NarayaPost – Amerika Serikat (AS) dan Israel akan terus menyerang Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan, operasi militer terhadap Iran masih jauh dari selesai, bahkan baru saja dimulai.
Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan pada Minggu (8/3/2026) di 60 Minutes CBS News, Hegseth mengatakan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan di kawasan itu terus melemah.
“(Kekuatan Iran) Menipis dan akan semakin tipis.”
“Sekali lagi, yang ingin saya sampaikan kepada pemirsa Anda adalah, ini baru permulaan,” kata Hegseth.
Menurut Pentagon, lebih dari 50 ribu tentara AS terlibat dalam Operasi Epic Fury, di mana militer AS telah menyerang sekitar 3.000 target di Iran hingga Jumat (6/3/2026).
BACA JUGA: Mojtaba Khamenei Gantikan Ayahnya Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Hegseth mengatakan, operasi militer AS itu berjalan sesuai rencana.
Ia menolak anggapan bahwa operasi tersebut hampir selesai.
“Kami sangat sesuai rencana,” ujarnya.
AS dan Israel, lanjutnya, memiliki kemampuan militer yang luar biasa dibandingkan Iran.
“Jika kami (AS) menggabungkan angkatan udara kami dengan angkatan udara Angkatan Pertahanan Israel, maka mereka adalah dua angkatan udara terkuat di dunia,” ucapnya.
Hegseth pun mengulangi tuntutan Presiden AS Donald Trump agar Iran menyerah tanpa syarat.
Tujuannya adalah untuk membuat pasukan Iran tidak mampu melanjutkan pertempuran.
“Artinya, kami berjuang untuk menang.”
“Artinya, kami menetapkan syaratnya.”
“Kami akan tahu kapan mereka tidak mampu lagi bertempur,” imbuhnya.
Menurut Departemen Perang AS alias Pentagon, AS siap melanjutkan operasi militer itu selama diperlukan, untuk mencapai tujuannya.
Hegseth juga memperingatkan, bakal ada korban jiwa seiring berlanjutnya perang.
“Presiden (Trump) benar ketika mengatakan akan ada korban jiwa, akan ada lebih banyak korban jiwa,” cetusnya.
Menurut Hegseth, kerugian tersebut akan memperkuat tekad dan kepercayaan AS, itu adalah pertempuran yang akan diperjuangkan hingga akhir.
Harga Minyak Meroket
Presiden AS Donald Trump mengeklaim harga minyak akan turun dengan cepat setelah ancaman nuklir dari Iran dinetralkan.
Trump mengimbau masyarakat tidak khawatir terhadap kenaikan harga bensin di tengah konflik di Timur Tengah.
“Harga minyak dalam jangka pendek, yang akan segera turun ketika ancaman nuklir Iran berakhir, adalah sebuah harga yang yang sangat kecil bagi AS, dan dunia, aman dan damai,” tutur Trump di TruthSocial.
Harga minyak meroket pada Senin pagi di tengah kekhawatiran akan masalah berkepanjangan terkait pengiriman dari Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent berjangka sempat mencapai 118 dolar AS (sekitar Rp2 juta) per barel, tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Trump Kecewa
AS kecewa dengan skala serangan udara Israel terhadap depot bahan bakar Iran pada akhir pekan lalu.
Hal itu menjadi perbedaan pendapat pertama yang menonjol di koalisi Amis (Amerika-Israel), sejak dimulainya penyerbuan terhadap Iran.
Mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, Axios melaporkan serangan pada Sabtu menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran, jumlah yang melebihi perkiraan pejabat AS setelah Israel sebelumnya memberi tahu Washington mengenai operasi tersebut.
Kebakaran besar dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran, setelah serangan tersebut, dengan asap tebal terlihat membubung di atas tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri.
Pernyataan pihak militer Israel menyebutkan, depot bahan bakar yang menjadi sasaran serangan itu digunakan Pemerintah Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai pihak, termasuk unit-unit militernya.
Para pejabat AS mengatakan, Israel telah memberi tahu militer AS sebelum operasi dilaksanakan, namun Washington tetap terkejut dengan luasnya cakupan serangan tersebut.
“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak.”
“Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya.”
“Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” ungkap seorang penasihat Presiden AS Donald Trump.
Pejabat AS khawatir serangan terhadap infrastruktur yang melayani masyarakat Iran, dapat menimbulkan dampak strategis yang berbalik arah dengan memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran, serta mendorong kenaikan harga minyak global.
“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” imbuh pejabat senior AS tersebut.
Laporan itu menyebutkan, meskipun fasilitas yang diserang bukan merupakan lokasi produksi minyak, para pejabat di Washington khawatir rekaman yang memperlihatkan depot bahan bakar yang terbakar dapat mengguncang pasar energi.
BACA JUGA: Galau Politik Tak Bebas Aktif Prabowo
Pejabat Iran memperingatkan, serangan yang terus berlanjut terhadap infrastruktur energi dapat memicu pembalasan.
Juru bicara Markas Khatam al-Anbiya Iran yang mengawasi operasi militer mengatakan, Teheran dapat merespons dengan serangan serupa di berbagai wilayah jika serangan semacam itu terus terjadi.
Iran sejauh ini menghindari menargetkan infrastruktur energi di kawasan, namun memperingatkan jika langkah tersebut diambil, harga minyak global dapat melonjak hingga 200 dolar AS (sekitar Rp3,4 juta) per barel..
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan Teheran akan melakukan pembalasan tanpa penundaan, jika serangan terhadap infrastruktur terus berlanjut.
Pada Sabtu (28/2/2026), Amerika dan Israel menyerang sejumlah target di Iran, termasuk sebuah sekolah perempuan di Iran selatan, hingga menewaskan sekitar 200 siswi.
Pada hari yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh.
Total korban tewas akibat serangan itu, menurut Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amir Saeed Iravani, melampaui 1.300 orang.
Sebagai balasan, Iran menyerang sejumlah fasilitas milik militer Amerika di Timur Tengah dan wilayah Israel.
Amerika dan Israel menyatakan dimulainya operasi militer tersebut sebagai serangan pendahuluan atas dugaan ancaman program nuklir Teheran.
Namun, mereka kini tak lagi menyembunyikan keinginannya untuk melihat adanya pergantian kekuasaan di Iran. (*)