Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik, Kampanye Penggunaan Plastik Sekali Pakai Bakal Diperkuat

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost, Jakarta – Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto mengapresiasi hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menemukan adanya fenomena partikel mikroplastik dalam air hujan di Jakarta.

Partikel tersebut diduga berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, hingga sisa pembakaran sampah plastik yang dilakukan secara terbuka.

Asep menilai langkah antisipatif penting, lantaran hasil riset ini menjadi pengingat polusi di Jakarta sudah memasuki fase yang lebih kompleks, dan membutuhkan penanganan berbasis data ilmiah.

BACA JUGA: Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Bakal Ungkapkan Hasil Penelitian Air Hujan Mengandung Mikroplastik

“Kami telah berkolaborasi dengan BRIN dan sejumlah pemangku kepentingan untuk memantau mikroplastik, salah satunya di perairan Teluk Jakarta dan sungai-sungai utama,” ungkap Asep di Gedung F Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10/2025).

Asep menjelaskan, pihaknya terus melakukan berbagai langkah pengendalian lingkungan, seperti pengawasan industri, uji emisi kendaraan, kampanye pengurangan plastik sekali pakai, serta edukasi publik tentang pemilahan sampah.

“Kami juga memperkuat penerapan Pergub Nomor 142 Tahun 2019 tentang penggunaan kantong belanja ramah lingkungan,” tambahnya.

DLH DKI, lanjut Asep, juga akan melanjutkan riset bersama BRIN, perguruan tinggi, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), untuk memantau kualitas air hujan, dan mengkaji dampak mikroplastik terhadap kesehatan masyarakat.

“Kebijakan pengurangan plastik sekali pakai akan terus diperkuat, sejalan dengan kampanye gaya hidup minim plastik di tingkat rumah tangga dan komunitas,” jelas Asep.

Alarm Buat Semua

Profesor Riset BRIN Muhammad Reza Cordova menjelaskan, penelitian pihaknya menunjukkan mikroplastik telah terdeteksi dalam air hujan di wilayah Jakarta, dengan konsentrasi rata-rata 3 hingga 40 partikel per meter persegi per hari.

“Air hujan yang kita anggap bersih ternyata membawa partikel plastik mikroskopis dari udara.”

“Prosesnya sangat cepat, kurang dari satu detik partikel bisa larut dalam air hujan,” jelasnya.

Reza menuturkan, sumber mikroplastik di udara berasal dari berbagai aktivitas manusia, mulai dari penggunaan pakaian berbahan sintetis seperti polyester dan nylon, hingga pembakaran sampah secara terbuka.

Rendahnya tingkat pengumpulan sampah di wilayah penyangga ibu kota turut memperparah kondisi ini.

“Pembakaran sampah terbuka melepaskan mikroplastik dan zat berbahaya seperti dioksin ke udara, yang kemudian dapat terhirup manusia,” paparnya.

BACA JUGA: Pramono Anung Izinkan Lelang Proyek Dilakukan Sejak November Agar Anggaran Tak Menumpuk

Ia menambahkan, mikroplastik memiliki sifat seperti spons yang dapat menyerap zat lain, termasuk logam berat dan mikroorganisme.

“Penelitian kami di 18 kota di Indonesia menunjukkan seluruh sampel udara mengandung mikroplastik.”

“Ini alarm penting bagi semua pihak, udara yang kita hirup kini mengandung partikel plastik hasil aktivitas manusia,” tegas Reza.

Lintas Wilayah dan Sektor

Dwi Atmoko, Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menuturkan, mikroplastik termasuk dalam kategori aerosol, yaitu partikel padat atau cair yang tersuspensi di udara.

“Partikel aerosol seperti mikroplastik bisa berpindah mengikuti arah angin dan pola cuaca.”

“Ia dapat jatuh ke permukaan melalui deposisi kering maupun terbawa air hujan melalui deposisi basah,” paparnya.

Menurut Dwi, mikroplastik yang ditemukan di Jakarta bisa saja berasal dari wilayah lain, dan sebaliknya, polutan di Jakarta juga berpotensi berpindah ke daerah lain.

“Karena itu, penanganan masalah ini harus dilakukan lintas wilayah dan lintas sektor,” ujarnya.

Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan P2P Dinas Kesehatan DKI Jakarta Rahmat Aji Pramono menjelaskan, mikroplastik merupakan benda asing yang dapat menimbulkan gangguan bila masuk ke tubuh melalui udara atau makanan.

“Partikel kecil ini bisa memicu peradangan pada saluran pernapasan dan pencernaan.”

“Jika berukuran sangat kecil, mikroplastik dapat menembus aliran darah dan memengaruhi organ vital,” terangnya.

Rahmat mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah, memperbaiki sirkulasi udara, dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

“Efek mikroplastik bersifat jangka panjang, jadi pencegahan harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari,” ulasnya.

Optimalkan OMC

Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta Rian Sarsono menilai, hasil riset BRIN perlu direspons dengan langkah kesiapsiagaan masyarakat.

“Informasi ilmiah ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar masyarakat lebih paham langkah pencegahan.”

“Kami terus mengedukasi warga melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” ucapnya.

Rian menambahkan, pihaknya akan terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bukan hanya untuk mencegah banjir, tetapi juga membantu mengurangi polutan udara.

“Hujan bisa menjadi mekanisme alami untuk menurunkan partikel berbahaya seperti mikroplastik dari atmosfer,” terangnya. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like