ABCDE Lawan HIV/AIDS

Tahun 2025, peringatan Hari AIDS Sedunia mengusung tema ‘Mengatasi Disrupsi dan Mentransformasi Respons AIDS.’
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS.

Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh sangat lemah akibat infeksi HIV (human immunodeficiency virus).

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, mengganggu kemampuannya untuk melawan infeksi dan penyakit.

Jika tidak diobati, HIV dapat berkembang menjadi AIDS, kondisi di mana sistem kekebalan tubuh sangat lemah, sehingga tubuh menjadi rentan terhadap berbagai infeksi dan penyakit serius.

Tahun 2025, peringatan Hari AIDS Sedunia mengusung tema ‘Mengatasi Disrupsi dan Mentransformasi Respons AIDS.’

Tema ini menyoroti kebutuhan mendesak untuk memperkuat respons global, di tengah berbagai tekanan yang terus meningkat.

BACA JUGA: Urus Orang Tetap Sehat Lebih Penting Ketimbang Obati yang Sakit

UNAIDS mengungkapkan, krisis pendanaan internasional pada 2025 mencapai tingkat paling serius dalam beberapa dekade.

Banyak layanan pencegahan HIV dihentikan, sementara program berbasis komunitas yang menjangkau kelompok rentan terancam tidak dapat berjalan.

Hambatan hukum yang menghukum hubungan sesama jenis, identitas gender, dan penggunaan narkoba, kian mempersempit akses layanan.

Kondisi ini membuat populasi paling berisiko menghadapi ancaman yang semakin besar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan, setelah puluhan tahun kemajuan, respons HIV kini berada di titik persimpangan.

Di banyak wilayah, layanan vital seperti terapi antiretroviral, edukasi pencegahan, dan deteksi dini mengalami gangguan yang mengancam capaian global.

UNAIDS dan WHO mendesak semua negara bertindak cepat memulihkan pendanaan, memperkuat kerja sama internasional, dan memastikan pendekatan berbasis hak asasi manusia tetap menjadi prioritas. 

Meski tantangan meningkat, WHO menegaskan harapan tetap ada.

Ketangguhan komunitas, inovasi di tingkat lokal, dan kemauan global untuk beradaptasi, menjadi fondasi utama untuk memastikan target mengakhiri AIDS pada 2030 tetap berada dalam jangkauan.

Pendekatan Berbasis HAM

Kementerian Kesehatan menilai perlunya pendekatan berbasis hak asasi manusia (HAM) dalam penanggulangan AIDS, untuk penanganan yang lebih komprehensif.

Pendekatan itu tertuang dalam tiga upaya, yakni pemerataan akses, mengubah stigma, serta merangkul semua pihak.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, diperkirakan ada 0,7 persen atau 1,96 juta orang Indonesia yang terkena HIV.

Dari angka itu, baru 564 ribu orang yang teridentifikasi.

“Agar lebih komprehensif, penanggulangan HIV/AIDS ini harus lebih adil dan harus lebih merata, tidak membebani. Itu yang pertama,” katanya di Jakarta, Senin (1/12/2025).

Stigma terkait HIV/AIDS dalam masyarakat, lanjut Dante, juga perlu diubah, karena menjadi kendala dalam pengobatan dan evaluasi para pasien.

Dante mengatakan, ada tata laksana program HIV, yakni ABCDE.

A untuk abstinence atau tidak berhubungan seks.

B untuk be faithful atau setia pada pasangan.

C untuk condom.

D untuk don’t use drugs atau tidak memakai narkoba.

Serta E untuk edukasi.

BACA JUGA: Anggaran IKN Seharusnya Bisa untuk Bangun 22.500 SD dan 2.400 Rumah Sakit

“Dan yang paling penting adalah no one left behind, tidak ada satupun yang tertinggal dalam penanggulangan HIV, baik itu yang sudah teridentifikasi maupun yang belum teridentifikasi,” tegasnya.

Oleh karena itu, Kemenkes bakal memperkuat surveilans, pengobatan, serta memasifkan promosi kesehatan, untuk mencapai target 95-95-95 pada 2030.

“Kita punya slogan target di tahun 2030, 95 (persen) yang teridentifikasi, 95 (persen) yang diobati, 95 (persen) yang tersupresi viral load-nya.”

“Ini masih PR, karena capaian kita sekarang baru 65 (persen) yang teridentifikasi, 70 (persen) yang terobati, dan 56 (persen) yang tersupresi viral load-nya,” ungkapnya.

