh. Namun demikian, di balik kesederhanaannya, telur rebus termasuk makanan yang mudah rusak jika tidak disimpan dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana cara menyimpan telur rebus agar tetap aman dikonsumsi dan tidak cepat basi.
Mengutip Everyday Health, telur rebus rentan mengalami kerusakan akibat paparan bakteri di lingkungan terbuka. Meski begitu, telur rebus sebenarnya masih bisa disimpan dan dikonsumsi keesokan harinya, asalkan melalui prosedur penyimpanan yang benar. Salah satu faktor utama yang menentukan daya tahan telur rebus adalah suhu penyimpanan.
Menurut profesor ilmu pangan sekaligus Direktur Pusat Keamanan Pangan di Universitas Georgia, Francisco Diez-Gonzalez, telur rebus—seperti halnya makanan mudah rusak lainnya—tidak boleh dibiarkan terlalu lama di suhu ruang. Ia menegaskan bahwa batas aman makanan berada di luar lemari pendingin hanyalah sekitar dua jam. “Jangan biarkan makanan yang mudah busuk di luar ruangan lebih dari dua jam jika kamu berencana untuk memakannya. Ini berlaku bahkan jika cuacanya lebih dingin,” ujarnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi suhu antara 40 hingga 140 derajat Fahrenheit yang dikenal sebagai “zona bahaya”, di mana bakteri dapat berkembang biak dengan sangat cepat.
BACA JUGA: Amerika Tak Butuh Minyak Iran Kata Donald Trump
Oleh karena itu, kunci utama dalam menyimpan telur rebus agar lebih tahan lama adalah dengan segera memasukkannya ke dalam lemari pendingin atau kulkas setelah dimasak dan didinginkan. Suhu dingin dapat memperlambat pertumbuhan bakteri sehingga memperpanjang masa simpan telur. Meski demikian, para ahli tetap menyarankan agar telur rebus tidak disimpan terlalu lama, bahkan di dalam kulkas sekalipun.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi cangkang telur. Banyak orang beranggapan bahwa cangkang telur dapat melindungi isi telur sepenuhnya dari kontaminasi. Namun, kenyataannya tidak demikian. Cangkang telur bersifat tidak kedap air dan masih memungkinkan kelembapan serta bakteri untuk masuk. Bahkan, jika terdapat retakan kecil pada cangkang, risiko kontaminasi akan meningkat secara signifikan. Retakan tersebut dapat menjadi jalur masuk bagi bakteri dari luar, yang kemudian berkembang di dalam telur.
BACA JUGA: Komandan UNIFIL: Tiga Prajurit TNI Gugur Takkan Dilupakan
Seorang spesialis keamanan pangan senior dari Departemen Ilmu Pangan Universitas Penn State, Martin Bucknavag, menambahkan bahwa salah satu tanda telur rebus yang sudah tidak layak konsumsi adalah munculnya bau menyengat. Bau tersebut menjadi indikator bahwa telur telah mengalami pembusukan akibat aktivitas bakteri. Namun, yang perlu diwaspadai adalah tidak semua telur yang terkontaminasi bakteri menunjukkan tanda-tanda fisik yang jelas.
Dalam beberapa kasus, telur yang tampak normal justru bisa mengandung bakteri berbahaya seperti Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius, seperti keracunan makanan, meskipun telur tidak terlihat, terasa, atau berbau busuk. Salmonella umumnya ditemukan pada telur mentah atau setengah matang, tetapi tetap berpotensi bertahan jika penanganan dan penyimpanan tidak dilakukan dengan baik.
Dengan demikian, menjaga kualitas telur tidak hanya soal rasa, tetapi juga berkaitan erat dengan keamanan pangan. Menyimpan telur di kulkas, menghindari paparan suhu ruang terlalu lama, serta memperhatikan kondisi cangkang merupakan langkah sederhana namun penting untuk mencegah risiko kesehatan. Dengan penanganan yang tepat, telur tetap bisa menjadi pilihan makanan bergizi yang aman dikonsumsi setiap hari.