Andrie Yunus Disiram Air Keras, Pelaku Diduga Bukan Orang Sipil

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Penyiram air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus, diduga bukan dari kalangan sipil.

Novel Baswedan, mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang pernah mengalami peristiwa serupa, juga meyakini hal yang sama.

“Karena yang biasa melakukan hal-hal begitu dengan cara yang bersama-sama, biasanya memang ada kaitan dengan militer.”

“Kalau saya dulu kan tidak bersama-sama.”

“Penyerang ini mengamati sendiri walau sebelumnya ada orang lain yang mengamati.”

“Tapi dini hari sebelum menyerang pelakunya mengamati sendiri dan mencari angle yang tepat.”

“Ini kan sekarang berbeda,” tutur Novel, Senin (16/3/2026).

Terkait rekaman kamera pengawas (CCTV), menurut Novel, motor-motor di lokasi yang berseliweran di rekaman ketika berada di Jalan Talang tersebut, merupakan para pelaku.

“Selain dari motornya Andrie itu motor para pelaku.”

“Ada yang pertama nyebrang itu adalah cara untuk bagaimana perlambat jalannya Andrie.”

“Jadi, Andrie agak ngerem, setelah motor itu nyebrang, ada yang memberi kode dengan klakson dua kali sebagai instruksi untuk menyerang,” ulas Novel.

Instruksi itu, lanjut Novel, diberikan sebagai kode penunjuk lokasi paling strategis untuk menyerang.

BACA JUGA: Kritiklah Daku Kau Aku Teror

Saat Andrie mulai melambat dan ada kode klakson, muncul satu motor yang agak cepat jalannya, dan memutar balik lalu melambat dan menyiram Andrie.

Setelah Andrie disiram, dua motor atau tiga motor yang lainnya lewat saja di dekat Andrie yang sedang berteriak-teriak kesakitan.

“Kalau dia orang yang bukan bagian dari pelaku itu, pasti setelah mendengar teriakan Andrie akan membantu.”

“Tapi orang ini malah mempercepat lajunya dan lari.”

“Jadi kalau dilihat dari itu, pelaku ini melakukan perbuatan terorganisir dan bukan spontan.”

“Ada briefing dulu sehingga perintahnya dipahami,” urai Novel.

Novel juga meyakini ada pengintaian lebih dulu terhadap korban.

Kebiasaan dari waktu dan jalan yang biasa dilalui, sudah dipelajari oleh pelaku, sehingga dicari waktu yang tepat untuk menyerang.

“Dan malam itu, Andrie sempat mengisi bahan bakar dulu di SPBU, sehingga dia mengubah rute.”

“Rute yang sebelumnya itu lewat di jalan yang sangat sepi, yang kemungkinan besar enggak ada CCTV.”

“Ketika dia mengubah rute dengan mengisi bahan bakar, itu kemudian diserang sepertinya bukan di tempat yang direncanakan, sehingga CCTV-nya banyak.”

“Mungkin blessing-nya di situ ya,” beber Novel.

Menurut Novel, pengungkapan perkara Andrie Yunus bergantung pada keberanian polisi, mengingat sudah ada arahan yang jelas dari Presiden Prabowo Subianto.

“Persoalannya sekarang berani apa tidak?”

“Tapi kalau saya lihat pemberitaan kemarin, Pak Kapolri sendiri itu bicara dengan lugas dan jelas ke publik.”

“Siapapun pelakunya, mau dia polisi, mau dia tentara, mau dia orang pangkatnya apa pun, pejabat siapapun, ini penjahat kejam dan biadab.”

“Ini lebih jahat dari membunuh.”

“Dengan bukti dan investigasi saintifik saat ini, bagi saya kalau 10 hari ini pelaku lapangan enggak diungkap, sepertinya harapannya buruk,” tuturnya.

Berpencar Setelah Menyerang

Polisi mengungkap pelaku mengendarai dua sepeda motor, dan berpencar setelah menyerang.

“Diduga empat orang terduga pelaku yang menggunakan dua sepeda motor menunggu korban di depan KFC Cikini.”

“Kemudian mengikuti korban yang bergerak menuju Jalan Diponegoro dan selanjutnya ke arah Jalan Salemba 1,” ungkap Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin, di Jakarta, Senin (16/3/2026).

Salah satu pelaku bahkan sempat mengganti pakaian, sebelum berpencar di kawasan Ragunan, Kalibata, dan Bogor.

Temuan polisi ini didasarkan rekaman CCTV yang terpasang di sejumlah titik di Jakarta.

Ada sekitar 86 kamera pengawas yang dipantau untuk mengambil rekaman terkait perkara ini.

BACA JUGA: Andrie Yunus Disiram Air Keras, Teror Terhadap Masyarakat Sipil

Sebagian besar CCTV yang terpasang itu memiliki resolusi cukup tinggi.

Status kasus ini naik dari penyelidikan ke penyidikan untuk mencari tersangka.

Andrie Yunus disiram keras pada Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Saat itu, ia baru saja selesai melakukan perekaman siniar (podcast) dengan tema Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia, di Kantor YLBHI, Jakarta Pusat.

Akibat serangan itu, Andrie mengalami luka bakar sebanyak 24%, dan masih dirawat intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like