Airlangga Respon Pertumbuhan Ekonomi RI yang Capai 5,11 Persen

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan penjelasan mengenai kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 5,11 persen, dengan pertumbuhan pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen. Meski menunjukkan tren positif, capaian tersebut masih berada sedikit di bawah target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sebesar 5,2 persen. Pemerintah menilai hasil ini tetap mencerminkan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang penuh tekanan.

Menurut Airlangga, secara perbandingan internasional, kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia tergolong relatif baik dibandingkan sejumlah negara lain. Ia menekankan bahwa pertumbuhan kuartalan menunjukkan tren perbaikan yang konsisten dan bahkan menjadi yang tertinggi dalam empat kuartal terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.

“Ini dibandingkan beberapa negara relatif situasinya baik dan kalau kita lihat kuartal per kuartal itu terus baik dan ini adalah tertinggi dari empat kuartal yang lalu,” ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.

Airlangga Sebut Masih Banyak Pekerjaan Rumah

Meski demikian, Airlangga mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu segera ditangani pemerintah. Salah satunya adalah penurunan penerimaan negara dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh), serta perlambatan pertumbuhan kredit perbankan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut sempat memunculkan perbincangan mengenai kemungkinan adanya anomali dalam capaian pertumbuhan ekonomi 2025, terutama jika dikaitkan dengan penerimaan negara yang tidak tumbuh seiring dengan PDB.

BACA JUGA: KPK Tetapkan Kepala Pajak Banjarmasin Mulyono Tersangka Suap

Airlangga menegaskan bahwa optimalisasi penerimaan pajak menjadi prioritas utama pemerintah. Ia menyebut, pemerintah telah berkoordinasi dengan Menteri Keuangan untuk memaksimalkan pemanfaatan sistem Coretax agar kinerja penerimaan pajak dapat ditingkatkan. Pemerintah tidak ingin penerimaan pajak hanya tumbuh satu digit, sehingga berbagai langkah perbaikan dan reformasi terus dibahas dan diimplementasikan. “Tentu itu harus menjadi PR bahwa peningkatan pajak itu yang harus menjadi PR, dan tentu kita sudah bahas dengan Menteri Keuangan bagaimana Coretax itu dioptimalkan,” jelasnya.

Di sisi lain, Airlangga menilai bahwa meskipun penerimaan pajak menghadapi tantangan, total Produk Domestik Bruto (PDB) nasional tetap mengalami peningkatan. Hal ini membuat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Perbedaan kinerja ekonomi antara 2025 dan 2024, menurutnya, juga terlihat dari sektor-sektor utama yang menjadi penggerak. Sektor industri pengolahan dan pertanian menunjukkan ekspansi yang lebih kuat, sekaligus memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja.

BACA JUGA: Perlu AI Agar Prediksi Cuaca Ekstrem Lebih Presisi

Kebijakan Stimulus Turut Pengaruhi Ekonomi

Pemerintah juga mengakui bahwa berbagai kebijakan stimulus turut memengaruhi struktur ekonomi 2025. Airlangga menyebutkan sejumlah insentif yang diberikan, seperti kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) serta fasilitas PPh Ditanggung Pemerintah bagi pekerja dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan. Stimulus-stimulus tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang aktivitas ekonomi domestik. “Jadi banyak kita memberikan stimulus jadi tentu itu yang membedakan dibandingkan tahun lalu,” kata Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga menyoroti potensi dampak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap perekonomian nasional. Program ini dinilai mampu mendorong aktivitas ekonomi melalui penguatan rantai pasok pangan, karena meningkatkan permintaan komoditas seperti daging, telur, dan bahan pangan lainnya.

Efek berganda dari program tersebut diharapkan dapat dirasakan oleh sektor pertanian, peternakan, hingga distribusi. Kontribusi program ini terhadap PDB masih terus dihitung, namun pemerintah optimistis dampaknya akan signifikan, terutama pada awal 2026. Airlangga menyebutkan bahwa pada kuartal I 2026, belanja program MBG diperkirakan mencapai sekitar Rp80 triliun, yang diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun tersebut.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like