HIV, kata Dante, sebenarnya bisa dihindari dengan sebuah obat suntik yang diambil dua kali setahun.

Namun, obat itu masih sangat mahal, sehingga yang perlu dilakukan saat ini adalah identifikasi yang baik, pengobatan yang cermat, dan edukasi, untuk memastikan viral load para pasien HIV tersupresi.

Dante pun mengapresiasi peran seluruh pihak lintas lembaga, para sekarelawan, puskesmas, dan dinas kesehatan, yang mulai aktif menggencarkan upaya mencapai target global pada 2030.

Tuntaskan Tugas

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa Antonio Guterres mengatakan, peringatan Hari AIDS Sedunia mengingatkan kita memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan dan masa depan, serta mengakhiri epidemi AIDS untuk selamanya.

Kemajuan yang telah kita capai, kata Guterres, tidak dapat dibantah.

Sejak 2010, ungkapnya, angka infeksi baru telah turun sebesar 40 persen.

Kematian terkait AIDS juga menurun hingga lebih dari separuhnya, dan akses terhadap pengobatan kini lebih baik dari sebelumnya.

“Namun, bagi banyak orang di seluruh dunia, krisis ini masih berlanjut.”

“Jutaan orang masih belum memiliki akses terhadap layanan pencegahan dan pengobatan HIV karena identitas mereka, tempat tinggal mereka, atau stigma yang mereka hadapi,” tutur Guterres. 

Di sisi lain, lanjut Guterres, berkurangnya sumber daya dan layanan justru membahayakan nyawa dan mengancam kemajuan yang telah dicapai dengan susah payah.

Mengakhiri AIDS, kata Guterres, berarti memberdayakan masyarakat, berinvestasi dalam pencegahan, dan memperluas akses pengobatan bagi semua orang.  

Ini berarti menyatukan inovasi dengan aksi, dan memastikan terobosan baru seperti obat injeksi menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan.  

“Dalam setiap prosesnya, upaya kita harus berlandaskan pada hak asasi manusia, demi memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal.”  

“Mengakhiri AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada tahun 2030 adalah tujuan yang dapat kita capai.”

“Mari kita tuntaskan tugas ini,” imbuh Guterres. 

Hari Kesehatan Global Pertama

Peringatan Hari AIDS Sedunia pertama kali digagas pada 1987 oleh dua petugas komunikasi WHO, James W Bunn dan Thomas Netter, yang menilai isu HIV saat itu kurang mendapat perhatian media internasional.

Peringatan pertama kemudian digelar pada 1988, dan menjadi hari kesehatan global pertama dalam sejarah dunia.

Menurut catatan UNAIDS, Hari AIDS Sedunia ditetapkan sebagai the first-ever global health day, atau hari kesehatan global pertama yang pernah ditetapkan secara internasional.

Ini menunjukkan betapa pentingnya momentum tersebut dalam kampanye global melawan HIV/AIDS.

Simbol pita merah yang kini dipakai di seluruh dunia juga memiliki sejarah yang unik.

Pita ini diciptakan pada 1991 oleh kelompok seniman Visual AIDS di New York. 

Menurut laman Visual AIDS, pita merah kini menjadi simbol yang diakui secara internasional sebagai tanda kepedulian dan kesadaran terhadap AIDS.

Warna merah dipilih karena melambangkan empati, keberanian, dan urgensi dalam menghadapi epidemi.

Sejarah HIV/AIDS juga mencatat fase awal yang penuh miskonsepsi.

Sebelum WHO mengatur istilah resmi, beberapa negara menyebut AIDS sebagai 4H Disease, label keliru yang mengaitkan penyakit dengan empat kelompok tertentu dan memicu stigma luas.

WHO kemudian menegaskan, penanganan HIV harus berbasis ilmu pengetahuan, bukan stereotip atau prasangka.

UNAIDS terus mengingatkan, stigma dan diskriminasi masih menjadi hambatan terbesar dalam mengendalikan HIV.

Perjuangan melawan HIV/AIDS adalah upaya panjang yang melibatkan edukasi, solidaritas, dan penghapusan diskriminasi.

Pita Merah

Pada 1988 di New York, profesional seni membentuk Visual AIDS untuk merespons dampak krisis AIDS terhadap komunitas seniman. 

