NarayaPost – Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan kepada sejumlah negara di berbagai kawasan dunia untuk mulai membangun poros kekuatan yang lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada Amerika Serikat. Seruan ini ditujukan kepada negara-negara Eropa, serta mitra strategis seperti Korea Selatan, Jepang, Brasil, Australia, Kanada, dan India.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron saat berdialog dengan mahasiswa di Universitas Yonsei, Seoul, pada Jumat. Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya menciptakan “jalan ketiga” bagi negara-negara yang ingin mempertahankan otonomi strategis di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu, khususnya terkait perubahan arah kebijakan luar negeri Washington.
Menurut Macron, sejumlah negara sebenarnya telah mulai mengarah pada pendekatan tersebut. Ia menyebut Korea Selatan, Prancis, negara-negara Eropa lainnya, Kanada, Jepang, India, Brasil, hingga Australia sebagai bagian dari kelompok yang berpotensi membangun jalur alternatif dalam hubungan internasional. “Dengan agenda seperti itu, kita mulai memiliki semacam jalan ketiga yang independen dari AS,” ujarnya di hadapan para mahasiswa.
BACA JUGA: Cak Imin Sebut Pelayanan Publik Tidak Bisa WFH
Macron juga mengingatkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar terhadap Amerika Serikat dapat menimbulkan risiko strategis. Hal ini terutama terjadi ketika kebijakan luar negeri Washington mengalami perubahan signifikan, baik karena dinamika politik domestik maupun pergantian kepemimpinan. Dalam situasi seperti itu, negara-negara mitra kerap harus menanggung dampak dari inkonsistensi kebijakan tersebut, meskipun mereka tidak terlibat langsung dalam pengambilan keputusan.
Seruan Macron ini muncul di tengah meningkatnya diskursus global mengenai perlunya diversifikasi aliansi dan penguatan kemandirian geopolitik. Sejumlah laporan media internasional juga menunjukkan bahwa negara-negara Eropa mulai mempertimbangkan untuk mengambil jarak dari Amerika Serikat, terutama dalam isu-isu sensitif seperti operasi militer di kawasan Timur Tengah, termasuk terkait Iran.
Situasi ini semakin kompleks setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan penarikan negaranya dari NATO. Dalam wawancara dengan The Telegraph pada awal April 2026, Trump menyatakan bahwa opsi tersebut sedang dipertimbangkan secara serius, terutama setelah aliansi tersebut tidak mendukung operasi militer AS terhadap Iran.
Pernyataan ini memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Eropa mengenai masa depan NATO sebagai aliansi pertahanan kolektif. Selama ini, NATO menjadi pilar utama keamanan di kawasan Atlantik Utara dan Eropa, dengan Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan di dalamnya. Jika AS benar-benar menarik diri, maka struktur keamanan regional berpotensi mengalami perubahan besar.
BACA JUGA: MBG Cuma Diberikan Saat Sekolah, Gaji Petugas SPPG Tetap
Media Politico melaporkan bahwa para pemimpin Eropa telah melakukan pembicaraan tertutup untuk membahas langkah-langkah yang perlu diambil jika skenario tersebut benar-benar terjadi. Dalam laporan tersebut disebutkan adanya kekhawatiran bahwa NATO mulai mengalami disfungsi atau bahkan “kelumpuhan” akibat perbedaan pandangan di antara anggotanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tatanan geopolitik global sedang mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Ketergantungan terhadap satu kekuatan besar kini mulai dipertanyakan, dan negara-negara mulai mencari cara untuk memperkuat posisi mereka secara lebih mandiri. Dalam konteks ini, gagasan “jalan ketiga” yang diusung Macron dapat dilihat sebagai upaya untuk menciptakan keseimbangan baru dalam hubungan internasional.
Dengan meningkatnya ketidakpastian global, langkah untuk memperkuat otonomi strategis menjadi semakin relevan. Negara-negara yang mampu membangun kemandirian dalam kebijakan luar negeri, pertahanan, dan ekonomi berpotensi memiliki daya tawar yang lebih kuat di panggung internasional. Seruan Macron pun menjadi refleksi dari kebutuhan akan arsitektur global yang lebih seimbang dan tidak terpusat pada satu kekuatan saja.