Amerika Tambah 3.500 Tentara di Timteng, Houthi Cawe-cawe

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Sebanyak 3.500 marinir dan pelaut Amerika Serikat (AS) tiba di Timur Tengah pada Jumat (27/3/2026).

“Pelaut dan marinir AS yang menaiki USS Tripoli (LHA 7) tiba di area tanggung jawab Komando Pusat AS pada 27 Maret,” ungkap Komando Pusat (Central Command/CENTCOM) AS di X, Sabtu (28/3/2026).

Kapal serbu amfibi kelas Amerika tersebut berfungsi sebagai kapal utama bagi Grup Siaga Amfibi Tripoli (Tripoli Amphibious Ready Group) atau Unit Ekspedisi Marinir (Marine Expeditionary Unit/MEU) ke-31, yang terdiri dari sekitar 3.500 pelaut dan marinir, serta pesawat angkut dan pesawat tempur penyerang, serta aset taktis dan serbu amfibi.

Kedatangan tersebut merupakan bagian dari peningkatan kekuatan militer AS yang lebih luas, terkait perang melawan Iran.

Portal berita daring ynetnews.com melaporkan,  pasukan amfibi memiliki kemampuan melancarkan serangan berbasis laut maupun operasi darat.

Unit semacam itu biasanya digunakan untuk pengerahan cepat, termasuk mengamankan lokasi strategis, evakuasi, atau potensi serangan terhadap target pesisir.

BACA JUGA: Kabar Pasukan Darat Amerika Bakal Invasi Iran Semakin Santer

The Wall Street Journal pada Kamis (26/3/2026) melaporkan, Pentagon sedang mempertimbangkan pengerahan hingga 10.000 pasukan darat tambahan ke Timur Tengah, untuk memberi Presiden AS Donald Trump lebih banyak opsi militer selain jalur diplomasi.

Pasukan tersebut, yang kemungkinan akan mencakup infanteri dan kendaraan lapis baja, akan bergabung dengan sekitar 5.000 marinir dan ribuan pasukan terjun payung dari Divisi Lintas Udara ke-82, yang telah dikerahkan ke daerah tersebut.

Belum jelas di mana tepatnya pasukan tersebut akan ditempatkan di Timur Tengah, tetapi mereka diperkirakan akan berada dalam jangkauan untuk menyerang Iran dan Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak penting.

Mundur dari NPT

Iran kemungkinan menarik diri Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Badan-badan pemerintah terkait, termasuk parlemen, saat ini sedang mempertimbangkan penarikan tersebut secara “mendesak,” lapor kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, Sabtu.

Di X, Wakil Teheran Malek Shariati mengatakan, “rencana darurat untuk mendukung hak nuklir” Iran memiliki tiga bidang utama.

Tiga bidang itu mencakup rencana keluar dari NPT, pencabutan UU terkait implementasi kesepakatan nuklir Iran 2014, serta dukungan pada perjanjian internasional baru dengan negara-negara sehaluan, termasuk Shanghai dan BRICK yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan, dan lainnya.

NPT adalah perjanjian internasional tahun 1968 yang bertujuan mencegah penyebaran senjata nuklir, mendorong perlucutan senjata, dan mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai.

NPT membatasi kepemilikan senjata hanya pada lima negara, yakni AS, Rusia, Inggris, Prancis, Tiongkok, dan mengikat anggota lain untuk tidak mengembangkannya.

BACA JUGA: Trump Siap Kerahkan 4.000 Pasukan Darat AS untuk Invasi Iran

Kemungkinan penarikan itu muncul di tengah siaga seluruh kawasan, sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Meskipun para analis mengatakan AS belum jelas dalam tujuannya dalam perang tersebut, Washington telah lama keberatan dengan pengayaan bahan nuklir Iran, hingga mencapai tingkat yang dapat digunakan untuk senjata nuklir.

Iran menanggapi serangan tersebut dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, yang mengakibatkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan gangguan pada pasar global dan penerbangan.

Intervensi Houthi 

Kelompok Houthi Yaman pada Sabtu mengisyaratkan kesiapan untuk melancarkan aksi militer lanjutan.

Mereka menggambarkan serangan militer mereka baru-baru ini terhadap Israel, sebagai hak yang sah untuk mengonfrontasi apa yang mereka sebut sebagai agresi brutal Amerika-Israel terhadap Iran dan kawasan yang lebih luas.

Otoritas urusan luar negeri kelompok tersebut mengatakan, intervensi mereka merupakan bagian dari strategi regional yang lebih luas yang terkait dengan Iran, Palestina, Irak, dan Lebanon.

Kelompok itu menuduh AS dan Israel mendorong “rencana Zionis yang mengancam kawasan dan bertujuan membentuk apa yang disebut sebagai Israel Raya dan Timur Tengah baru,” serta menyerukan agar negara-negara Islam bersatu.

Kelompok tersebut menegaskan, operasi militernya hanya menyasar “musuh, yaitu Israel dan Amerika,” serta menyatakan kesiapan berkoordinasi dengan negara-negara Arab dan Islam guna mencegah kesalahpahaman.

Sementara, Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengecam pengumuman Houthi tersebut, dan memperingatkan tindakan semacam itu berisiko menyeret negara tersebut ke dalam konfrontasi regional yang lebih luas.

Sebelumnya pada Sabtu, angkatan bersenjata Houthi meluncurkan rudal balistik ke apa yang mereka gambarkan sebagai “situs militer sensitif Israel” di wilayah selatan Israel, yang merupakan serangan pertama kelompok tersebut sejak Israel dan AS memulai serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari.

Houthi, yang telah menguasai Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara sejak akhir 2014, sebelumnya mendukung Iran dalam konflik selama 12 hari antara AS, Israel, dan Iran tahun lalu. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like