Pada 1991 atau tiga tahun kemudian, mereka berkumpul dan mendesain simbol visual untuk penyakit tersebut.

Terinspirasi dari pita kuning untuk menghormati tentara Amerika Serikat yang bertugas di Perang Teluk, para seniman ini pun membuat logo berupa pita merah. 

Warna merah dipilih sesuai warna darah, yang menjadi tempat masuk dan berkembangnya virus HIV di tubuh.

Pita merah ini juga membentuk lengkungan yang melambangkan jantung-hati atau cinta.

Bentuk pita merah itu juga seperti simbol victory yang terbalik atau unvictory.

Ini menjadi simbol, hingga saat ini belum ada obat yang bisa ‘menang’ melawan penyakit HIV/AIDS.

Pada awal logo ini dibuat, pita merah lambang HIV-AIDS menyertakan teks atau tulisan yang menjelaskan artinya.

Saat itu, pita merah dibuat dan didistribusikan hanya di kalangan artis atau seniman. 

Logo pita merah lambang HIV-AIDS mulai populer beberapa pekan setelahnya, ketika mulai muncul di berbagai ajang bergengsi seperti Oscars.

Dalam waktu singkat, logo ini mendunia. 

Tahun 1992 dalam konser untuk menghormati musisi Freddie Mercury, vokalis grup band Queen asal Inggris, lebih dari 100.000 orang mengenakan pita merah.

Momen itu kemudian menjadi salah satu tonggak penting yang mendorong kampanye solidaritas HIV/AIDS dikenal luas di seluruh dunia.

Hari Tanpa Seni

Selain Hari AIDS Sedunia, 1 Desember juga diperingati sebagai Hari Tanpa Seni, sebagai upaya memerangi AIDS.

Sejak dimulai di Amerika Serikat pada 1989, peringatan ini telah menandai dampak epidemi AIDS pada komunitas seni, dan mendokumentasikan upaya dalam memerangi AIDS.

Pada peringatan Hari Tanpa Seni, para seniman dan lembaga seni menutup pintu, meredupkan lampu, dan menutupi karya mereka, menggantinya dengan poster dan fakta tentang AIDS. 

Yang lainnya menayangkan film dan dokumenter untuk penonton secara daring dan di bioskop.

Hari Tanpa Seni dimulai pada 1 Desember 1989.

Visual AIDS, sebuah organisasi yang didirikan pada 1988 oleh Robert Atkins, seorang penulis dan kritikus seni, dan tiga kurator yaitu  Gary Garrels, Thomas Sokolowski, dan William Olander, memperkenalkan pengamatan ini.

Visual AIDS menyatukan komunitas seni dan AIDS melalui proyek-proyek nasional, dan Hari Tanpa Seni adalah salah satu dari proyek-proyek tersebut.

Peringatan ini dianggap sebagai hari berkabung dan aksi, yang melibatkan ratusan organisasi dan lembaga seni dalam seruan untuk menunjukkan kekuatan seni dalam meningkatkan kesadaran tentang HIV AIDS.

Lebih dari 800 galeri seni, museum, dan lembaga di AS menutupi pajangan mereka, menggantinya dengan poster yang mendidik orang-orang tentang HIV dan seks yang aman.

Seniman dan kurator mengadakan peringatan dan pembacaan, termasuk pameran dan pertunjukan seni visual.

Mereka merayakan pencapaian dan kehidupan rekan kerja dan teman-teman yang telah meninggal karena AIDS, mendorong perawatan yang lebih baik bagi pasien dan dukungan untuk menemukan obatnya.

Komunitas seni merupakan salah satu dari sedikit komunitas yang mengakui epidemi AIDS dan dampaknya terhadap kehidupan budaya.

Melalui Day Without Art, Visual AIDS menjadi salah satu inisiatif nasional pertama yang didedikasikan untuk memerangi AIDS dan mendukung pasien.

Lebih dari 30 tahun kemudian, Visual AIDS melanjutkan proyek Day Without Art yang sekarang menjadi gerakan global yang melibatkan ribuan seniman dan masyarakat umum.

Fakta Penting HIV/AIDS

Dengan pengobatan antiretroviral therapy (ART), seseorang dengan HIV dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang hampir sama dengan orang tanpa HIV.

HIV tidak menular melalui kontak biasa, seperti berjabat tangan, berbagi makanan, atau penggunaan toilet yang sama.

