NarayaPost – Amerika Serikat (AS) menuntut Pemerintah Venezuela menghentikan kerja sama dengan Rusia, Cina, Iran, dan Kuba.
Laporan ABC News yang mengutip beberapa sumber menyebutkan, pemerintahan Donald Trump memberi tahu Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez, Caracas harus mematuhi tuntutan Gedung Putih, sebelum dapat memproduksi lebih banyak minyak.
Tuntutan pertama dalam daftar tersebut adalah penghentian kerja sama dengan Cina, Rusia, Iran, dan Kuba.
Tuntutan lainnya, Venezuela harus bekerja sama secara eksklusif dengan AS dalam produksi minyak, dan memberikan preferensi kepada Washington ketika menjual minyak mentah berat.
Pada 3 Januari, AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, lalu membawa mereka ke New York.
Trump mengumumkan Maduro dan Flores akan diadili karena diduga terlibat dalam narkoterorisme dan menimbulkan ancaman, termasuk bagi AS.
Serahkan 50 Juta Barel Minyak
Presiden AS Donald Trump mengumumkan, otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS.
“Saya dengan senang hati mengumumkan otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang berada di bawah sanksi kepada AS,” tulis Trump di Truth Social, Selasa (6/1/2026).
Trump berjanji uang yang diperoleh dari transaksi tersebut akan digunakan demi kepentingan rakyat kedua negara.
BACA JUGA: Diancam Trump, Presiden Venezuela Ajak Amerika Kolaborasi
“Minyak ini akan dijual sesuai harga pasar, dan uang itu akan berada di bawah kendali saya sebagai Presiden AS, untuk memastikan penggunaannya benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tambahnya.
Trump mengaku telah meminta Menteri Energi AS, Chris Wright, untuk segera melaksanakan rencana tersebut.
Menurutnya, minyak itu akan diangkut menggunakan kapal penyimpanan dan dikirim langsung ke dermaga-dermaga bongkar muat di AS.
“Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini,” ujar Trump.
Sebelumnya pada Senin (5/1/2026), Trump menyatakan perusahaan-perusahaan minyak AS sangat tertarik bekerja di Venezuela, dan siap menanamkan investasi dalam infrastruktur negara tersebut.
Harus Mau Bekerja Sama
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, operasi militer di Venezuela bertujuan untuk membatasi pendanaan narkoterorisme, serta memberi Washington kendali yang lebih besar atas sumber daya energi global.
Vance menuturkan, AS menginginkan yang terbaik bagi rakyat Venezuela serta rakyat AS.
“Siapa pun pemimpin negara itu nantinya, dia harus mau bekerja sama dengan Amerika Serikat,” ucapnya kepada Salem News Channel, Selasa (6/1/2026).
Vance menekankan, kebijakan Venezuela sebelumnya telah memungkinkan para pesaing asing mendapatkan akses ke energi murah, sementara pendapatan dari penjualan energi tersebut digunakan untuk mendanai aktivitas yang mengancam AS.
“Apa yang dilakukan presiden, dan berkat kerja seluruh tim, adalah memutus aliran uang dari energi kepada para narkoteroris.”
“Yang pada akhirnya tentu saja akan mengurangi jumlah narkoterorisme yang masuk ke Amerika Serikat,” tutur Vance.
BACA JUGA: Presiden Venezuela Nicolas Maduro Bakal Diadili di Amerika
Ia menambahkan, operasi militer tersebut diperkirakan akan menurunkan harga bensin dan energi bagi warga AS, sekaligus menyelamatkan nyawa.
“Saya pikir ini akan menyelamatkan nyawa.”
“Ini akan berarti harga bensin dan energi yang lebih murah bagi warga AS,” ulasnya.
Vance menekankan, yang paling penting operasi militer memungkinkan AS memiliki kendali yang lebih besar atas sumber daya energi yang ada di dunia.
“Yang memungkinkan kita, tentu saja, mencapai hasil ekonomi yang lebih baik bagi rakyat kita.”
“Serta menggunakan sumber daya energi tersebut sebagai alat tawar untuk mewujudkan perdamaian dan kemakmuran yang lebih besar,” paparnya.
Vance juga menyebut operasi tersebut sebagai sangat penting, dan memuji pelaksanaannya sebagai sempurna. (*)