AS Resmi Keluar WHO, Pakar Peringatkan Dampak Kesehatan Global

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost — Amerika Serikat (AS) resmi keluar dari World Health Organization (WHO) per 22 Januari 2026, sebuah keputusan yang memicu kekhawatiran pakar kesehatan dan otoritas global atas dampaknya terhadap kesiapsiagaan dan kerja sama kesehatan dunia. Keputusan ini menandai berakhirnya keanggotaan satu dari pendukung utama WHO dalam sejarahnya, yang telah menjadi tulang punggung pendanaan serta koordinasi respons terhadap wabah seperti pandemi COVID-19.

Keputusan keluar ini mengikuti perintah eksekutif dari Presiden AS, yang pertama kali dikeluarkan di awal masa jabatannya pada Januari 2025, dan resmi berjalan setelah proses pemberitahuan kepada PBB satu tahun sebelumnya. AS menjadi negara pertama dalam sejarah WHO yang meninggalkan organisasi tersebut, dengan berbagai implikasi bagi kerjasama lintas negara dalam bidang kesehatan.

BACA JUGA : Trump Bantah Ingin Caplok Greenland Demi Mineral Tanah Jarang

Alasan AS Keluar dari WHO dan Reaksi Resmi

Dalam pernyataannya, Trump menyebut alasan penarikan antara lain, “penanganan pandemi COVID-19 yang buruk” dan “krisis kesehatan global lain.” Dia juga menyatakan bahwa keanggotaan AS menimbulkan “pembayaran yang tidak adil dan memberatkan.”

“Hari ini, Amerika Serikat telah menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan membebaskan diri dari berbagai pembatasan yang ada,” bunyi pernyataan bersama Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. yang dipublikasikan pada Kamis (22/01).

Dampak Langsung bagi Global Health

Para pakar kesehatan dunia memperingatkan bahwa keputusan AS keluar WHO berpotensi melemahkan sistem kesehatan global, terutama dalam hal deteksi dan respons terhadap wabah penyakit baru. Keterlibatan AS selama puluhan tahun telah memberi kontribusi besar terhadap pengembangan kapasitas pengawasan global, serta distribusi informasi epidemiologi dan data penyakit seperti influenza hingga Ebola.

Dengan keluarnya AS, organisasi ini harus menghadapi pengurangan dana signifikan, karena AS selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar sekitar 18% dari total anggaran WHO sebelum penarikan. Kekosongan pendanaan ini diperkirakan akan memaksakan WHO untuk melakukan pengurangan staf, anggaran program kesehatan, dan kapasitas operasional di berbagai wilayah dunia.

Lebih lanjut, peringatan global mencakup potensi hilangnya akses cepat terhadap data penyakit penting yang dibagikan melalui jaringan WHO, membuat respons terhadap wabah menjadi kurang terkoordinasi dan efektif. Para pakar juga menilai bahwa tanpa AS, negara berkembang akan lebih rentan terhadap penyebaran penyakit karena sumber daya dan dukungan teknis internasional berkurang.

Isu Pembayaran iuran dan Kewajiban Keuangan

Penarikan diri AS dari WHO dinilai berlangsung tidak mulus. Pemerintah AS masih menghadapi sejumlah persoalan yang belum tuntas sejak keputusan keluar diumumkan.

Menurut WHO, AS masih memiliki tunggakan iuran lebih dari 130 juta dolar (sekitar Rp1,95 triliun). Namun, besaran dan status pembayaran tersebut masih menjadi sumber ketidakpastian dan perbedaan pandangan antara kedua pihak.

Seorang juru bicara WHO mengatakan, negara-negara anggota dijadwalkan membahas kepergian Amerika Serikat serta mekanisme penanganannya dalam rapat dewan eksekutif WHO pada Februari mendatang.

Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengakui masih ada sejumlah isu yang belum terselesaikan, termasuk potensi hilangnya akses Amerika Serikat terhadap data kesehatan dari negara lain yang selama ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini terhadap munculnya pandemi baru.

Dalam setahun terakhir, banyak pakar kesehatan global mendesak agar keputusan tersebut ditinjau ulang. Seruan serupa juga disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman kesehatan global.

Peringatan Pakar dan Komunitas Kesehatan

Sepanjang tahun 2025, sejumlah pakar kesehatan global memperingatkan bahwa penarikan diri Amerika Serikat dari WHO dapat melemahkan kemampuan AS dan WHO dalam menangani wabah penyakit dan ancaman kesehatan global.

Selama ini, perlu diketahui bahwa Amerika Serikat merupakan penyumbang dana terbesar bagi WHO. Lembaga kesehatan khusus PBB tersebut memiliki mandat untuk mengoordinasikan kesiapsiagaan menghadapi wabah penyakit, seperti mpox, Ebola, dan polio.

BACA JUGA : 10 Prospek Karier Lulusan Teknologi Pangan yang Menjanjikan

WHO juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara berpenghasilan rendah, membantu distribusi vaksin yang jumlahnya terbatas, serta menetapkan pedoman penanganan ratusan kondisi kesehatan, termasuk kesehatan mental dan kanker.

“Saya berharap Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali keputusannya dan bergabung lagi dengan WHO,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers awal bulan ini. “Penarikan diri dari WHO merupakan kerugian bagi Amerika Serikat dan juga kerugian bagi seluruh dunia.”

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like