Amerika Sempat Pertimbangkan Bunuh Nicolas Maduro

Lebih dari 150 pesawat dikerahkan dan lepas landas dari 20 lokasi berbeda di darat dan laut, selama misi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto: X
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku pihaknya sempat mempertimbangkan kemungkinan membunuh Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat operasi penangkapannya.

“Itu bisa saja terjadi,” kata Trump dalam sebuah konferensi pers di klub pribadinya, Mar-a-Lago, di Florida, Sabtu (3/12/2026), menjawab pertanyaan wartawan, apakah opsi mematikan dipertimbangkan dalam operasi tersebut.

Kata Trump, Maduro berupaya melarikan diri ke tempat yang dianggap aman selama operasi AS berlangsung.

Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengatakan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, menyerah dan ditahan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat dengan dukungan militer AS.

Operasi itu, kata Caine, dijalankan dengan profesionalisme dan presisi, tanpa menimbulkan korban jiwa di pihak AS.

Operasi penangkapan Maduro direncanakan dan dilatih selama berbulan-bulan.

BACA JUGA: Presiden Venezuela Nicolas Maduro Bakal Diadili di Amerika

“Operasi ini, yang dikenal sebagai Operasi Absolute Resolve, dilakukan secara diam-diam, tepat sasaran, dan dilaksanakan pada saat-saat paling gelap pada 2 Januari.”

“Ini merupakan puncak dari perencanaan dan latihan selama berbulan-bulan.”

“Sebuah operasi yang terus terang hanya dapat dilakukan oleh militer AS,” ungkap Caine.

Dia menambahkan, selalu ada kemungkinan pasukan AS akan ditugaskan untuk melakukan misi semacam itu lagi.

Kerahkan Lebih dari 150 Pesawat

Lebih dari 150 pesawat dikerahkan dan lepas landas dari 20 lokasi berbeda di darat dan laut, selama misi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

“Sepanjang malam, pesawat mulai lepas landas dari 20 pangkalan berbeda di darat dan laut di seluruh belahan bumi bagian barat.”

“Secara total, lebih dari 150 pesawat, termasuk pesawat pengebom, pesawat tempur, pesawat intelijen, pesawat pengintai, pesawat pengawasan, dan helikopter, berada di wilayah udara,” beber Caine.

Anggota kru termuda dalam operasi tersebut berusia 20 tahun, dan anggota kru tertua berusia 49 tahun.

Kemungkinan Gelombang Kedua 

AS tak menutup kemungkinan melancarkan gelombang serangan kedua terhadap Venezuela, usai menangkap Presiden Nicolas Maduro.

Kata Trump, AS telah menyiapkan skenario lanjutan jika situasi berkembang ke arah yang dianggap mengancam kepentingan AS.

“Kami siap. Anda tahu, kami siap melakukan gelombang kedua. Semuanya sudah disiapkan.”

“Operasi ini begitu kuat sehingga kami tidak perlu melakukannya, tetapi kami tetap siap,” ujar Trump, seraya menambahkan kekuatan militer AS berada dalam posisi siaga penuh.

Trump juga mengeklaim Washington mengerahkan kekuatan laut besar di kawasan tersebut.

“Kami berada di luar sana dengan armada seperti yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya, dan kami siap,” tegasnya.

Trump mengaku tidak berhubungan dengan tokoh oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, saat melakukan opersasi penangkapan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

“Tidak,” jawab Trump ketika ditanya apakah dia telah berhubungan dengannya.

Kata Trump, akan sangat sulit bagi Machado menjadi pemimpin Venezuela.

“Dia tidak mendapat dukungan atau rasa hormat di dalam negerinya.”

“Dia perempuan yang sangat baik, tetapi dia tidak mendapat rasa hormat,” cetus Trump.

Amerika Bakal Kelola Venezuela 

AS akan ‘mengelola’ Venezuela setelah menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, yang kemudian diterbangkan ke New York.

“Kami akan mengelola negara itu sampai kami dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.”