Edukasi yang akurat menjadi senjata terpenting untuk melawan penyebaran virus dan diskriminasi.

1. HIV dan AIDS berbeda, tetapi terkait

HIV adalah virus yang menyerang dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4.

AIDS merupakan kondisi atau sindrom yang muncul pada tahap infeksi HIV paling lanjut.

Tidak semua orang dengan HIV (ODHIV) akan mengidap AIDS jika mendapatkan pengobatan yang tepat.

Jadi HIV adalah benihnya, sedangkan AIDS adalah penyakit parah yang tumbuh jika benih itu tidak dirawat dan dibiarkan berkembang.

2. Cara penularan HIV

HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari.

Virus ini hanya ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh dari orang yang positif HIV.

Cara penularannya yang utama adalah:

  • Hubungan seks tanpa pengaman: Baik vaginal, anal, atau oral tanpa menggunakan kondom.
  • Berbagi jarum suntik: Penggunaan jarum suntik tidak steril secara bergantian, terutama di antara pengguna narkoba suntik.
  • Transmisi dari ibu ke anak: Selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. Risiko ini dapat diturunkan secara signifikan (lebih dari 1%) dengan pengobatan ARV pada ibu.

HIV tidak menular melalui berpelukan, berjabat tangan, berbagi makanan, gigitan nyamuk, atau menggunakan toilet yang sama.

3. Mirip flu 

Pada 2-4 minggu setelah terinfeksi, sebagian orang dapat mengalami sindrom retroviral akut dengan gejala mirip flu, seperti demam,sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam kulit, dan kelelahan ekstrem.

Gejala ini mudah dikira sebagai infeksi virus biasa dan akan hilang dengan sendirinya.

Satu-satunya cara memastikan status HIV adalah dengan melakukan tes.

4. Tes HIV satu-satunya cara mengetahui status

Tes HIV mudah, cepat, dan kerahasiaannya terjaga.

CDC merekomendasikan setiap orang berusia 13-64 tahun untuk tes setidaknya sekali sebagai bagian dari pemeriksaan rutin.

Lakukan tes secara berkala (setiap 3-6 bulan) jika aktif secara seksual dengan lebih dari satu pasangan atau melakukan perilaku berisiko lainnya.

5. Bukan vonis mati

Kemajuan pengobatan antiretroviral (ARV) telah mengubah HIV dari penyakit mematikan menjadi kondisi kesehatan kronis yang dapat dikelola.

ODHIV yang rutin minum ARV dapat memiliki harapan hidup yang normal, menjalani hidup yang sehat dan produktif, serta memiliki keluarga dan anak yang terbebas dari HIV.

6. Pengobatan tepat alat pencegahan yang kuat

Fakta ilmiah terpenting yang harus dipahami adalah Undetectable = Untransmittable (U=U).

Artinya, ODHIV yang patuh mengonsumsi obat ARV hingga viral load-nya (jumlah virus dalam darah) tidak terdeteksi, tidak dapat menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.

Konsep U=U adalah terobosan besar untuk menghentikan stigma dan penularan baru.

7. Lebih dari sekadar ABC

Selain abstinencia (tidak berhubungan seks), be faithful (saling setia), dan condom (kondom), kini ada lebih banyak alat pencegahan:

  • Pre-exposure prophylaxis (PrEP): Obat yang dikonsumsi orang HIV-negatif untuk mencegah infeksi sebelum terpapar.
  • Post-exposure prophylaxis (PEP): Obat darurat yang diminum dalam 72 jam setelah terpapar berisiko untuk mencegah infeksi.
  • Sunat medis pria (VMMC): Dapat mengurangi risiko penularan heteroseksual.

8. Stigma dan diskriminasi musuh terbesar

Ketakutan dan misinformation tentang HIV sering kali lebih berbahaya daripada virusnya sendiri.

Stigma membuat orang takut untuk tes, menyembunyikan statusnya, tidak ingin berobat, serta mengalami isolasi sosial dan depresi.

Bersikap supportif, menggunakan bahasa yang inklusif, dan mendidik diri sendiri dengan fakta adalah cara kita memerangi stigma ini.

Pemahaman yang benar tentang HIV dan AIDS adalah kunci menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan inklusif.

Dengan mengetahui perbedaan keduanya, cara penularan yang tepat, serta kemajuan pengobatan dan pencegahan (seperti U=U), kita dapat menghilangkan ketakutan yang tidak perlu. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like