“Kami tidak ingin terlibat dengan membiarkan pihak lain masuk, dan kami menghadapi situasi yang sama seperti yang telah kami alami selama bertahun-tahun terakhir.”

“Jadi, kami akan mengelola negara itu.”

“Kami sudah ada di sana sekarang.”

“Kami akan tetap ada di sana sampai transisi yang tepat dapat terjadi,” beber Trump, tanpa memberikan jangka waktu pasti berapa lama transisi kekuasaan tersebut akan berlangsung.

BACA JUGA: Venezuela Ajak Kolombia Bersatu Hadapi AS

Pejabat-pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, akan bekerja sama dengan sebuah tim untuk membantu mengelola Venezuela.

Trump tidak mengesampingkan kemungkinan keterlibatan militer AS lebih lanjut.

“Kami tidak takut menurunkan pasukan ke lapangan,” imbuhnya.

Pasukan AS akan tetap berada di wilayah tersebut setelah serangan berskala besar terhadap Venezuela dan penangkapan Maduro.

“Saat kita berdiri di sini pagi ini, pasukan kita tetap berada di wilayah itu dalam keadaan siaga tinggi, siap untuk memproyeksikan kekuatan, membela diri dan kepentingan kita di wilayah tersebut,” jelas Caine.

Ketika ditanya tentang kemungkinan kehadiran militer AS di Venezuela selama masa transisi, Trump menjawab, “Tidak, kami akan hadir di Venezuela terkait dengan minyak, karena kami sedang mengirimkan keahlian kami. Mungkin akan perlu beberapa hal, namun tidak banyak.”

Trump mengatakan dirinya berencana mengizinkan raksasa-raksasa minyak AS mengambil alih dan berinvestasi dalam infrastruktur energi Venezuela, dan mulai menghasilkan uang untuk negara.

“Yang sangat penting, embargo terhadap seluruh minyak Venezuela tetap berlaku sepenuhnya.”

“Armada Amerika tetap siaga, dan AS mempertahankan semua opsi militer hingga tuntutan AS sepenuhnya dipenuhi dan dituntaskan.”

“Kami akan mengambil sejumlah besar kekayaan dari dalam tanah.”

“Kekayaan itu akan diberikan kepada rakyat Venezuela dan orang-orang dari luar Venezuela yang dulunya berada di Venezuela.”

“Kekayaan itu juga akan dikirim ke AS sebagai ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan negara itu kepada kami,” ucap Trump.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan, AS kini menguasai masa depan Venezuela dan arah pemerintahannya.

Washington, kata Hegseth, akan menetapkan syarat atas apa yang terjadi selanjutnya.

Hegseth mengatakan, Presiden Donald Trump akan menentukan langkah lanjutan, termasuk menghentikan aliran narkoba, menguasai kembali sumber daya minyak, serta mencegah kehadiran negara asing di kawasan yang disebutnya sebagai belahan bumi AS.

Ditahan di New York

Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya ditahan di pusat penahanan di New York.

Pesawat militer yang membawa pasangan tersebut mendarat di Pangkalan Udara Garda Nasional Stewart di Newburgh, Negara Bagian New York, pada Sabtu sekitar pukul 17.00 waktu setempat, atau Minggu (4/1) pukul 05.00 WIB.

Maduro dan beberapa orang lainnya akan menghadapi sejumlah dakwaan, yakni konspirasi terorisme narkoba, konspirasi impor kokaina, kepemilikan senapan mesin dan perangkat perusak, serta konspirasi kepemilikan senapan mesin dan perangkat perusak, pada pekan depan di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Selatan New York, menurut surat dakwaan yang telah dibuka dan dirilis oleh Departemen Kehakiman AS pada Sabtu.

Wali Kota New York City Zohran Mamdani telah menelepon Presiden AS Donald Trump secara langsung pada Sabtu, untuk menyatakan penentangannya terhadap upaya penggulingan rezim yang melanggar hukum federal (Amerika Serikat) dan internasional. (*)\

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like